Diskusi: Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa

Leave a comment

September 20, 2016 · 7:10 pm

What I have learned from “Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian”

Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & PencapaianSejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian by Cora Vreede-de Stuers
My rating: 3 of 5 stars

Reinventing Motherhood on Mother’s Day

Mama thank you for who I am
Thank you for everything I’m not
Forgive me for the words unsaid
And for the times I’ve forgot

Taken from a song by pop/opera quartet Il Divo, the above words are quoted by many of my friends when sending greetings to their mothers today. For one day, mothers become the center of attention.

They receive flowers, greeting cards, and other gifts from their sons and daughters, grateful for what their mother’s have done for them.

This despite the fact that Anna Jarvis, the person who actually fought to commemorate Mother’s Day, tried to prevent the day being dominated by gift giving, as she feared that the day would become too commercialized. Inspired by her own mother – also named Anna Jarvis – who 150 years ago organized a day to raise awareness of poor health conditions in her community, young Anna Jarvis’ hard work in lobbying the United States’ government finally paid off when Woodrow Wilson signed a bill recognizing Mother’s Day as a national holiday in 1914.

Since that year, the second Sunday of May has become the most popular day of the year to dine out, and telephone lines record their highest traffic, as sons and daughters everywhere take advantage of this day to honor and to express appreciation of their mothers.

In Indonesia, there are two days to honor women. Hari Kartini (April 21) which is known as Women’s Emancipation Day, and today, Dec. 22 as Mother’s Day. I cannot see any difference between the two days as the reason behind their creation is the same: Raden Ajeng Kartini and Dewi Sartika, (and I cannot ignore Cut Nyak Dien) as women and mothers, cared about community development, with an emphasis on women.

During their era, women found it difficult to develop themselves. A woman was usually destined to marry and stay at home, bearing and raising children. It wasn’t deemed necessary to be able to read, write, or get a formal education. Kartini and Sartika struggled for those rights.

Focusing on what the elder Anna Jarvis did 150 years ago, I can conclude here that the responsibility of a mother is not merely within her family but should be broadened to the community. Jarvis, is a worthy role model because she proved by her action that a mother can have a positive impact on a community.

The ideas of Jarvis (and Kartini and Sartika) were correct. Just look at the role of mothers today. Not only do they raise their children, but many forge themselves careers as well. Teachers, politicians, police officers, indeed, a whole range of professions economic reasons and good education encourage them to do that. But I don’t think they (working mothers) forget their main “profession”, a mother. And many of them confess that.

“Good children will lead to good communities,” a friend said. That statement made me wonder, why are there still some women choosing to put their career before motherhood. Are they afraid, for example, that breast-feeding will result in them becoming less attractive by causing their breasts to drop? It sounds ridiculous to me. It’s the best way to keep slim, isn’t it?

History has noted that our domestic system – raising a family, building a home (not a house), and cuisine – was created and cultivated by women, or in this context, by mothers. While men were out hunting for food, women had the task of preparing food and looking after their children.

History has also noted that, unlike men, women tend to become famous because of what they do for their community. Just look at examples like Mother Teresa, R.A. Kartini, Dewi Sartika, or even Anna Jarvis herself. They became heroines because of what they did for their community. They fought for health, education, wealth, and security for humankind; a deed that is the basis of motherhood, caring for others.

So history shows us that mothers have an important role as their motherhood can affect the community and even the nation. I’m not a mother yet. But on this Mother’s day, I suggest that we start to think beyond just sending cards and flowers to show how much we love our mother; think instead of how to develop the ideals of motherhood in ourselves.

View all my reviews

Leave a comment

Filed under History

30 Hari Jadi Murid Anakku: Sebuah Resensi

30 Hari Jadi Murid Anakku30 Hari Jadi Murid Anakku by Mel (no last name)
My rating: 4 of 5 stars

Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Kalimat yang merupakan petikan dari lagu ‘Kasih Ibu’ di atas tentu tak asing buat kita. Lagu yang mengingatkan kita pada sosok ibu, sosok yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita tanpa pamrih.

Tanpa pamrih. Benarkah? Bagaimana dengan kalimat ini:
”Ibu sudah mengandung kamu selama sembilan bukan, susah payah melahirkan kamu, dan merawat kamu hingga sebesar ini, tapi sikap kamu seperti itu pada Ibu?”

Sang ibu sepertinya lupa: bahwa seorang anak lahir bukan atas keinginannya. Ia lahir atas kehendak kedua orang tuanya. Jadi, sudah sepatutnya orang tua merawat dan membesarkannya. Jangan sampai si anak tadi menyesal telah dilahirkan, karena terus-menerus dituntut untuk membayar hutang budi yang tak pernah ia minta. Terlebih mengutuknya sebagai seorang durhaka, hanya karena sang anak memilih pandangan hidup yang tidak sejalan dengan orang tuanya.

Jika kasih sayang orang tua tanpa pamrih, harusnya kalimat di atas tidak terlontar. Meski tak bermaksud menagih jasa, harusnya orang tua membiarkan sang anak berkembang sendiri, menemukan rasa syukurnya sendiri, dan menganggapnya cukup pintar dan tahu diri untuk hal tersebut tanpa perlu diberi ungkapan seperti di atas. Proses belajar tetap berjalan seumur hidup, kan? (hal. 144-145)

Proses belajar yang seumur hidup itu rupanya tidak hanya berlaku pada anak, tapi juga orang tua. Proses pembelajaran itulah yang dituangkan Mel, penulis buku ini. Mel berhasil menjungkirbalikkan pandangan superior orang tua atas anak-anak mereka. Bahwa orang tua selalu benar, dan merekalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Di buku ini, penulis tidak mengajari teori tentang bagaimana membesarkan anak. Ia hanya membeberkan pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui bersama kedua kesatrianya, yang telah memberinya pelajaran yang begitu berharga untuk terus berbagi kehidupan bersama mereka. Pelajaran yang bisa dipetik karena ia menempatkan diri sebagai seorang manusia pembelajar, dengan anak-anaknya sendiri sebagai sang guru.

Pengalaman yang penulis bagikan di sini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya biasa saja. Tak lebih dari kegemaran si Kakak mengoleksi serangga, atau si Adik yang hobi menatap hujan. Mungkin banyak ide serupa yang ada di pikiran kita, atau bahkan telah ditulis oleh orang lain. Tapi Mel berhasil menuliskannya dengan hati. Ia tak repot dengan teori. Dengan berbesar hati penulis mengakui kekhilafannya tatkala kehilangan kesabaran menghadapi kenakalan si Adik dan mendapat teguran dari si Kakak (hal. 46), atau bagaimana ia kewalahan dalam berkompromi dengan si Kakak (hal. 52). Tapi, segala remeh temeh itu seringkali luput dari pemahaman orang tua. Mereka lebih sering menempatkan diri mereka pada anak-anak mereka. Padahal, ”Engkau bisa seperti mereka, tapi jangan coba jadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu (Kahlil Gibran).

Yang jelas, penulis tidak mengajak kita serta merta untuk melakukan perlawanan pada orang tua atas egoism kita yang juga punya posisi sebagai anak dari orang tua kita. Pembelajaran yang penulis lalui justru mengingatkannya untuk membalas budi kepada orang tua kita (hal. 53).

Mel, jika kelak aku mendapatkan buku itu, ajari aku untuk menulisinya ya 🙂

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Memoir, Uncategorized

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Tolstoy: Sebuah Review

Seorang Einstein percaya bahwa segala pikiran, ucapan, ataupun perbuatan yang dilakukan manusia akan menggerakan partikel-partikel yang ada di jagad raya menuju ‘kejadian’ yang ‘sesuai’ dengan ketiga tindakan tadi. Sementara, bagi orang yang percaya pada Tuhan punya kesimpulan yang lebih sederhana: segala pikiran, ucapan, ataupun perbuatan yang dilakukan manusia akan menuai dosa atau pahala, sementara ‘kejadian’ yang terjadi dalam hidup manusia lebih dianggap takdir yag telah digariskan oleh Tuhan.

Saya teringat lagi pada kesimpulan di atas setelah saya membaca Two Old Men, atau yang dalam versi terjemahan bahasa Indonesia diberi judul Ziarah. Elisha Bórdof dan Efím Tarásitch Shevélef, dua sahabat yang masing-masing memiliki watak berbeda, memutuskan untuk berziarah ke Yerusalem. Entah bagaimana persisnya Tuhan turut campur, atau menurut versi Einstein: variabel apa yang menyebabkan partikel-partikel di jagad raya ini berbelok dalam perjalanan mereka, sehingga Elisha dan Efím terpaksa berpisah di tengah jalan. Efím meneruskan perjalanan hingga tiba di Yerusalem dengan selamat, sementara perjalanan Elisha menuju tempat ziarah yang ia impikan terpaksa berhenti di tengah jalan, setelah ia memutuskan untuk membantu keluarga miskin yang ia temui agar dapat bertahan hidup.

Haji sosial, demikian istilah kaum Muslim bagi orang yang merelakan harta untuk berangkat haji demi membantu kaum papa. Namun Islam menjanjikan ganjaran yang setara bagi orang yang melakukan haji sosial dengan mereka yang pergi haji sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Lihatlah Elisha. Secara fisik ia memang tidak pernah menginjakan kakinya di Yerusalem. Hartanya sudah tidak cukup lagi untuk membiayai perjalanan menuju ke tempat ziarah yang ia idam-idamkan. Tapi, ziarah sosial yang ia lakukan telah mengirimkan jiwanya untuk menuntaskan ibadah itu. Efím sang sahabat melihatnya berada di urutan terdepan saat ibadah utama di Yerusalem dilakukan. Bukan itu saja, rezeki bagi Elisha tetap tak berkurang. Ia dan keluarganya tetap bisa hidup selayaknya, sama seperti sebelum Elisha berangkat berziarah.

“Rezeki manusia memang sudah dijatahkan sesuai dengan takdir manusia tersebut. Tinggal bagaimana manusia mencari, mensyukuri, dan mengelolanya.” Kalimat yang pernah diucapkan seorang Romo pada saya kembali terngiang di telinga saat membaca How Much Land Does a Man Need? Dalam cerpen yang diterjemahkan secara harfiah menjadi Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang diceritakan betapa gigih usaha seorang petani untuk memperoleh tanah, jauh dari kemampuannya untuk mengelola tanah itu. betapa hatinya tak pernah puas atas harta dan tanah yang telah dimilikinya. Ia tidak pernah merasa bahagia. Dirinya terus-terusan gelisah, takut harta miliknya diusik dan diambil orang. Bagaimana kemudian dia bisa terus menambah luas tanah yang menjadi kebanggaannya pun terus memberatkan pikiran dan hidupnya. Puaskah dirinya? Tidak. Ia justru mati dalam keadaan menderita.

Kebahagiaan manusia memang tidak dapat diukur. Lihat saja Ilyas, dalam cerpen berjudul sama dengan nama tokoh itu. ia justru baru bisa merasakan kebahagiaan setelah jatuh miskin dan menjadi seorang hamba sahaya. Kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan saat dirinya masih bergelimang harta. Atau seperti yang dialami oleh Ivan Dmitrich Aksionov, seorang saudagar kaya yang justru mengalami puncak kebahagiaan sesaat menjelang kematian, setelah berpuluh tahun mendekam dalam penjara atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan dalam God Sees the Truth, But Waits (Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu).

Masih ada beberapa cerita pendek yang dimuat dalam buku ini, yaitu Sebutir Gandum dari Tanah Tuhan, Setelah Pesta Dansa, Alyosha, Tujuh Belas Tahun Kemudian, Kebahagiaan Keluarga, Tuhan dan Manusia, serta Matinya Ivan Ilyich. Saat membaca tulisan yang ada di buku ini, saya seperti mengikuti gerakan-gerakan partikel yang dipicu oleh perbuatan masing-masing manusia, atau menyaksikan tangan Tuhan mengatur dan menyusun alur kehidupan yang dijalani manusia. Kelihaian penulis bernama asli Lev Nikolayevich Tolstoy ini dalam meramu tema sederhana yang berangkat dari kehidupan manusia sehari-hari memang sulit ditandingi hingga saat ini. Meski saat membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia saya seperti mendengarkan khotbah di gereja :D.(lits)

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Tolstoy
Paperback, 399 pages
Published 2005 by Jalasutra

Leave a comment

Filed under Anthology, Short story

In the Realm of the Never Fairies: The Secret World of Pixie Hollow – A Review

Have you ever felt a slight, shivering breeze whisper past your ear on a perfectly still day? Have you heard the faint chiming of tiny bells just before you fall asleep? Have you awoken suddenly in the darkest part of the night and seen a small dot of light dancing outside your window?

Magic might be closer than you think. For just beyond the world you see, there is another world where the are shimmers with pixie dust. There nothing is impossible and magic happens every day.

If you truly believe, clap your hands and follow that dancing dot of light. You might find yourself flying up beyond the stars, across a distant ocean, and into the heart of the most magical place of all…

Keep your ears tuned for the jingling sound of tiny bells – that is how fairies sound when they speak. Also fairies smell like cinnamon. If you smell cinnamon rolls baking when there is no kitchen nearby, you may be in the presence of a fairy.

Although fairies are indifferent to adult human – or “Clumsies” as the fairies call them – they love children, for without them they would not exist. It is children’s belief in magic alive. The moment a child stops believing, a fairy will cease to exist. The only ones who can save a fading fairy are other children, who must clap to show they believe.

Just like Clumsies, fairies have their own language. Some words of their language, for example:

Fly with you, means pleased to meet you
Fly safely, means see you later
I’d fly backward if I could, means I’m sorry
Fly again soon, means goodbye

For their language, they also their have own alphabet, that is called Leaf Lettering:

description

But fairies use this alphabet only to write a secret message for other fairies, such as this one:

description

Fairies are always related to beauty. That’s why they keep their hygiene by using these stuffs:

description

And of course, fairies need to eat. They prefer fresh fruit and vegetables whenever possible. And this is one of their menus:

description

Above all, this is the reason why I love fairies:

All fairies are born from laughter. When a baby laughs for the first time, the laugh flies out into the world. It dances and flits about, looking for its home. At last, when it has arrived in the place it belongs, it explodes, turning into a fairy…(lits)

Title: In the Realm of the Never Fairies: The Secret World of Pixie Hollow
Author: Walt Disney Company, Monique Peterson
Published : September 1st 2006 by Disney Press
ISBN: 0786847654
Hardcover, 140 pages

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Perjalanan ke Atap Dunia: Sebuah Resensi

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengomentari buku ini. Faktor kedekatan dengan proses penulisan buku ini sempat membuat saya enggan untuk melakukannya. Bagaimana tidak, di sekitar pertengahan April 2011 DM mengontak saya untuk mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan menuju Tibet. Surel ini pun kemudian menjadi korespondensi rutin yang sebagian isinya, tanpa pernah saya sangka, tertuang dalam buku ini.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan subyektifitas. Saya jadi merasa nyaman saat membacanya, mengikuti alur ceritanya. Saya merasa ikut dalam perjalanan DM; terburu-buru mengejar bis menuju bandara, kesepian saat bermalam di bandara di Bangkok, atau pun gemas setelah tahu bahwa di kereta menuju Lhasa disediakan keran air panas untuk menyeduh mie. Saya pun ikut terharu membaca adegan saat DM menjejakkan kakinya di Tibet. Sebuah impian yang lama terpendam dan akhirnya tercapai selalu mengundang haru.

Namun faktor kedekatan juga menimbulkan harapan akan hadirnya sebuah karya yang sempurna, dan itu membuat saya gatal untuk mengomentari beberapa hal dalam buku ini. Pertama, beberapa pengulangan kalimat yang membuat saya merasa bosan. Kedua, kesalahan-kesalahan kecil tapi terasa sangat mengganggu. Misalnya, kening saya langsung berkerut begitu membuka bab pertama, karena all ditulis al. Kemudian kalimat yang memuat “Gunung Himalaya” (hal.44). Duh, Himalaya itu nama pegunungan kan? Kesalahan lain adalah beberapa kali Italia ditulis menjadi Itali, dan Jeanne ditulis menjadi Jean. Padahal, di Prancis (nama yang saya sebutkan ini adalah untuk tokoh perempuan asal Prancis), Jean adalah untuk laki-laki dan Jeanne untuk perempuan.

Di luar kelebihan dan kekurangan itu, saya ingin berterima kasih pada DM. Terima kasih atas diskusi-diskusi yang menarik selama proses penulisan buku ini berlangsung, terima kasih atas kesempatan sebagai pembaca pertama buku ini, termasuk pembaca pertama untuk kata pengantarnya. Terima kasih atas kesempatan untuk memilihkan gambar untuk cover dan judul buku ini. Terima kasih atas janji yang ditepati: mengalungkan mafela khas Tibet, seperti yang tertulis di akhir buku ini. Dan terakhir, terima kasih karena telah menjadikan saya sebagai bagian dari impian DM, dan menjadikan saya sebagai bagian dari hidupnya. (lits)

3 Comments

Filed under Memoir, Travelling, Uncategorized

Titik Nol: Sebuah Resensi

Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

Jadi, inilah klimaks dari catatan perjalanan yang disusun Agustinus Wibowo. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, yang menyuguhkan gegap gempita sebuah perjalanan, Titik Nol lebih banyak berisi racauan Agustinus sebagai seorang pejalan yang telah lama pergi dari rumah.

Racauan Agustinus ini adalah khas seorang pejalan yang mengalami titik nol. Betapa perjalanan dirinya untuk melebur ke dalam diri masyarakat yang baru dia temui, untuk kemudian dia lepas lagi di tempat yang baru.

Tapi justru setelah mengalami titik nol, seseorang bisa merasa terlahir kembali. Segala beban dari masa lalu, yang terbawa dari masa lalu, bisa dilepas. Langkah menuju hari baru pun terasa lebih ringan. Seperti halnya deret bilangan yang membutuhkan angka nol: satuan membutuhkan angka nol untuk menjadi puluhan, puluhan membutuhkan angka nol baru untuk menjadi ratusan, dan seterusnya.

Mungkin itu sebabnya agama menyarankan umatnya untuk melakukan ziarah. Karena selama ziarah, seseorang dipaksa untuk melepas segala atribut yang melekat pada dirinya, atribut yang mengusung ego dan kenyamanan yang melenakan. Semuanya hilang, larut ke titik nol, membuat diri tak lebih besar dari setitik debu yang ada di gurun kehidupan. Makna yang sayangnya sering terlupakan oleh mereka yang pulang dari ziarah. Ziarah menjadi satu kebanggaan, satu atribut baru yang dianggap menambah derajat diri mereka dibanding manusia lain. Padahal, “ziarah bukan pembuktian diri, bukanlah penaklukan tantangan, bukan penyingkapan misteri. Tak ada kebanggaan pasca ziarah” (hal 52).

Terlepas dari segala pujian untuk buku ini, ada dua ganjalan kecil yang saya temukan: “Mereka pun belum pernah melihat sisi lain dari danau yang sama, karena itu tanah sama sekali terlarang” (hal. 34). Itu tanah atau tanah itu? Serta “Sang petualang mengisahkan, semenjak meninggalkan padepokan sang pertapa, betapa sedih dianya mendengar tragedi pembantaian di zaman pemerintahan Indira Gandhi, … (hal 261). Betapa sedih dianya atau sedihnya dia?  (lits)

View all my reviews

2 Comments

Filed under Memoir, Travelling