Dumbledore, Jean, dan Pink Triangle

Oleh: Rosmi Julitasari S

Dumbledore seorang gay! Pernyataan JK Rowling di Carnagie Hall Jumat malam 19 Oktober 2007 itu menjadi headline media massa Amerika Serikat akhir pekan lalu. Bahkan Washington Post membahasnya dalam tiga tulisan. Pernyataan tentang “jati diri” Albus Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts pada serial Harry Potter, itu semakin membuat kalangan Kristen militan Amerika bernafsu mengeluarkan serial Harry Potter dari kategori bacaan anak-anak, setelah isu anti-Tuhan yang mereka hembuskan sejak seri pertama, Harry Potter and The Sorceress Stone.

Homoseksual atau hubungan sejenis selalu dianggap salah dan penuh dosa. Para “pelaku” selalu ternafikan, bahkan mengalami penyiksaan. Meski saat ini sebagian kecil masyarakat bisa menerima dengan terbuka, nyatanya sebagian besar masyarakat masih menganggap isu ini tabu yang perlu dihilangkan.

Pelarangan praktik homoseksual praktis dimulai bersamaan dengan penyebaran Kristen pada awal abad pertama. Homoseksualitas dianggap sebagai tindakan tidak bermoral dan perusakan terhadap hukum Tuhan. Padahal, pada masa Yunani dan Romawi Kuno homoseksualitas mendapat tempat dalam masyarakat. Bahkan Socrates, Alexander Agung, Lord Byron, Julius Cesar, Michelangelo, ataupun Donatello tercatat pernah memiliki hubungan seks dan asmara dengan sesama jenis kelamin. Satu-satunya budaya kuno yang tercatat melarang praktik homoseksual adalah budaya Hebrew yang secara terbuka dilarang dalam Hukum Musa (Law of Moses).

Atas nama agama dan dogma, kaum homoseks seperti terlegitimasi untuk disiksa, terutama oleh pemimpin kaum fasis. Hitler beserta Nazi bercokol di tempat teratas dalam hal ini, dibandingkan dengan pemimpin fasis lain. US Memorial Holocaust mencatat, sedikitnya 100.000 orang homoseks ditangkap dan disiksa di kamp-kamp konsentrasi selama Hitler berkuasa. Dari angka itu 10.000 hingga 15.000 orang tewas karena penyiksaan atau eksperimen keji tentara Nazi.

Pembantaian terhadap kaum homoseks dan perang Hitler melawan pelacuran, yang merupakan penghancuran sistematis terhadap seksologi sekaligus merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat besar, ini diangkat FX Rudy Gunawan dalam buku Hitler vs Triangle: Perang Nazi Melawan Sifilis, Homoseks, dan Penghancuran Seksologi.

Buku setebal 150 halaman ini diawali dengan deskripsi film A Love to Hide yang menuturkan kisah cinta dan nasib seorang gay pada masa Hitler berkuasa. Jean yang homoseks mengalami penderitaan lahir batin karena “kelainan” itu, terutama saat ia ditahan di kamp konsentrasi tentara Nazi dan dikelompokkan bersama tahanan homoseks lain. Selama ditahan Jean dan rekan-rekannya diberi cap segitiga merah jambu (pink triangle) sebagai tanda mereka homo. “Tahanan berlabel segitiga merah jambu mengalami nasib yang lebih buruk dan lebih nista dari seekor anjing”. Bila salah seorang tahanan terjatuh saat menjalani kerja paksa, pada detik itu juga kepalanya ditembak oleh tentara pengawas. Ada juga tahanan yang ditelanjangi dan dibakar hidup-hidup di depan Jean. Jean sedikit “beruntung”. Ia tidak dibunuh karena ia orang Prancis, bukan Jerman dan bukan Yahudi.

Pemaparan buku ini berlanjut pada profil Hitler yang haus darah, yang secara eksplisit sudah menegaskan “niat keji” untuk menghancurkan konsep seksualitas manusia sebagai ekspresi personal dalam rangka pemenuhan eksistensi manusia seutuhnya dari sisi sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan spriritual. Doktrin-doktrin Hitler yang antifeminisme dan mengusung “kemurnian” ras Arya disinggung secara singkat dalam buku berukuran saku ini.

Ada banyak kisah mengejutkan tentang kekejaman Hitler dalam buku ini, terutama kekejaman terhadap kaum homoseks. Kisah-kisah tersebut hampir tidak pernah kita temui dalam tulisan-tulisan mengenai Hitler, tertutupi kisah kekejaman Holocaust yang semakin membetot perhatian dunia. Sayangnya penuturan kisah menyedihkan tersebut seperti luput dari tangan editor bahasa. Ada banyak istilah yang salah diartikan atau masih dalam bentuk bahasa aslinya. Namun setitik nila ini sama sekali tidak akan mengurangi ketertarikan untuk membaca buku ini, mengingat begitu banyak realita menyedihkan yang terpaparkan.

Jean kembali ke negaranya sesaat setelah kekuasaan Hitler runtuh. Namun ia meninggal hanya beberapa hari setelah berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata itu Jean berkata, “Apakah kau memilih bermata biru saat dilahirkan? Apakah kau memilih berambut pirang saat dilahirkan? Aku pun tidak memilih untuk mencintai sesama lelaki. Seperti itulah cinta. Kau tidak pernah tahu betapa berat menanggung dan merahasiakan cintamu karena masyarakat menistakan cintamu….” .

©2007 VHRmedia.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under History

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s