Jangan Abaikan Korban Penghilangan Paksa

Oleh: Yerry Nikholas Borang

Ini buku dokumen sejarah. Isinya data dan fakta. Tidak sembarangan, ini merupakan laporan Comision Nacional Sobre la Desaparicion de Personas (CONADEP atau Komisi Nasional untuk Orang Hilang Argentina) atas pelanggaran HAM berupa penghilangan manusia sepanjang kekuasaan junta militer di Argentina tahun 1970-an dan 1980-an. Setelah sekian lama menjadi pembicaraan dan rujukan tentang pengungkapan kasus-kasus penghilangan paksa di Indonesia, akhirnya buku penting ini dirilis di sini.

Bagi kebanyakan orang, Argentina tahun 1970-an dan 1980-an lebih dikenang dengan prestasi cemerlang sepakbola dan para pemainnya. Sebut saja Diego Maradona. Jutaan orang di dunia terperangah melihat kehebatan pemain gempal ini di lapangan. Menyimak Argentina melalui buku laporan ini, penulis terkenang betapa di tahun-tahun kelam itu “dunia” belum mengetahui.

CONADEP dibentuk Presiden Raúl Alfonsín pada 15 Desember 1983, sesaat setelah dilantik, untuk menyelidiki nasib desaparecidos (korban penghilangan paksa) dan pelanggaran HAM lainnya selama periode “Perang Kotor”.

Laporan penyelidikan selama berbulan-bulan itu diberi judul Nunca Más (Tak Boleh Terulang Kembali) diserahkan kepada Alfonsín pada 20 September 1984. Data-datanya berhasil membuka pintu pengadilan terhadap para pemimpin junta militer. Hingga laporan diserahkan terdapat 8.960 orang yang masih dihilangkan. Meski demikian, angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Organisasi-organisasi HAM menyepakati angka 30.000 orang. Laporan ini juga menyatakan 600 orang dihilangkan dan 458 dibunuh (oleh regu pembunuh semacam Aliansi Anti-Komunis) sebelum masa kekuasaan junta militer 1973-1976.

Metode yang digunakan telah diujicobakan dalam Operasi Independencia di Provinsi Tucuman dengan 600 laporan penculikan, sebelum pemerintah militer mengambil alih kekuasaan 24 Maret 1976 dari Isabel Peron. Metode ini berbeda dari yang dijalankan di luar Argentina. Metode ini dijalankan selama Proses Reorganisasi Nasional sebagaimana sebutan junta militer, sangat rahasia. Aktivitas penghilangan paksa dari tahun 1976 hingga 1983 dilengkapi dengan aturan operasi pelaksanaan serta bungkamnya seluruh perangkat negara yang bertangung jawab atas aksi itu. Penculikan bisa terjadi di rumah, jalan raya, tempat kerja, sekolah, atau dari instansi militer, kepolisian, bahkan pengadilan.

Di dalam buku ini kita juga melihat betapa sulit perjuangan korban melawan negara. Beberapa algojo utama semasa junta militer berkuasa dapat lolos dari jeratan hukum berkat UU Kepatuhan pada Perintah/Komando bagi Perwira-perwira Bawahan. Misalnya Sersan Satu Julio Simon alias Julian si Turki, polisi di Buenos Aires. Julian yang suka mengenakan lambang swastika dan memutar pidato Hitler saat menyiksa korban menyatakan tidak pernah menyesali perbuatannya. Bahkan, dalam wawancara dengan stasiun televisi Argentina pada 1995 dia mengatakan akan mengulangi aksinya jika diberi kesempatan.

Selain warga asli, warga Uruguay, Peru, Paraguay, Bolivia, dan Cile juga hilang di Argentina. Ironisnya para korban itu sebelumnya lari dari negara asal untuk mencari suaka politik di Argentina. Itu semua akibat operasi skala benua hasil keja sama dinas intelijen sejumlah pemerintah junta militer di benua Amerika.

Selama 1976-1978 banyak orang ditangkap dengan tuduhan bersimpati pada gerakan kiri atau mengganggu keamanan nasional. Biasanya dengan mendobrak rumah korban. Kepala korban kemudian ditutup tudung alias capucha atau capuche. Para korban ataupun siapa saja yang ditemui di rumah target kemudian dimasukkan ke sel-sel isolasi. Mereka diberi nomor dan ditahan di 340 SDC (Scret Detention Centers). Selama ditahan korban disiksa, kadang dijadikan penunjuk jalan bagi operasi penculikan berikutnya, atau jika dianggap tak berguna dieksekusi mati. Aparat negara juga membakar serta menengelamkan para korban ke laut untuk menghilangkan jejak.

ESMA adalah salah satu SDC terkenal. ESMA (Escuela de Mecanica de la Armada atau Sekolah Mekanika Angkatan Laut) adalah SDC terbesar dan terpenting sepanjang Perang Kotor di Argentina. ESMA berada di bawah kepemimpinan Ruben Jacinto Chammoro alias Dolphin atau Maximo. Kariernya meroket menjadi laksamana muda (AL). Operasi di ESMA mendapat persetujuan langsung pemimpin tertinggi Angkatan Laut Laksamana Emilio E Massera, salah seorang dari tiga serangkai pemimpin junta militer Argentina Videla-Agosti-Massera.

Bukan hanya menculik, aparat negara juga merampas seluruh barang berharga milik korban. Para korban yang dipekerjakan sementara di tangki ikan (sebutan untuk tempat para tahanan yang bersedia bekerja sama) terheran-heran karena tempat itu penuh barang berharga.

Buku ini sangat informatif. Layaknya laporan resmi, berserakan data-data penting dan bersejarah, baik kesaksian korban, pelaku, maupun lokasi SDC serta peta tempat penyiksaan.

Meski penerjemahan buku dilakukan beramai-ramai, alur dan bahasa penerjemahan mudah ditangkap. Dengan segala isinya, buku ini tidak hanya wajib menghiasi rak-rak perpustakaan LSM, namun semestinya menjadi bacaan penting bagi generasi muda Indonesia. Jika banyak pihak menyatakan langkah-langkah pengungkapan pelanggaran HAM di tanah air seperti pembantaian Talangsari (Lampung), 27 Juli 1996, Tanjung Priok, Aceh, dan Papua berjalan lambat, penyebarluasan buku semacam Nunca Mas ini menjadi salah satu terobosan besar. Intinya, pelaku dan pemberi perintah mesti dibongkar dan diungkap seluas-luasnya agar penghilangan paksa tidak terulang lagi.

Begitulah, mengutip pidato Jenderal Santiago Omar Riveros selaku delegasi Argentina dalam pidato perpisahan forum Pertahanan Junta Inter-Amerika, 24 Januari 1980, “Kami melancarkan perang ini dengan doktrin yang kami gengam erat di tangan, dengan perintah-perintah tertulis atas setiap komando.” (E4)

Nunca Mas

Laporan Final CONADEP:

Argentina Pascajunta Militer (1976-1983)

473 Hal.

Penerbit People’ Empowerment Consortium (PEC)

Cetakan Pertama, Agustus 2007

Penerjemah: Suma Mihardja, Ken B. Kusumandaru, Michael D. Pambrastho, Lilik H.S.

©2007 VHRmedia.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Human Rights

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s