Revolusioner Kiri dari Lahan Subur Keislaman

Oleh: Rosmi Julitasari S

Kami sering ditanya: apa Anda seorang muslim – ya atau tidak? Apa Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kami menjawabnya? Ya, jawab saya, saat saya berdiri di hadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim. Namun ketika saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang muslim. Karena Tuhan berkata bahwa ada banyak iblis berkeliaran di antara manusia!

Kalimat tersebut diucapkan Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional 12 November 1922. Pidatonya pada kongres ke-4 tersebut masih menyoroti isu-isu yang telah dirancang Lenin, dan diadopsi pada Kongres Komunis ke-2, yang menekankan perlunya “memperjuangkan Pan-Islamisme”.

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Namanya lebih dikenal sebagai tokoh gerakan kiri Indonesia (meski tenggelam oleh nama DN Aidit) ketimbang tokoh pergerakan nasional Indonesia. Hal ini disebabkan perannya dalam mendirikan Partai Komunis Indonesia, yang di masa kepemimpinan Soeharto menjadi “barang haram”.

Meski gelar pahlawan nasional yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963 tidak pernah dihapus oleh pemerintah Orde Baru, namanya dihapus dari buku pelajaran sejarah di sekolah. Bagi orang muda yang awam sejarah, nama Tan Malaka bisa jadi sama “jahatnya” dengan Aidit yang melakukan kudeta, karena sama-sama menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia. Kesan ini diperkuat Encyclopedia Britanica yang mendefinisikan Tan Malaka sebagai “pemimpin Komunis Indonesia yang bersaing dengan Soekarno untuk mengontrol gerakan nasionalis Indonesia”.

Perlakuan tidak adil pada Tan Malaka oleh pemerintah Orde Baru tidak berhenti begitu saja. Rupanya mereka berusaha menghapus nama Tan Malaka dalam sejarah Indonesia. Bukunya yang terkenal Dari Penjara ke Penjara, otobiografi yang ia tulis mengenai pengalamannya selama dipenjara oleh pemerintah Soekarno dalam kurun waktu 1947-1948, hingga tesis mengenai Tan Malaka yang ditulis peneliti asal Belanda Harry Poeze berjudul “Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949″ dibredel oleh Kejaksaan Agung, meski telah mencatat penjualan hingga 2.700 eksemplar.

Ketidakadilan itu pula yang menyebabkan pemberontakan kaum kiri di Sumatera Barat terasa senyap dalam sejarah. Satu-satunya pemberontakan yang dilakukan rakyat Sumatera Barat yang dikenang bangsa ini adalah Perang Paderi, yang dimotori Tuanku Imam Bonjol. Padahal, ada beberapa pemberontakan kaum kiri di ranah itu. Pemberontakan pertama terjadi pada 1927, yang dikenal dengan Pemberontakan Silungkang.

Gerakan kiri di Minang saat ini sering ditampik karena sebagian besar masyarakatnya masih memegang teguh prinsip Islam. Padahal, pengaruh revisionis Islam di Asia Barat dan pergerakan di Jawa membuktikan munculnya gerakan kiri radikal di Minangkabau yang berpangkal di sekolah menengah agama di Padang Panjang, Padang, dan Bukittinggi. H Agus Salim bahkan berargumen bahwa gerakan kiri tersebut bukanlah gerakan komunis, melainkan gerakan kaum radikal Islam yang bersatu dan memberi sokongan kepada kaum komunis yang pengaruhnya tidak penting di masa itu.

Usaha pelurusan sejarah ini yang mungkin mendorong Zulhasril Nasir menulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minang. Secara kronologis, Nasir berhasil merangkai latar belakang budaya Minangkabau dan gerakan kiri yang dilakukan Tan Malaka, mulai dari budaya merantau pemuda Minangkabau hingga aristokrasi palsu yang praktiknya masih dilakukan hingga saat ini oleh orang Minangkabau.

Judul: Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau

Penulis: Zulhasril Nasir

Penerbit: Ombak, 2007

xxii, 223 hal

ISBN: 978-979-3472-74-x

©2007 VHRmedia.com

Advertisements

5 Comments

Filed under History

5 responses to “Revolusioner Kiri dari Lahan Subur Keislaman

  1. Pak saya mau tanya maksud dengan : aristokrasi palsu yang praktiknya masih dilakukan hingga saat ini oleh orang Minangkabau pada paragraf terakhir ? Terima kasih atas jawabannya.

  2. lita

    Aulia, terima kash atas responnya. Tapi ada yang harus saya luruskan dulu di sini. Saya seorang perempuan, jadi tak pantas dipanggil “Pak” 😀

    Aristokrasi palsu di kalangan orang Minang, mulai merebak tatkala Belanda mulai berhasil masuk ke wilayah Minangkabau yang sebetulnya diatur oleh adat yang begitu demokratis. Belanda berusaha menciptakan aristokrasi ala kerajaan Jawa dengan dikeluarkannya “Plakat Panjang” pada Oktober 1833 dengan tujuan memecah belah masyarakat. Bagaimana sebetulnya penyelenggaraan pemerintahan di Nagari Minang? Silakan anda baca sendiri di buku ini…

    trims

  3. adittya

    bagus bangaet

  4. komang

    Tan Malaka adalah Pahlawan Pergerakan Nasional Republik Indonesia. Namanya sejajar dengan Sukarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir.

  5. komang

    Saya bingung, kok takut bangaet ngakuin jasa Tan Malaka ? Kenapa sih kalau dia komunis ? Komunis tu apa ? Label doangan kan. Kurasa, Tan Malaka patut dihormati selaku Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia. Kaliber pemikirannya di Madilog, ngga kalah sama faylasuf Bule en Arabian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s