Semua Agama Menuju Keselamatan Hakiki

Oleh: Kurniawan Tri Yunanto

Konflik antarumat beragama sering terjadi di penjuru negeri ini. Konflik berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) ini umumnya bersifat sensitif dan tak jarang mengakibatkan banyak korban jiwa. Untuk mengembangkan ketenteraman dan kedamaian yang terkandung dalam agama bisa menggunakan pendekatan khazanah budaya tradisional untuk memperkuat perdamaian dan saling pengertian antarumat beragama.

Penulis buku ini, pendeta Dr Eben Nuban Timo, mengambil sebuah mitos dari tradisi Timor dan menafsirkannya secara asosiatif. Sehingga bisa memberikan berbagai inspirasi untuk mengerti aspek-aspek tertentu dalam dalam sebuah agama.

Pendeta Eben mengawali buku ini dengan ‘cerita dari Timor’. Cerita berbasis mitos ini mengisahkan dua perempuan bersaudara. Mereka masih muda dan belum bersuami. Suatu ketika keduanya berharap ada seorang laki-laki di dekat mereka. Mereka berjanji jika harapan itu terwujud, lelaki itu akan dijadikan suami. Tanpa sadar ternyata saat itu ada Musang di dekat mereka. Maka menikahlah kedua gadis itu dengan sang Musang.

Suatu hari Musang pulang ke rumahnya dan meminta kedua istrinya menyusul. Musang berpesan, jika melihat jalan bercabang pilih saja yang ada kotoran berbau harum, itulah jalan yang benar menuju rumahnya. Sedangkan kotaran yang bau adalah jalan menuju rumah Kera yang selalu berbuat jahat.

Tanpa disadari Raja Kera mendengar pembicaraan tersebut. Dia pun memindahkan kotorannya di jalan yang biasa dilalui Musang. Kedua istri Musang yang tidak mengetahui hal itu pun akhirnya tersesat di rumah Kera. Mereka diperlakukan tidak hormat oleh Raja Kera. Ketika dipaksa tidur satu ranjang dengan Kera, kedua istri Musang itu berhasil melarikan diri. Mereka kemudian menceritakan hal sebenarnya kepada Musang. Mengetahui kedua istrinya diperlakukan tidak hormat, Musang kecewa. Akhirnya si Kera mati setelah kepalanya dilempari batu oleh istri Musang.

Menurut cerita itu dijelaskan bahwa berkeluarga merupakan impian dan harapan semua orang. Keluarga yang semua anggotanya hanya perempuan dianggap menyedihkan. Sementara sudah digariskan secara kodrati bahwa di mana ada perempuan di situ harus ada laki-laki. Begitu juga sebaliknya. Kejamakan bukanlah untuk dipertentangkan, tapi untuk dipadukan dan hidup akan menjadi indah karena perpaduan itu. Namun tidak sedikit masyarakat yang melihat sebelah mata terhadap orang yang memilih membujang.

Dalam konteks itu, perempuan yang tidak bersuami selalu dianggap mendapat malapetaka. Itulah sebabnya perempuan Israel wajib menikah dengan adik atau kerabat laki-laki terdekat suaminya yang meninggal. Dalam buku setebal 260 halaman ini, jelas dinyatakan mitos merupakan fondasi realitas masa kini. Dalam mitos, bisa ditelusuri dan ditemukan asal-usul yang melatarbelakangi suatu sikap atau perbuatan yang dilakukan pada masa kini. Karena itulah mitos bisa disebut sebagai primordial truth. Paulus menjadikan peristiwa masa lalu sebagai dasar nasihat etis untuk kehidupan Kristen sepanjang abad.

Buku ini juga menceritakan perkawinan kosmis, di mana ada keyakinan persekutuan yang ilahi dengan yang insani. Dunia yang di atas dan mereka yang ada di situ harus menjadi berkat bagi mereka yang ada di bawahnya. Manusia diangkat Tuhan untuk melayani, menjadi pelindung, penyelamat, dan pemberi suka cita, serta kesejahteraan pada orang-orang yang dipimpin. Kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban jika hanya menindas dan menyuburkan ketidakadilan. Sama halnya dengan cerita Kera yang selalu berbuat negatif. Akibat yang dipetik pun sesuatu yang tidak bermanfaat.

Dijelaskan, Allah adalah suami dan Israel adalah istri. Hosea adalah nabi pertama yang memperkenalkan gagasan ini. Allah yang mengambil inisiatif. Dia bertindak untuk memperistrikan Israel. Ini hampir mirip dengan cerita Musang yang mengawini kedua perempuan itu.

Buku ini juga menyatakan ada beberapa dasar yang melatarbelakangi Allah memperistri Israel. Karena kasih itulah yang melatarbelakangi Allah menjadikan Israel sebagai istri. Allah berjanji sehidup semati menepati perjanjian tersebut. Unsur inilah yang dijadikan pegangan dasar bagi Israel.

Menurut buku ini, sebagai suami, Allah memiliki dua istri. Pernyataan ini memang sebuah gambaran yang riskan. Tapi, menurut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mitra Allah dalam membawa terang bagi bangsa-bangsa bukan hanya satu. Kaum yang disatukan Allah dengan diri-Nya ternyata dua, yaitu Israel dan Yehuda. Sementara, menurut Surat Roma 9-11 yang merupakan puncak teologi Paulus mengenai kemitraan Israel dan Gereja, dinyatakan Allah bekerja untuk menyelamatkan dunia. Israel ada sebagai saksi dari karya penyelematan Allah untuk dunia. Ia mendahului kebangkitan Kristus untuk mempersiapkan kelahiran Gereja. Israel dan Gereja keluar dari satu rahim dan mereka adalah kakak beradik. Keduanya lahir karena peristiwa kebangkitan. Israel yang pertama dan Gereja yang berikutnya.

Sekali lagi hal ini hampir mirip dengan cerita dari Timor yang menyatakan Musang memiliki dua mitra, yaitu kedua istrinya yang bersaudara. Penutur cerita rakyat dari Timor juga mengenal hikayat ini. Ia berkata, Kkedua perempuan yang diperistri Musang merupakan saudara.” Mereka berasal dari satu ibu, meski si penutur tidak mengetahui nama si ibu. Sementara Alkitab menyatakan si ibu adalah Allah. Dan Israel dan Gereja datang dari Allah di dalam Kristus.

Dalam perjalanannya, Israel dan Gereja memilih beragama daripada beriman. Hal ini berbeda dari keinginan Allah yang ingin beriman. Mengacu pada cerita dari Timor, Israel dan Gereja lebih memilih agama yang direkayasa Raja Kera dan yang cocok dengan imajinasi mereka. Agama yang diperkenalkan Musang sama sekali tidak mendapat perhatian. Dengan kata lain, kedua perempuan itu lebih terpikat pada agama manusia. Mereka mengabaikan agama Allah. Akibatnya, keduanya tersesat karena mengubah iman menjadi agama. Israel tidak melihat Gereja sebagai tujuan kesaksiannya, dan ia menolak untuk masuk Gereja. Sementara kesaksian Gereja akan Yesus Kristus dilepaskan dari konteks ke-Yahudi-annya. Gereja memproklamasikan Yesus sebagai manusia yang ideal.

Sementara menurut Paus Pius XII, “Semua agama, karena anugerah Allah, dapat masuk surga.” Menurutnya, semua agama Allah adalah saluran keselamatan. Ada perspektif baru melalui cerita dari Timor untuk memperkaya pemahaman klasik mengenai Kristus dan Gereja. Cerita ini mengekspresikan kepercayaan masyarakat bahwa semua agama sama dan setara. Di dalam tiap agama ada kerinduan dan pengetahuan akan nilai dan paham tentang yang kudus. Tetapi dalam agama juga terdapat dosa atau keterasingan.

Jalan pada keselamatan hanya satu, tetapi yang berada di jalan itu lebih dari satu. Menurut cerita dari Timor, hanya ada satu jalan menuju rumah sang suami. Meski ada jalan lain, di situ diceritakan hanya berisi kepalsuan. Dan jalan menuju kebahagiaan itu telah dirintis oleh Musang, sampai akhirnya ia mengundang kedua istrinya menuju jalan tersebut.

Meski jalan Musang itu menjadi jalan Israel dan Gereja, bukan berarti menjadi milik eksklusif, mengingat kaum Buddha, Islam, dan Tao Te Ching juga mengenal jalan itu. Lantas apakah semua agama yang berada di jalan itu memperoleh keselamatan? Menurut cerita dari Timor yang dikupas dalam buku ini, hal itu bukan urusan penganut agama, melainkan urusan Musang. Hanya Yesus Kristus yang menghakimi apakah orang yang masuk diselamatkan atau tidak. Karena keyakinan ini tidak hanya ada pada orang Kristen, Nabi Muhammad SAW juga menyatakan Nabi Isa (Yesus Kristus) yang akan datang menghakimi manusia di akhir zaman.

Jadi, alangkah baiknya jika setiap agama dan pemeluknya tidak saling menghakimi atau memaksakan agama lain. Sebuah kebodohan jika agama-agama saling menghalangi dan menyerang. Seharusnya tiap agama saling menghormati dan menerima. Sikap yang harus dikembangkan adalah dialog dan membangun kemitraan dengan agama lain dalam rangka menuju dunia baru yang penuh damai tanpa memandang agama asalnya.

©2007 VHRmedia.com

Advertisements

2 Comments

Filed under Philosophy

2 responses to “Semua Agama Menuju Keselamatan Hakiki

  1. Saya sependapat bahwa agama tidak boleh menghalangi agama lain dan saling serang. Saya kebetulan memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan kalangan gereja dan pemuka agama lainnya. Hanya saja ada satu hal yang masih menjadi ganjalan dan sumber konflik antara Islam dan Kristen, yaitu isu tentang kristenisasi. Dari informasi yang sangat bisa dipercaya -karena sumbernya adalah para pendeta moderat yang berwawasan kebangsaan-, di beberapa kelompok kristen terutama yang berafiliasi ke William Gibber -Amerika- masih ada program untuk mengkristenkan ummat lain, bahkan mengkristenkan ummat kristen sendiri. Bahkan, William Gibber memiliki obsesi untuk mengkristenkan dunia. Sasaran utamanya adalah India, China dan Indonesia karena memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Sebagai muslim tentu saja saya keberatan dengan program-program seperti ini karena dapat memicu konflik antar agama. Anda mungkin sudah mendengar bahwa pada tanggal 15 Desember sekarang akan ada sebuah tayangan di stasiun RCTI berdurasi 2 jam tanpa iklan, karena sudah dibloking jam siarnya. Hal ini yang saya kira merupakan bentuk lain dari provokasi untuk membenturkan agama-agama di Indonesia. Ternyata penolakan terhadap gaya-gaya fundamentaslisme kristen bukan muncul dari kalangan di luar kristen, tapi bahkan dari kalangan internal kristen sendiri. Saya bersyukur masih memiliki kawan-kawan yang mempunyai visi yang sama dalam hal membangun bangsa sekalipun berbeda agama. Kalau Anda mempunyai informasi tentang William Gibber, tolong dikirim ke alamat email saya. Terimakasih, salam hormat dari saya, Ram-Ram Muhammad

  2. margareta

    bagaimana pandangan islam mengenai keselamatan, apakah itu datangnya dari masing2 pribadi or bagaimana???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s