Tiuri, Sang Kesatria Sejati

Oleh: Lita Soerjadinata

Alkisah hiduplah Tiuri, calon kesatria Kerajaan Baginda Dagonaut. Malam itu Tiuri musti melewati cobaan sebelum dilantik menjadi kesatria. Ia, bersama calon kesatria lain, menghabiskan malam dengan berjaga di sebuah kapel kecil di luar tembok kota. Sambil berpuasa, tidak makan tidak minum, mereka harus berlutut dan merenungkan amanat besar yang menanti mereka. Mereka pantang tidur, berbicara, dan mendengarkan dunia luar hingga pukul tujuh pagi saat mereka dibawa menghadap raja. Saat bertirakat, Tiuri mendengar orang berbisik memohon pertolongan. Tiuri  yakin calon kesatria yang lain pun mendengar permintaan tolong itu. Entah  mengapa, hanya ia yang tergerak. Tiuri kemudian membuka pintu kapel (yang jelas melanggar aturan bertirakat) dan keluar mengikuti orang yang meminta tolong ke tempat tersembunyi. Permintaan tolong dari orang misterius tersebut terkesan mudah: mengantarkan sepucuk surat.

Pertolongan yang harus dilakukan Tiuri sederhana saja. Tiuri hanya perlu mencari Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, dan menyerahkan surat yang dititipkan orang misterius itu padanya. Dengan teori tugas tersebut hanya memerlukan waktu beberapa jam. Tiuri dapat kembali ke kapel sebelum pagi hari, dan dapat mengikuti upacara pelantikan kesatria baru keesokan paginya.

Nyatanya, tidak semudah itu. Tiuri mendapati Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih dalam keadaan terluka dan sekarat. Sesaat sebelum ia mati, sang kesatria meminta Tiuri untuk menggantikannya, menyerahkan surat yang ada pada Tiuri pada Raja Unauwen. Tiuri tidak dapat kembali ke kapel tempat ia bertirakat. Bahkan ia diburu oleh dua pihak. Pihak yang telah melukai dan membunuh Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, serta pihak berwajib yang menuduh Tiuri telah membunuh sang kesatria.

Kemudian, dimulailah perjalanan panjang Tiuri, menuju Kerajaan Baginda Unauwen. Bila negeri Raja Dagonaut terletak di timur Pegunungan Raya, maka negeri Raja Unauwen berada di barat Pegunungan Raya. Untuk sampai ke negeri Raja Unauwen, Tiuri harus pergi melewati hutan, menyusuri Begawan (sungai besar) Biru hingga ke mata air, menemui seorang petapa untuk dapat melewati pegunungan, lalu  menyeberangi Begawan Pelangi dan Begawan Putih, hingga tiba di negeri Raja Unauwen. Akhir cerita tentu dapat ditebak. Tiuri berhasil melewati berbagai rintangan, dan membacakan surat yang isinya begitu rahasia di hadapan Raja Unauwen. Surat dibacakan karena dalam perjalanan Tiuri terpaksa menghapal isi surat rahasia itu untuk kemudian dibakar saat Tiuri terjepit dan hampir saja tertangkap oleh musuh.

Inti dari cerita buku ini adalah sebuah konflik. Raja Unauwen memiliki sepasang putra kembar. Sang kakak serta merta dinobatkan sebagai putera mahkota, sementara sang adik tidak terima. Sang adik kemudian menaklukan wilayah Eviellan dan mendirikan kerajaan di sana, serta mengobarkan perang terhadap negeri Raja Unauwen. Penguasa Negeri Eviellan kemudian melakukan tipu muslihat dengan mengirimkan kabar perdamaian dengan Baginda Raja Unauwen. Apabila telah berhasil merebut kepercayaan mereka, Penguasa Negeri Eviellan akan segera merebut kekuasaan Negeri Unauwen. Surat yang dibawa Tiuri, berisikan kabar mengenai tipu muslihat itu. Makanya, Tiuri terus diburu oleh pengikut Penguasa Negeri Eviellan. Tiuri harus mati sebelum bisa menghadap Baginda Raja Unauwen.

Ada begitu banyak tokoh dalam cerita klasik yang dinobatkan sebagai cerita anak terbaik di Belanda periode 1955-2004 ini. Selain Tiuri, ada beberapa kesatria yang sulit dihapal namanya. Mereka, yang tadinya menuduh Tiuri telah membunuh Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, melindungi Tiuri dari serangan jahat Pusu Pengendara Merah – pengikut Penguasa Negeri Eviellan. Adapula Menaures sang petapa, yang ternyata adalah adik Baginda Raja Unauwen. Lantas ada Piak, remaja yang membantu dan melayani Menaures. Piak kemudian ikut dengan Tiuri, dari menyeberangi pegunungan hingga tiba di negeri Baginda Raja Unauwen. Di akhir cerita, Piak kemudian menjadi pengikut setia Tiuri. – Entah mengapa, dalam cerita khayalan asal Eropa tokoh utama laki-laki selalu disertai seorang pengikut setia. Sebut saja Frodo dalam trilogi Lord of the Rings, yang memiliki pengikut setia bernama Sam. Atau Harry Potter, yang memiliki Ron Weasley – . Tentu saja ada tokoh jahat. Namanya Slugor. Ia ditugaskan oleh Penguasa Negeri Eviellan untuk membuntuti dan membunuh Tiuri.

Tiuri, putra seorang kesatria pengabdi Raja Dagonaut yang juga bernama Tiuri, tentu saja resah. Ia gagal menjadi kesatria justru sesaat sebelum ia dilantik. Namun, Tiuri telah menjadi kesatria bahkan sebelum dilantik menjadi kesatria. Ia telah dengan berani mengambil pilihan, yang ternyata begitu berarti bagi banyak orang. Atas pertimbangan tersebut, Baginda Raja Dagonaut melantik Tiuri, sehari setelah Tiuri pulang ke Negeri Dagonaut.

Ada begitu banyak pesan moral dalam cerita ini. Tiuri, yang lebih memilih untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan ketimbang memperoleh pangkat dan gelar kehormatan. Menaures sang Petapa, memilih untuk tinggal di pegunungan, hidup bersahaja jauh dari segala puja puji dan kemewahan dalam istana Baginda Raja Unauwen. Piak, pengusung persahabatan sejati yang begitu tulus.

Saratnya pesan moral yang termuat dalam buku ini, bisa jadi membuat “Surat untuk Raja” mendapat Prijs voor het Beste Kinderboek voor het Jaar 1963 (Penghargaan Buku Anak-anak Terbaik Tahun 1963) dan penghargaan Griffel der Griffels 1955-2004 (Kalam di antara Kalam 1955-2004, buku anak-anak terbaik sepanjang periode 1955-2004). Sang penulis, Tonke Dragt dianugerahkan Staatsprijs voor Jeugdliteratuur (Hadiah Negara untuk Bidang Kesusastraan Remaja) di tahun 1976.

Bila dikaitkan dengan keadaan Indonesia saat ini, sepertinya akan banyak yang tersindir. Orang-orang berlomba memperoleh predikat ataupun gelar tertentu, demi prestige di masyarakat. Padahal, ia belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk menyandangnya. Hanya ada segelintir orang yang memilih menjadi Menaures – menjadi pendeta ketimbang penguasa. Karena kaum ulama pun, seperti berlomba memajang diri untuk bisa mereguk kekuasaan. Jarang sekali ada yang rela untuk dijadikan nomor dua, maunya berkuasa – seperti putra kedua Baginda Raja Unauwen.

Saya pun jadi berandai-andai. Seandainya Tiuri yang diserahkan Supersemar, apakah serta merta ia menunjuk dirinya sebagai penguasa, ataukah akan sama dengan cerita dalam buku ini: menyerahkan surat itu kepada “raja” yang sebenarnya?

Mungkin cerita setebal 518 halaman ini akan lebih nyaman dibaca dalam bahasa aslinya, atau versi dalam bahasa Inggris. Penterjemah sepertinya berusaha keras dalam menemukan istilah yang tepat untuk menggambarkan definisi yang ada dalam cerita asli, dan itu malah membuat pembaca perlu mengerutkan dahi untuk memahaminya – bahkan pembaca dewasa sekalipun, padahal ini buku anak-anak. Ketimbang menterjemahkan, akan lebih baik bila cerita ini disadur dan menggunakan bahasa anak-anak. Sayang sekali cerita seindah ini, dengan alur cerita yang begitu kuat, jadi sulit dinikmati hanya karena sang penterjemah kurang bisa berimprovisasi dengan bahasa Indonesia.(lits)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Children Book

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s