Hikayat Inlander Melawan Kapitalisme

Oleh: Lita Soerjadinata

Kapitalis itu berasal dari kata kapital atau modal. Kapitalis adalah orang-orang yang memiliki modal. Mereka memiliki prinsip, dengan modal sekecil mungkin, mereka mencoba mencari keuntungan sebesar-besarnya. Karena prinsip yang mereka anut itulah, pada praktiknya mereka sering memeras tenaga para buruh untuk menghasilkan provit melimpah tanpa imbalan yang memadai. Hal itulah yang terjadi pada pengusaha-pengusaha Eropa. Mereka membuat pabrik-pabrik, mempekerjakan para pribumi dengan gaji yang sangat rendah. Mereka menjadi sangat kaya, akan tetapi para buruh itu senantiasa miskin. Padahal, tanpa mereka, tidak mungkin pabrik itu bisa menghasilkan keuntungan, bukan?”

Depresi hebat yang menghantam perekonomian dunia pada tahun 1930-an benar-benar menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Bahkan, Indonesia, yang saat itu masih menjadi jajahan Belanda terkena imbas. Malaise benar-benar menjadi momok mengerikan! Turunnya bursa saham di Amerika Serikat pada 29 Otober 1929, yang lebih dikenal dengan peristiwa Black Tuesday, menandai resesi ekonomi tersebut. Dunia industri terpukul. Tak sedikit pabrik gulung tikar. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, menyebabkan hampir sejuta orang di dunia menjadi pengangguran. Pertanian merana akibat merosotnya harga-harga hasil panen 40% hingga 60%.

Malaise kemudian dijadikan permakluman oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memaksa para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik milik orang Belanda di tanah jajahan mereka – Hindia Belanda – untuk bekerja tanpa jaminan apa-apa, dengan upah yang begitu minim. Politik etis yang dijalankan Van de Venter, atas desakan kaum liberal di Eropa, hanya dijalankan setengah hati. Gaji buruh hanya 45 sen sehari, berbanding tajam dengan para komisaris pemilik pabrik yang notabene kaum penjajah. Seorang pribumi pun, kendati memiliki saham yang cukup besar atas sebuah pabrik, hanya ditempatkan sebagai asisten administratur.

Kenyataan pahit tersebut harus dihadapi Raden Mas Rangga Puruhita. Delapan tahun ia habiskan untuk menempuh studi di Universitas Leiden, Belanda, hingga memperoleh gelar doktorandus di bidang ekonomi dengan predikat lulusan terbaik. Prestasi yang cukup mencengangkan saat itu, terlebih diperoleh oleh seorang inlander, warga kelas tiga yang derajatnya hanya sedikit di atas binatang, betapapun tingginya gelar kebangsawanan yang dimiliki.

Dengan latar belakang budaya keraton Jawa yang kental, buku De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme ini mengisahkan penderitaan kaum inlander pada masa penjajahan Belanda. Mengambil seting tahun 1930-an, dengan pabrik gula De Winst serta perkebunan tebu yang mendukungnya sebagai pusat permasalahan, novel ini menguraikan masa awal kebangkitan kaum muda Hindia Belanda untuk melawan penjajahan, serta dimulainya pemikiran untuk menentang kapitalisme, yang saat itu terwakilkan oleh pemerintah kolonialisme Belanda. Pemikiran-pemikiran akan kesadaran hak atas kepemilikan tanah, pendidikan, dan kehidupan yang jauh lebih baik di atas tanah air sendiri, banyak mencuat di sela-sela polemik pertentangan antara keteguhan dalam memegang tradisi dan modernisasi.

Berbagai karakter digambarkan dalam novel ini. Raden Rangga yang lebih terkesan safety player, Jatmiko dan Rara Sekar yang anarkis, Everdine Kareen Spinoza yang liberal, serta Eyang Haji dan Raden Suryanegara yang mewakili tokoh tua. Dan, untuk meramaikan isi cerita, konflik percintaan Raden Rangga – Kareen Spinoza – Rara Sekar – Jatmiko – Jan Thijsse pun dihadirkan. Namun bukan percintaan itu yang menjadi pokok cerita. Kesadaran untuk menggalangkan kekuatan ekonomi berbasis kerakyatan, dan hak untuk menentukan nasib di atas tanah sendiri, adalah isu utama yang dikemukakan Afifah Afra, sang penulis.

Pengemasan buku ini terbilang rapi, dengan pilihan desain sampul yang apik, juga dekorasi yang menghias tiap-tiap halamannya. Sayang, kesalahan ketik dan pengejaan yang acap kali muncul terasa mengganggu saat membaca buku ini. Penulisan déjà vu yang salah – di buku ini ditulis de javu – (déjà vu adalah istilah dalam bahasa Prancis yang menggambarkan satu situasi atau keadaan yang seolah-olah pernah dialami sebelumnya; déjà = sudah/telah; vu = turunan dari kata voir = melihat) serta Shakespeare yang secara konsisten ditulis Shakespiere berulang kali muncul. Atau mungkin, ada penulis Hamlet selain Shakespeare yang dikenal Afifah Afra? Entahlah. (E4)

Judul Buku: De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme

Penulis: Afifah Afra

Penerbit: Afra Publishing

Tahun Terbit: 2008

ISBN: 978-979- 1397-26-1

Paginasi: 336 p.; 20,5 cm

©2008 VHRmedia.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, History

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s