Pesan Berani dari Nirbaya

Oleh: Kurniawan Tri Yunanto

Banyak pihak mengatakan media massa kita saat ini kebablasan. Banyak pula penguasa, pejabat, ataupun pengusaha merasa namanya dicemarkan akibat pemberitaan media massa yang “kebabalasan”. Akibatnya tidak sedikit wartawan menghadapi berbagai risiko akibat tulisannya, dari dilaporkan polisi, dibawa ke pengadilan, hingga pembunuhan. Udin, wartawan Berita Nasional, yang dibunuh akibat pemberitaannya adalah salah satu contoh kasus media massa di zaman Orde Baru.

Jauh sebelum itu di negeri ini pernah hidup Indonesia Raya. Surat kabar pimpinan Mochtar Lubis ini cukup punya nama. Publik suka pada sikap koran ini yang memilih bahasa lugas, sederhana, mudah dimengerti, namun tidak meninggalkan fungsi utama media. Sebagai pilar keempat demokrasi, koran ini cukup kritis menyikapi kebijakan penguasa yang tidak pro kepentingan publik.

Pilihan keberanian sikap dalam pemberitaan itu harus dibayar mahal. Indonesia Raya dibredel oleh penguasa. Mochtar Lubis pun harus menjalani pengasingan di penjara, baik pada era Presiden Soekarno maupun Soeharto. “Apa yang bikin orang-orang berkuasa tak senang, atau takut pada tulisan-tulisan saya? Saya sungguh heran. Saya tak berjuang dalam organisasi massa, saya tidak membina sesuatu massa. Saya hanya mencurahkan isi hati nurani dan pikiran-pikiran saya untuk kemajuan bangsa, perbaikan keadaan, mengoreksi apa saya rasa perlu dikoreksi, tapi orang-orang berkuasa selalu merasa gelisah menghadapi buah pikiran saya,”tulis Mochtar Lubis.

Masuk penjara pada masa otoriter memang merupakan harga yang harus dibayar Mochtar Lubis atas kekritisan sikap dan tulisannya. Namun, tembok penjara hanya membatasi fisik. Tidak ada seorang pun, termasuk rezim otoriter apa pun, yang mampu membatasi kreativitas dan kekritisannya.

Sikap Mochtar Lubis sebagai wartawan tersebut selayaknya menjadi anutan wartawan saat ini. Sikap Indonesia Raya seharusnya juga menjadi contoh media massa yang katanya kini hidup di zaman demokratisasi ini.

Mochtar Lubis senantiasa mengingatkan media massa harus berani, baik dalam mengkritik penguasa maupun menyuarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan publik.

“Apakah salah menunjukkan kelemahan-kelemahan yang terlihat, yang mungkin membawa masyarakat menjauh dari cita-cita dasar Orde Baru, dari cita-cita kemanusiaan dalam Pancasila, cita-cita keadilan dan kemakmuran yang merata, cita-cita penegakan hukum dan lindungan hukum yang sama bagi setiap warga negara? Apakah ini salah? Apakah ini subversif? Apakah subversif meminta agar korupsi diberantas dan dihentikan? Apakah subversif meminta agar the rule of law sungguh-sungguh dilaksanakan bagi setiap orang?”

Menurut dia, berkomunikasi memang sulit. Dan, komunikasi itu akan tetap sulit sepanjang wahyu cakraningrat itu masih melekat pada diri penguasa negeri ini. Sepanjang budaya feodal itu masih bersarang, semasa itu pula penguasa merasa selalu benar, karena dia berkuasa atas pilihan dewata, maka si penguasa mestinya selalu benar.

Apakah bahasa yang dipakai wartawan kurang jernih, sehingga orang tak mengerti atau salah tangkap? Atau yang ditulis terlalu terus terang, sehingga yang merasa salah lalu merasa terkena dan marah, lalu menutup hati dan pikiran mereka terhadap apa yang dikemukakan?

Mochtar Lubis mencoba menjawab itu dengan menulis, “Betapapun terbinanya komunikasi terbuka dan mudah antara penguasa dan masyarakat, lingkaran setan ini harus dipatahkan. Penguasa-penguasa perlu mendengar isi hati dan berbagai ragam pendapat di tengah masyarakat yang harus diucapkan dengan bebas tanpa takut. Hanya dengan cara ini, pemerintah tak ubahnya sebagai seorang dokter dapat mengukur denyut jantung masyarakat, dan mengetahui apa-apa yang perlu diperbaiki untuk keselamatan rakyat banyak.”

Namun, kalau yang diberitakan media merupakan fakta dan benar adanya, mengapa yang berkuasa tidak membuka hati dan pikirannya? Apakah publik harus terus membenarkan keberadaan wahyu cakraningrat tersebut? Kritikan Mochtar yang tidak bisa dianggap remeh oleh media adalah ketidakberanian media massa dalam mengungkap kebobrokan penguasa. Seakan kita terlelap dengan pernyataan Harmoko (menteri penerangan era Orde Baru), yang mengatakan kebebasan pers dijamin. Benarkah?

Ketika Keberanian Diasingkan

Hidup dalam penjara memang tidak enak. Segala sesuatunya serba terbatas. Pembatasan fisik terkadang berpengaruh pada pembelengguan pikiran dan kekritisan. Namun, senjarah mencatat kebesaran jiwa Mochtar Lubis tidak pernah terpenjarakan.

Penahanan Mochtar Lubis datang tiba-tiba, seperti sergapan burung elang terhadap anak ayam yang sedang asyik makan padi. Dalam menjalani masa penahanan, pria kelahiran Padang ini tetap bersikap positif. Dengan sikap itulah dia merasa seperti pindah kantor saja. Ia tetap produktif, tetap menulis, melukis, bahkan tetap bisa menyalurkan kegemaran berolah raga.

Meski buku ini berisi catatan harian yang sederhana dan mungkin terkesan remeh. Di balik itu semua Mochtar Lubis berusaha mengkritik pihak-pihak yang bertanggung jawab atas sistem penjara di Indonesia. Salah satu kritiknya soal konsumsi makanan di penjara yang langsung berimbas pada kesehatan para terpidana. Jumlah kalori dan protein pada jatah makanan tahanan tidak pernah mencukupi kebutuhan manusia normal. “Makanan yang saya dapat berbeda dari menu untuk tahanan Gestapu/PKI. Makanan mereka lebih buruk dan tidak memadai lagi. Makanan saya sudah pasti tidak memenuhi syarat minimum kalori untuk makanan bergizi baik.”

Mochtar juga mengkritik sistem hukum kala itu yang masih relevan dengan masa transisi sekarang ini. Saat dalam pengasingan, dia bertemu dengan banyak tahanan Gestapu yang sudah bertahun-tahun dipenjara tanpa tuduhan jelas dan tanpa pengadilan sama sekali.

“Saya tidak keberatan dan berpesan kepada mereka agar menyampaikan kepada Jaksa Agung Ali Said agar penahanan saya jangan berlarut-larut. Tapi kalau memang pemerintah punya bukti saya telah melakukan pelanggaran hukum, agar saya segera dibawa ke pengadilan. Kalau tidak ada, agar saya dibebaskan kembali cepat.”

Pada masa penjajahan Jepang, Mochtar pernah terlibat dalam mendirikan kantor berita Antara. Tidak lama kemudian dia mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya. Harian itu akhirnya dilarang terbit karena isi pemberitaannya. Pada rezim Soekarno, Mochtar dijebloskan ke penjara selama hampir 9 tahun dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara dituangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

Dan buku setebal 150 halaman ini juga merupakan catatan hariannya ketika menjalani masa tahanan oleh rezim Orde Baru di Penjara Nirbaya. Mochtar menulisnya di tahun 1975. Dia membuat naskah ini dalam bentuk naskah ketik. Banyak pesan yang tertuang dalam buku terbitan Yayasan Obor ini, salah satunya adalah media massa harus berani dan tetap kritis. (E4)

Judul : Nirbaya, Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru

Penulis : Mochtar Lubis

Editor : Hanif Suranto & Ignatius Haryanto

Penerbit : LSPP & Yayasan Obor Indonesia

Terbit : I April 2008

ISBN : 978-979-461-683-3

Tebal : xi + 142 hlm

©2008 VHRmedia.com

Advertisements

Leave a comment

Filed under History, Journalistic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s