Saat Asa Tak Lagi Ada

Oleh: Lita Soerjadinata

Asa, Harapan, Impian, Angan-angan, atau apapun namanya, selalu ada di benak semua orang. Setiap kejadian yang menimpa seseorang, bisa jadi menstimulasi pikiran orang tersebut untuk mempunyai asa. Dan semua orang berhak untuk itu. Bagaimana seseorang menyikapi asa tersebut, semua ada ditangannya. Mau diwujudkan atau tidak, terserah yang bersangkutan.

Saat Sang Hidup mengajak saya bergulat melawan maut, saya dihadapi oleh dua pilihan. Pertama, menyerah pada keadaan, untuk kemudian menyerah pada kematian yang datang cepat ataupun lambat. Atau yang kedua, menganggap hal ini sebagai tantangan. Persis seperti seorang pendaki gunung yang berusaha tiba di puncak. Entah akan sampai di puncak dan turun lagi dengan selamat atau tidak, segala usaha tidak akan terasa sia-sia. Malah akan membuat hidup saya menjadi lebih bermakna. Dan semuanya saya jalani karena sebuah asa.

Pilihan, itu kata kuncinya. Hidup ini penuh dengan pilihan. Dan semua orang bebas memilih. Dan perlu keberanian untuk itu. Saya berani memilih untuk memilih kuliah bidang yang jarang diminati orang, saya berani memilih pekerjaan yang penuh resiko, saya berani memilih untuk selalu ternafikan oleh orang yang diam-diam saya cintai. Bukan karena apa, karena ada tantangan di sana dan saya yakin bahwa asa akan selalu ada. Dan saya bahagia karena saya melakukan semuanya atas dasar pilihan saya.

Keberanian untuk memilih tersebut terwakilkan dalam tokoh Zedka dalam novel karya Paulo Coelho ini. Dengan berani, Zedka memilih untuk melepas semua yang ia punya demi memenuhi asa terhadap pujaan hatinya. Meski hasilnya tidak sesuai angan, tapi ia puas. Paling tidak , Zedka sudah mencobanya. Keberanian yang sama juga terjadi pada diri Mari. Ia berani memilih untuk tinggal dalam Villette, rumah sakit jiwa dalam novel ini, meski karenanya ia harus diceraikan oleh sang suami. Tiga tahun kemudian, ia dengan berani menghadap dokter kepala rumah sakit tersebut untuk menyatakan bahwa ia tidak gila, dan keluar dari Villette dengan kepala tegak. Ada asa buat Mari: menjadi sukarelawan di Sarajevo. Asa yang sudah ia miliki sebelum “bermukim” di Villette.

Meski agak terlambat, tokoh lain yakni Veronika pun memiliki keberanian untuk memilih. Veronika, yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tak ada arti dalam kehidupan yang ia jalani selama lebih dari dua puluh tahun. Asanya terhadap kehidupan sudah patah sejak ia kecil. Sejak keinginannya untuk menjadi pianis dipatahkan oleh ibunya, Veronika menjalani kehidupan tanpa ada asa sedikit pun. Dan itu karena ia menjalani kehidupannya atas keinginan orang lain (yakni ibunya), sehingga hidup terasa datar dan tak berarti apa-apa. Matanya baru terbuka bahwa hidup ini jauh lebih indah bila kita hidup di atas keinginan kita sendiri dan baru bisa terwujud bila kita berani menghadapi tantangan dalam usaha mewujudkan keinginan kita tersebut, setelah ia divonis bahwa hidupnya tinggal lima hari lagi.

Sekali lagi, hidup ini penuh dengan pilihan. Dan semuanya ada di tangan kita untuk bagaimana menyikapi pilihan itu. Meski harus dilalui dengan susah payah, tapi saya yakin bahwa asa akan selalu ada. Saya tidak mau jadi Veronika…(lits)

Judul Buku: Veronika Decides to Die

Penulis: Paulo Coelho

Penerbit: Harper Perennial

Tahun Terbit: 2006

Paginasi: 240 hal.

ISBN: 0061124265

Advertisements

Leave a comment

Filed under literature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s