Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai: Sebuah Review

Oleh: Lita Soerjadinata

9 adalah angka terakhir dari sebuah bilangan, angka yang menjadi pengantar menuju bilangan berikutnya. Dari satuan menuju puluhan, dari puluhan menuju ratusan, dari ratusan menuju ribuan, dan seterusnya.

Mungkin itu sebabnya dalam Islam Tuhan ‘hanya’ mempunyai 99 sifat, yang disebut dalam Asma-ul Husna. 99, bukan 100. Meski kemudian ke-99 sifat tersebut disempurnakan dengan ALLAH, yang tidak bisa diartikan dalam bahasa manapun sebagai Yang Maha Esa, Yang Maha Sempurna, Yang Maha Tak-Tergantikan, dan Yang Maha Melebihi Segalanya.

Mungkin juga itulah sebabnya Goenawan Muhamad hanya menuliskan 99 “tatal” atau “percikan” dalam Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai ini. 99 karena masih ada ketidaksempurnaan dalam hidup, yang perlu kembali lagi ke titik nol sebelum memulai bilangan setelahnya, dari puluhan menuju ratusan.

Tuhan, Yang Maha Esa, bukan Yang Maha Eka. Begitu yang ditulis Goenawan Muhamad dalam Catatan Pinggir majalah Tempo edisi 2-8 Maret 2008. Eka berarti satu. Hal yang kemudian lebih sering dipahami orang bila berpikir tentang Tuhan. Pemahaman yang kemudian menjadi justifikasi untuk memaksakan orang lain mengikuti paham yang sama dengan dirinya. Karena alasan tadi: Yang Maha Eka, bukan Yang Maha Esa. Sedangkan Esa, masih dari tulisan yang sama, diambil dari bahasa Pali yang dipakai dalam kitab-kitap Buddhisme yang berarti nirbana, tiada.

Jadi Tuhan = tiada? Dalam “percikan” ke-8 dalam buku ini, Goenawan Muhamad mencoba menjawab pertanyaan Amir Hamzah dan Ibnu Sina di abad ke-10: “jika Tuhan kekal – berarti Ia di luar waktu-bagaimana penciptaan alam semesta terjadi? Dalam percikan ini Goenawan mencoba menjawabnya: Jika Tuhan “baka sepanjang masa”, Ia tak mungkin jadi pembangun alam semseta dari keadaan “tak ada” jadi “ada’. Di sini, saya menafsirkan bahwa Esa berarti bahwa Tuhan menciptakan jagad raya dan isinya dari ketiadaan menjadi ke-ada-an. Karena Ia Maha Kuasa. Ia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan yang sehampa-hampanya (hal. 20).

Lantas bagaimana kemudian manusia yang tadinya tak-ada, kemudian menjadi ada, menyikapi keEsa an Tuhan, sebagai Zat yang menciptakannya? Melalui iman. “Iman lebih kaya ketimbang kemurnian. Iman adalah bianglala yang semarak.” Demikian ditulis Goenawan dalam “percikan” ke-18. Masuk di akal memang. Bagaimana seseorang mengakui keberadaan Tuhan, bila ia tidak beriman kepada-Nya?

Bagaimana manusia merefleksikan keimanannya kepada Tuhan? Pertanyaan berikutnya timbul. “Titahkanlah aku menyanyi, karena nyanyi tak menatapmu, tak membacamu. Tak ada berhala, tak ada negosiasi dengan makna. Nyanyi adalah suara dalam jurang, di mana kedekatan membutakan kata-kata. Nyanyi tak memanggul seluruh niat, juga niatnya sendiri, karena ia sebenarnya hanya mencoba.”

Bernyanyi, seperti yang dipaparkan dalam percikan ke-15 buku ini memang dilakukan benar oleh mereka yang memuja Tuhan. Umat Kristen dan Katolik melantunkan lagu-lagu pujian dalam doa mereka, dalam setiap kebaktian atau misa di gereja. Muslim melantunkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an setiap kali mereka mengaji. Melantunkan, bukan sekedar membaca. Karena dengan melantunkan, menyanyikan titah Tuhan yang tersurat dalam wahyu bisa lebih merefleksikan keimanan yang ada, dan lebih terasa menggema di hati. Bekasnya yang ditinggalkan lebih mendalam ketimbang sekedar membaca atau mendengarkan khotbah.

Bisa jadi itu yang menyebabkan masjid-masjid perlu memasang speakernya keras-keras saat pengajian dilangsungkan. Atau umat Kristen aliran tertentu perlu bernyanyi sekeras-kerasnya sepanjang kebaktian. Karena suara hati bisa dilafalkan secara lantang. Padahal Tuhan berada tak jauh dari diri manusia, tak lebih dari sejengkal jarak-Nya dari urat nadi kita. Yang Maha Mendengar justru lebih terasa kehadiran-Nya dalam hening, dalam diam, dalam ke-tak-ada-an. ”Sometime whisper is louder than a scream, kata grup band Arkana.

Dalam percikan ke-28, Goenawan memaparkan hal yang berkaitan dengan keheningan tadi. “Agama dimulai dari hening dan saat yang dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Agama: hening, kedahsyatan, konstruksi. Agama, entah kenapa, selalu menggambarkan Tuhan sebagai sesuatu yang misterius, menakutkan, dan memukau. Tampaknya pengalaman religios akhirnya selalu dicoba diabadikan dengan sesuatu yang kukuh. Dan pada akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi struktur.

Struktur dalam agama inilah, yang bagi saya kemudian menyebabkan timbulnya pemaksaan untuk menjadi satu, menjadi sama. Dan perbedaan menjadi masalah besar yang perlu dihapuskan. Padahal, Tuhan sendiri tidak suka dengan ke-satu-an itu. “Satu itu palsu.” Demikian Goenawan menuliskannya dalam “percikan” ke-60. Selanjutnya ia mengutip cerita dari Alkitab dan Qur’an dalam “percikan” ini:

syahdan, menurut Alkitab, manusia datang ke sebelah timur tanah Sinear untuk menegakkan sebuah menara yang tinggi, agar mereka tak terserak di pelbagai tempat dan bisa berbahasa satu. Tapi Tuhan murka. Menara itu ditumbangkan. Orang dibuncangkan ke pelbagai penjuru, dan bahasa dikacaubalaukan hingga manusia tak saling mengerti lagi. Demikian itulah takdir. Sebuah kitab suci lagin, Qur’an, yang tak berbicara tentang Tuhan yang murka, tetap mengingatkan bahwa Ia sengaja tak menghendaki segalanya jadi satu, melainkan berbeda.

Berbeda. Diversity, bukan Esa, terlebih lagi bukan Eka. Mungkin (lagi) itu pula sebabnya segala sesuatu sebaiknya dimulai dari angka nol (Esa), bukan dari angka satu (Eka). Sebagaimana angka nol melengkapi 9 menjadi puluhan (sepuluh), atau 99 (puluhan) menjadi 100 (ratusan), dan seterusnya.(lits)

Judul buku: Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai

Penulis: Goenawan Muhammad

Penerbit: Kata Kita

Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2007

Paginasi: 166 Hal

ISBN: 9793778482

Advertisements

Leave a comment

Filed under literature, Philosophy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s