Kau Memanggilku Malaikat: Sebuah Review

Oleh: Lita Soerjadinata

Apa perbedaan sikap dari malaikan maut saat mencabut nyawa seorang ibu yang berdedikasi tinggi terhadap keluarganya dengan seorang preman yang selama hidupnya hanya bergelimang dosa? “Tidak ada bedanya!” kata malaikat. Tak adanya perbedaan itu yang membuat malaikat berbeda dengan manusia, yang suka membeda-bedakan sesamanya. Hanya mau bergaul dan berinteraksi dengan mereka yang sama golongannya, yang sama agama dan kepercayaannya, yang sama sudut pandangannya.

Menjemput – bukan mencabut – nyawa seseorang yang sudah tiba saatnya untuk berpisah dari raga, sudah menjadi ‘tugas’ sang malaikat. Meski ia sendiri berkeberatan jika itu disebut dengan ‘tugas’. “Seperti angin yang berhembus di segala tempat,” demikian sang malaikat menggambarkan ‘tugas’nya dalam menjemput nyawa. Karena seperti angin, penjemputan itu bisa dilakukan di banyak tempat, dalam waktu yang bersamaan.

Tak ada perlakuan yang berbeda, bukan berarti semua cara kematian kemudian menjadi sama. Sikap manusia terhadap maut yang sedang menjemputlah yang menjadikannya berbeda. Perlakuan yang sama itu membuat si malaikat perlu merasa bercakap-cakap dengan ‘korban’nya, sebelum waktunya untuk menjemput sang nyawa tiba. Dari percakapan yang ia lakukan, ia bisa mengerti segala pemikiran orang yang sedang menjelang maut tentang kehidupan yang ia jalani. Mengerti, bukan berarti bisa merasa.

Mungkin karena sudah melihat segalanya, sang malaikat hanya bisa mengerti, tanpa bisa merasa. Gambarannya mungkin bisa setara dengan saya, yang mengalami cobaan, kekecewaan, kegagalan, kesenangan, kesuksesan, dan segala yang datang bertubi-tubi secara silih berganti – membuat hidup saya bak menaiki roller coaster.

Sudah tidak ada lagi rasa sedih, saat teman yang saya anggap paling baik tiba-tiba berbalik badan dan menjauhi saya. Sudah tidak ada lagi rasa dendam, saat seseorang yang tidak saya kenal tiba-tiba memfitnah saya. Tak ada lagi luapan kegembiraan, saat kesuksesan yang selama ini saya tunggu datang menghampiri saya.

Berbeda dengan malaikat yang bisa memahami, saya hanya bisa memandangi kelebatan peristiwa dalam hidup sambil bertanya-tanya apa penyebabnya, mengapa semuanya terjadi.Apakah ini pertanda bahwa malaikat itu sudah ada di sekitar saya, menunggu datangnya tanda untuk menjemput saya? Saya hanya bisa menunggu, seraya bertanya-tanya.(lits)

Judul Buku: Kau Memanggilku Malaikat

Penulis: Arswendo Atmowiloto

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2008

Paginasi: 272 hal.

ISBN: 9792240934    (isbn13: 9789792240931)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s