Negeri Lima Menara: Sebuah Review

Oleh: Lita Soerjadinata

Saat pelaku pengeboman Bali I tertangkap, dunia terhenyak. Bukan hanya karena terpesona pada senyum yang rajin ditebarkan oleh salah seorang pelaku, tapi juga karena para pelaku yang telah dieksekusi mati tersebut adalah lulusan sebuah pesantren di Solo, Jawa Tengah.

Peristiwa pengeboman itu banyak membuat orang bertanya-tanya. Jadi sebetulnya apakah yang diajarkan di pesantren? Benarkah sekedar dogma agama yang tak bisa dipertanyakan keabsahannya? Bila tidak ada sesuatu yang salah, mengapa proses pendidikan yang dijalankan pesantren segalanya serba tertutup bagi publik?

Seorang teman berkebangsaan Malaysia yang mengajar di jurusan religious studies Universitas Berlin bahkan sempat mengungkapkan bahwa di negara asalnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan kelas dua, di bawah sekolah umum. Apakah di Indonesia berlaku hal yang sama, bahwa hanya orang yang tidak mampu bersekolah ke sekolah umum – terutama karena keterbatasan biaya – yang belajar di pesantren?

Tapi coba lihat profil Said dan Atang, dua dari lima tokoh utama yang ditulis dalam novel Negeri Lima Menara ini. Said adalah putra seorang saudagar batik di Surabaya dan Pak Yunus, ayah Atang, adalah seorang pegawai Pemda Jawa Barat yang mampu memberi hidup yang serba berkecukupan pada anak istrinya. Tapi kedua anak tersebut toh memilih untuk menempuh pendidikan di pesantren. Meski memang tokoh yang meng’aku’ di novel ini, Alif Fikri, berasal dari keluarga yang pas-pasan. Juga salah satu teman dekatnya, Baso, yatim piatu yang hidupnya disokong oleh seorang nelayan yang berbelas kasihan pada dirinya.

Dari latar belakang tokoh-tokoh yang ada dalam novel yang ditulis A. Fuadi ini, kita dapat membayangkan betapa rapinya proses subsidi silang dalam pesantren. Dua tokoh yang berasal dari keluarga berekonomi pas-pasan itu tak pernah merasa terancam akan dipulangkan hanya karena menunggak bayaran. Satu pelajaran telak bagi sekolah umum, bahwa beban biaya pendidikan tak pantas dibebankan pada anak didik.

Lantas, apa lagi yang menarik dari kehidupan pesantren? Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Mantra yang diucapkan sejak santri pertama kali menginjakkan kakinya di pesantren terus-menerus didengungkan oleh kyai pemilik pesantren, para ustadz, dan senior setiap hari, sepanjang tahun hingga sang santri lulus.

Bukan hanya mantra ini, pendidikan adalah sebuah proses perjuangan yang kalau perlu dilalui dengan melampaui batas kemampuan yang dimiliki oleh seorang santri. Tengoklah masa-masa menjelang ujian. Bila di sekolah umum para guru “menebar teror” ketakutan resiko tidak lulus, sehingga sebagian besar dari mereka menyarankan siswanya untuk mencontek saat ujian, pesantren dalam novel ini menciptakan iklim di mana ujian adalah sebuah perayaan. Semua orang harus terlibat di dalamnya. Para ustadz tanpa segan mendatangi santri sampai ke kamar asrama untuk mengecek kesiapan santri dalam menghadapi ujian. Memberikan materi yang dirasa belum cukup dipahami di dalam kelas, atau hanya sekedar membesarkan hati santri yang kebat-kebit akibat tidak percaya diri menghadapi ujian.

Warna-warni kehidupan dalam pesantren tergambar secara gamblang di novel ini. A. Fuadi sepertinya berusaha membuka tabir misteri yang bagi sebagian orang, termasuk saya, sama sekali buta akan kehidupandi balik tingginya tembok pesantren. Beberapa kesalahan ejaan yang banyak ditemukan, seperti kota kata – yang saya yakin maksudnya adalah kosa kata – tidak terasa begitu mengganggu karena ramuan cerita yang menarik dan tanpa bertele-tele dibeberkan dalam buku ini. Dinamika kebersahajaan, konflik, persahabatan dan persaudaraan yang timbul dalam kehidupan pesantren, sepertinya akan menjadi trilogi berikutnya yang akan difilmkan, setelah sekuel Laskar Pelangi. (lits)

Judul Buku: Negeri Lima Menara

Penulis: A. Fuadi

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2009

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s