A.M.S.A.T – Apa Maksud Setuang Air Teh: Sebuah Review

“Dasar orang miskin, mentang-mentang miskin boleh melakukan apa saja, mengamuk sesuka hati, merusak apa saja yang mereka mau!!!”

Di lain tempat:

“Haduh, Mas! Saya hampir nabrak mobil mahal, saya lemes…ngebayangin harus ngeganti mobil itu. Waduh, bener-bener cobaan hari ini. Kayaknya saya ngelamun tadi. […:] Dasar orang kaya, mentang-mentang kaya boleh melakukan apa saja, seenaknya sesuka hati, menguasai apa saja yang mereka mau.”

…dan penyakit paling berbahaya di muka bumi ini adalah prasangka (Dan Damai di Bumi – Karl May). Dan dua kalimat di atas adalah prasangka antara si kaya dan si miskin (ada di halaman 138-139) yang disentil dalam buku terakhir dari tetralogi fashion karangan Syahmedi Dean ini.

Meski bertajuk tetralogi fashion, kisah yang ditulis dalam A.M.S.A.T (Apa Maksud Setuang Air Teh) tidak melulu berisi cerita-cerita sampah yang menyajikan gaya hidup warga kelas atas menghambur-hamburkan uang mereka. Hampir bisa dibilang tidak ada, bahkan. Yang ada justru cerita pergulatan orang-orang yang ada di balik penerbitan majalah fashion, yang terkadang harus menghadapi realita yang sama sekali bertolak belakang dengan kemewahan yang harus mereka tangani untuk diulas dan dipaparkan dalam majalah fashion yang harus dikelola oleh Alif, Raisa, Didi, dan Nisa.

Ada beragam konflik yang disuguhkan dalam buku ini. Mulai dari korupsi, pembunuhan, hamil di luar nikah, hingga konflik batin seperti yang dialami Raisa. Raisa, pemimpin redaksi yang begitu cepat mengikuti perkembangan fashion, mengalami pergulatan batin saat berhadapan dengan pilihan yang begitu krusial dalam gaya berpakaian:

Di depan cermin gue merasa berhadapan dengan diri gue yang sebenarnya. Gue nggak bisa lagi bersembunyi dalam high fashion brand, dalam siluet badan seksi. Gue merasa minor, karena ternyata seumur-umur gue lebih sibuk membangun karakter tampak luar. Gue menomorduakan pembentukan karakter di bagian dalam. Buktinya, pas gue pake baju muslim itu, gue merasa ciut, kepedean gua kandas. Kenapa bisa begitu? Aneh banget. Hanya karena selembar baju muslim.

Terlepas dari latar belakang Syahmedi Dean yang mantan wartawan fashion, konflik-konflik yang ada dalam buku ini menunjukkan kepekaan penulis terhadap situasi yang tengah berkembang, dan masih terjadi hingga saat ini. Juga kisi-kisi untuk menerbitkan majalah yang dibeberkan cukup detail, bisa jadi pegangan buat pembaca yang punya keinginan untuk menerbitkan majalah.(lits)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s