Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya: Sebuah Ulasan

Apa jadinya penguasa, bila rakyatnya suka bertanya?

Merujuk kejadian-kejadian yang telah terjadi di negara ini, ada tiga kemungkinan yang akan dilakukan penguasa dalam menghadapi rakyat yang suka bertanya:
1. Mendiamkan dan menganggap aneh rakyat yang suka bertanya
2. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh rakyat yang suka bertanya, baik secara bijaksana maupun melalui dagelan semacam pansus atau tim khusus
3. Menghilangkan secara paksa

Ketiga kemungkinan tersebut dialami oleh rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya, tokoh tanpa nama dalam cerpen ‘Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya’ karangan FX Rudy Gunawan. Si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini memang suka bertanya hal sepele, seperti “bolehkah seorang pemimpin tidur siang?”Pertanyaan sepele, tapi sebenarnya sangat mendasar dan menyangkut banyak hal tentang konsep kepemimpinan, kualitas kepemimpinan, dan keharusan-keharusan moral seorang pemimpin (hal. 40).

Dan pertanyaan yang diungkapkan si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini pun mengundang berbagai reaksi dari penguasa, juga orang-orang yang dekat dengan penguasa, mulai dari hanya memelototinya, mendampratnya, menganggapnya gila, sampai melakukan sesuatu hingga si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini hilang.

Tapi, apa sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dalam kumpulan cerpen ini?

Irwan Dwi Kustanto, penyair tuna netra ini mempertanyakan hak-hak orang buta dalam Monolog Tongkat: Catatan Harian Seorang Penyair Buta. Ia meminta penguasa untuk memperhatikan, menganggap ada, dan memenuhi hak mereka.

Serombongan orang buta bernyanyi sepanjang jalan
Mereka berbisik-bisik saat musim merintih perlahan
Langit senyap seketika
Kembali sunyi dalam pesona
Kita dengar sayup-sayup ketukan tongkat mereka
Jejak terbaca, kita pun sedia mendengarkannya,
Setia membuka mata
Dunia bicara, kita pun mengerti
Tiba-tiba segala menjadi terbuka
Tatkala malam tak lagi ada suara
Tatkala tak ada lagi yang bersedia menukar mata dengan cinta
Dan, tatkala tak ada lagi yang terbata-bata
Membuka mata
(hal 60)

Gelutan hati Irwan D. Kustanto tersebut merefleksikan pertanyaannya, akan hak seorang buta yang menginginkan aksesibilitas lingkungan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan sumber daya mereka untuk berkarya, dan memiliki wakil-wakil yang menyuarakan kepentingan mereka di parlemen.

Sementara, Martin Aleida dalam cerpennya Wasiat untuk Cucuku mempertanyakan hak anak sekolah atas transportasi yang bisa melindungi mereka dalam perjalanan menuju dan dari sekolah.

”Janganlah kau tumbuh dan menjadi besar di ibukota ini. Membayangkannya saja aku menangis. Tak tahu aku apa yang akan terjadi padamu nanti kalau kau dibawa ke sini. Di sini anak-anaknya bukan dimanja dengan lagu-lagu yang lembut. Bukannya dikasihi. Mereka dizalimi, malah. Mungkin kau tak percaya. Tapi, mata kepalaku sendiri yang melihat bagaimana mereka diadu domba pemerintah dengan para supir bus. Pemerintah menetapkan anak-anak sekolah membayar ongkos cuma setengah dari tarif umum. Memang, seperti angin surga kedengarannya. Tapi, apa yang terjadi? Para supir bus, karena mengejar setoran untuk pemilik kendaraan, menolak anak-anak naik. Kondektur memalangkan kaki di pintu, supaya kawan-kawanmu tak bisa masuk. Mereka hanya memberikan jalan untukorang dewasa yang membayar penuh. Anak-anak menangis. Bukan karena perlakuan sekasar itu, tapi karena kehilangan kesempatan belajar.” (hal 107)

Keran demokrasi yang dianggap telah terbuka saat Reformasi 1998 meletus, nyatanya cuma berlaku bagi segelintir orang yang mengatasnamakan kepentingan rakyat demi kepentingannya sendiri. Tapi bagi mayoritas rakyat negara ini, demokrasi masih sebatas mimpi.

Randu, misalnya. Tokoh dalam cerpen Menjadi Anjing karangan Miranda Harlan ini tak punya kesempatan untuk bertanya, mengapa ia – yang bersemangat membangun negara dengan menjadi guru honorer di daerah terpencil di Kalimantan sana – hanya mendapatkan gaji yang tak pernah cukup untuk hidup lebih dari satu minggu. Gaji yang harus dirapel setiap tiga bulan dan diambil sendiri dengan menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Atau tokoh yang menjadi judul cerpen karangan Oka Rusmini: Grubug, yang tak pernah bisa bertanya mengapa ayahnya hilang, dan ibunya dibakar setelah diperkosa beramai-ramai saat ia masih kecil. Di masa tuanya, Grubug pun masih harus berurusan dengan hukum, akibat tiga butir cocoa yang ia pungut di jalan, tanpa sempat bertanya apakah tindakannya itu salah.

Represi negara agaknya masih membungkam rakyat negara ini, membuat demokrasi yang selalu diusung saat pemilihan umum terasa semu. Represi yang semakin lama semakin kuat, meski cara yang dipilih kian halus. Sebut saja UU Informasi dan Transaksi Elektronik, Rancangan Peraturan Menkominfo tentang konten multimedia, dan yang marak jadi perdebatan: pelarangan buku. Agaknya, penguasa lebih memilih rakyatnya untuk jadi apatis, sehingga jadi malas untuk bertanya. (lits)

Judul Buku: Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya

Penulis: AS Laksa, FX Rudy Gunawan, Irwan D Kustanto, Lan Fang, Linda Christanty, Martin Aleida, Miranda Harlan, Oka Rusmini, Puthut EA

Penerbit: Demos

Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2010

Jumlah Halaman: 186

ISBN: 9786028493109

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, Human Rights

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s