Entrok: Sebuah Resensi

Entrok (BH dalam bahasa Jawa), bukan sekedar penutup payudara, penutup gundukan di dada yang jadi aurat perempuan. Sejak dipatenkan oleh Mary Phelps-Jacobs di tahun 1914, BH jadi salah satu produk fashion yang menjual. Tak kurang perusahaan semacam WacoalTriumph, dan Victoria Secret menjadikan BH sebagai produk andalan mereka.

Bagi Marni, tokoh dalam novel ini, entrok adalah segalanya. Keinginan Marni memiliki entrok begitu kuat. “Aku ingin punya entrok berenda. Entrok sutra bertatahkan intan dan permata. Aku ingin semua orang kagum, menatapku dengan iri. Aku juga ingin ada orang yang membuatku merasa begitu bahagia. Mengantarkanku ke kerajaan yang indah.” (hal. 41)

Mengenakan entrok bukan hal yang biasa bagi Marni. Ibunya tak pernah mengenakan barang itu. Ia ia biarkan payudaranya kelewer-kelewer bebas bergelayutan tanpa pengganjal. Tak penting benda itu, kata Simbok. Yang penting kita bisa makan tiap hari.

Berangkat dari keinginan untuk memiliki selembar entrok, Marni memulai gebrakan yang ia lakukan untuk memperbaiki hidup. Di usianya yang sangat belia, belum lagi 15 tahun, Marni memilih menjadi kuli panggul di Pasar Ngrengat, agar bisa membeli entrok. Padahal, di masa itu belum ada perempuan yang bekerja sebagai kuli panggul. Seluruhnya perempuan bekerja sebagai pengupas singkong, yang diganjar upah berupa singkong, yang digunakan mereka untuk makan setiap hari.

Tapi Marni ingin sekali punya entrok. Sekeping demi sekeping uang ia kumpulkan demi selembar entrok, benda yang kelak bisa ia beli hingga berlusin-lusin jumlahnya. Berkat entrok pula, Marni bertemu dengan Teja, pria yang kemudian jadi suaminya.

Keberhasilan Marni membeli selembar entrok kemudian diikuti dengan keberhasilan lain. Entroklah pemicu dirinya untuk terus tidak puas dengan keadaan. Dari kuli panggul, ia berganti profesi jadi tukang kredit barang-barang kebutuhan rumah tangga, dan kemudian jadi tukang meminjamkan uang – dengan bunga. Kerja keras yang membuahkan hasil setimpal, karena Marni tak hanya bisa membeli entrok, tapi juga tanah berhektar-hektar yang ditanami tebu dan mengirim Rahayu, anak semata wayangnya sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Cerita yang berawal dari selembar entrok ini kemudian bergulir, mengiringi berbagai pergulatan politik yang terjadi di negara ini, mulai dari peristiwa di tahun 1965, bom di Candi Borobudur, hingga Kedung Ombo. Imbasnya pun terasa pada kehidupan Marni. Ia diharuskan bayar uang keamanan pada aparat militer yang ditugaskan untuk ikut program bantuan militer di pedesaan (semoga masih ada yang ingat dengan program AMD – ABRI Masuk Desa), atau wajib menyokong kampanye pemilu (yang partai pemenangnya sudah terpilih jauh sebelum pemilu itu dilaksanakan). Tidak itu saja, Marni harus berseteru dengan Rahayu akibat perbedaan pandangan yang mereka anut.

Sebagai penulis yang usianya terbilang masih sangat muda, Okky Mandari terbilang sangat fasih menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi jauh sebelum ia lahir. Tak ada jarak dalam penceritaan tentang gejolak politik yang terjadi sepanjang sejarah bangsa ini, yang bahkan pada masa itu disembunyikan oleh pemerintah. Tanpa tedeng aling-aling, Okky dengan lancar menggambarkan paksaan pemerintah agar warga memilih partai tertentu, sikap semena-mena aparat dalam memeras orang-orang kaya di desa, atau masalah intoleransi yang justru diciptakan oleh pemuka agama – atas nama perang memberantas partai yang hingga saat ini dituding sebagai dalang kudeta yang terjadi di tahun 1965.

Meski tanpa jarak, berbagai peristiwa yang dituliskan Okky tak terasa lengkap. Okky terkesan terlalu berhati-hati saat menuliskan cerita yang terkait dengan peristiwa 1965 atau Tanjung Priok. Okky bahkan terkesan enggan menuliskan kelompok yang getol mendukung dan mendampingi warga Kedung Ombo saat mereka dipaksa transmigrasi meninggalkan tanah mereka. Kelompok yang kelak juga dituding berada di balik kerusuhan di kantor PDI pada 27 Juli 1996. Apakah Okky terlalu berhati-hati, atau sengaja menghindarinya? Entahlah.(lits)

Judul: Entrok

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia

Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2010

Paginasi: 282 hal

ISBN: 9789792255898

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s