Klop: Sebuah Resensi

Apa sih gunanya kursi? Selain untuk duduk, kursi punya definisi lain yang bisa dimaknai sebagai lambang kekuasaan. Tak heran, sebuah kursi jadul yang sudah reot termakan zaman pun jadi rebutan.

Ketika nenek kakek mulai sekarat, cucu-cucu berebutan ingin mewarisi kursi. Masing-masing menunjukkan bahwa ia memiliki hak yang lebih dari yang lain.

Lewat cerpen berjudul “Kursi” ini Putu Wijaya tampaknya berusaha menyindir perilaku anak bangsa yang berusaha meraih tampuk kekuasaan negeri ini:

Perebutan tersebut mula-mula berlangsung dalam keadaan yang masih dalam batas kesopanan. Dilakukan dengan sindiran-sindiran serta upaya sembunyi-sembunyi. Tetapi, kemudian, karena ambisi masing-masing semakin berkobar ditambah ketakutan kursi itu akan jatuh ke tangan orang lain, akhirnya terjadi sikut-sikutan.

Kekuasaan. Kata ini yang di mata Putu Wijaya jadi momok penghancur bangsa. Rasa haus akan kekuasaan memang bisa dimiliki siapa saja, termasuk seorang pedagang beras.

Dalam cerpen “Raja”, Putu Wijaya mengisahkan seorang tukang beras yang dianggap berjasa karena telah menyelamatkan rakyat di sebuah kerajaan dari bencana kelaparan. Atas jasanya itu, si tukang beras dinobatkan menjadi raja.

Padahal, si Tukang Beras tidaklah semulia itu. Dia menimbun beras di gudangnya, berharap dapat keuntungan besar saat paceklik datang. Dan kedermawanan yang dia lakukan dengan membagi-bagikan beras bukan tanpa alasan: asal rumahnya tidak diserbu rakyat yang berbondong-bondong menadahkan tempurung untuk mendapatkan beras.

Si Tukang Beras serta merta menolak dinobatkan menjadi raja.

”Ya Tuhan, jangan nobatkan hamba. Di samping buta aksara, aku juga insan yang buta politik dan bodoh dalam ilmu ekonomi meskipun aku pedagang. Apalagi soal pemburuan keadilan, kebenaran, dan kemakmuran. Aku tidak tahu di mana tempatnya..”

Meski menolak, Si Tukang Beras toh tetap diangkat menjadi raja. Dan hatinya terus-terusan was-was menyaksikan rakyatnya berpesta pora, takut kalau-kalau stok beras habis, dia akan digorok karena beras di gudangnya sudah habis. Perasaan was-was ini mendorongnya untuk lari, meninggalkan singgasana nyaman dan menyilaukan.

Tapi, kekuasaan tetaplah kekuasaan. Ia tetap menggiurkan. Belum jauh melangkah, Si Tukang Beras berbalik arah, kembali ke istana, seraya berpikir:

”Perkara aku buta huruf, perkara aku bukan seorang pemimpin, apalagi hanya soal keturunan darah biru, itu, kan, bukan salahku. Siapa suruh rakyat memilih aku sebagai raja? Lagipula itu semua, kan, bisa diatur?”

Memiliki pemimpin bangsa seperti itu, tentu membuat rakyatnya malu. Tidak sekedar malu karena punya pemimpin yang tidak tahu diri, tapi juga sebagai bangsa. Rasa malu ini dicetuskan oleh Putu Wijaya dalam cerpen “Indonesia”:

Bangsa Indonesia yang memakan triliunan uang rakyat itu? Yang menjual hutan, laut, gunung, sumber daya alam, yang melalap habis lahan, pulau, yang menazisi kehormatan bangsa itu? Aku merasa tersanjung kalau mereka masih bisa merasa terhina. Berarti masih ada harapan. Selama mereka masih punya kepekaan sebagai manusia, aku masih boleh berharap nasib kita akan membaik. Tapi, pada Indonesia yang penuh dengan korupsi, manipulasi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, kekejaman, pada Indonesia yang penuh segala kecurangan, ketimpangan. … Aku benci dan keki. … Tak sepatutnya aku bangga negeri tercinta ini hidup di bawah garis kemiskinan selama berabad-abad…

“Klop” memang klop dengan beragam keprihatinan yang mendalam atas segala macam masalah yang meruak di negara ini. Yang sayangnya, menurut saya, hanya segelintir dari orang-orang di atas sana yang bisa terbuka nuraninya setelah membaca fakta yang disodorkan dalam kumpulan cerpen ini. Jangankan lewat bacaan, bencana alam yang datang beruntun pun tak menghentikan para abunawas untuk plesiran ke luar negeri, sementara sang pemimpin sibuk bernyanyi…

Judul: Klop
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Bentang Pustaka
Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2010
Paginasi: 233 hal
ISBN: 9789791227933

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, literature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s