Semua beres asal ada uang: Resensi novel 86

Ada yang berbeda pada diri Arimbi. Sekarang, dirinya tak lagi waswas saat berada di depan kasir supermarket saat belanja bulanan. Arimbi tak harus berpikir bagaimana agar gajinya tersisa. Dia tak harus hitung-hitungan untuk punya sedikit tabungan, persiapan kalau ada kebutuhan mendadak. Sekarang dia selalu merasa aman. Ada uang di luar gajinya.

Arimbi memang berubah drastis. Dia bukan lagi juru ketik yang bekerja di pengadilan yang berpenampilan lusuh seadanya. Sekarang dia tampil gaya, dengan dandanan mengkilap dan baju baru yang dia beli setiap bulan.

Perubahan pada diri Arimbi terjadi setelah dirinya menerima kiriman alat pendingin ruangan yang diantar malam-malam ke kamar kosnya. Alat elektronik yang mewah ini terasa tak pas berada di kamar kontrakan yang berada di gang sempit di perkampungan kumuh Jakarta, dan tak mungkin mampu Arimbi beli dengan gajinya.

Kejadian menerima alat pendingin ruangan di tengah malam membuka mata Arimbi bahwa orang-orang di lingkungan kerjanya akrab dengan “ucapan terima kasih”. Arimbi baru tersadar, bahwa di divisi panitera tempat dia bekerja, tak ada perkara yang salinannya selesai diketik tanpa selipan satu atau dua lembar uang pecahan seratus ribu rupiah dari pengacara.

“Memang terima-terima seperti itu tidak apa-apa ya?” tanya Arimbi pada teman dekatnya di kantor, Anisa.

“Ya tidak apa-apa, wong bosnya juga terima. Semua orang kalau kamu tanya juga pasti terima… Semua orang di sini juga seperti itu. Jadi tahu sama tahu. Yang bego yang nggak pernah dapat. Sudah nggak dapat apa-apa, semua orang mengira dia dapat.”

Ucapan Anisa ini kemudian menjadi legitimasi bagi Arimbi untuk meminta “ucapan terima kasih” atas setiap pekerjaan yang dia lakukan.

Permintaan ini tidak hanya dia lakukan terhadap pengacara yang mencari salinan perkara yang dia ketik, tapi juga kepada Bu Danti, atasannya, untuk setiap pekerjaan yang dia lakukan. “Gaji gede memang harus dibagi-bagi, biar jadi berkah,” begitu dalihnya.

Kebiasaan menerima, kemudian meminta, ucapan terima kasih yang dilakukan Arimbi, Anisa, Bu Danti hingga para hakim jelas berbahaya. Sudah bukan rahasia lagi kalau lembaga yang seharusnya menjadi tempat mencari keadilan ini justru menjelma menjadi makhluk yang paling tidak adil bagi mereka yang tidak punya daya – kekuasaan dan uang terutama – untuk mendapatkan keadilan.

Kasus suap menyuap lembaga peradilan yang melibatkan partai yang berkuasa saat ini menjadi contoh dari bahaya yang timbul akibat kebiasaan yang sudah begitu mengakar dan menjadi penyakit akut tersebut.

Mereka yang dianggap terlibat pun saling tuding dan berkelit. Sementara masyarakat awam hanya bisa menonton dan menduga-duga akhir dari suguhan bak sinetron yang gencar diberitakan di media ini, sambil bergelut menyiasati hidup yang semakin keras dan tak adil.

Okky Madasari kemudian memperluas praktik permintaan ucapan terima kasih ini ke luar pengadilan. Kita semua tahu, permintaan ini tidak hanya dilakukan para pelayan publik di lembaga ini. Secara halus, Okky mengeluarkan fakta, hal itu juga terjadi juga di lembaga pemerintah yang mengurus pertanahan:

“Urus sertifikat itu susah. Kalau mau bikin ya harus kenal orang dalam, harus pakai duit…(hal. 98).

Juga di penjara:

“Di setiap pintu yang dilewati, uang sepuluh ribu harus diberikan ke petugas. Ada tiga pintu yang mesti dilewati untuk sampai ke ruang besuk [di penjara]. Petugas-petugas itu memang tak pernah meminta, apalaggi memaksa. Tapi kalau tidak diberi, jangan harap dia bisa bertemu dengan Arimbi. “Delapan enam ya!” celetuk petugas ketika Ananta [suami Arimbi] menggenggamkan uang di tangan mereka. (hal. 182).

Delapan enam (86), kode yang biasa dipakai polisi untuk menggantikan perintah “bubar jalan”, dipakai oleh para pelayan publik untuk meminta permakluman atas permintaan “ucapan terima kasih” untuk jasa yang mereka berikan pada masyarakat. Artinya pun jadi berubah: “semua bisa diatur, asal ada uang”.

Novel kedua Okky Madasari ini berhasil menggambarkan praktik korupsi yang sudah mendarah daging di hampir setiap aparat pelayan publik di negeri ini. Sebagai orang yang pernah menjadi jurnalis yang ngepos di KPK, Okky sangat jeli melihat kasus-kasus tersembunyi yang dia tuangkan ke dalam kisah hidup Arimbi, seorang juru ketik di pengadilan yang kepolosannya goyah karena tergiur uang yang dengan mudah dia dapatkan. Kesulitan hidup yang Arimbi hadapi untuk sementara teratasi, meski kemudian harus dia bayar mahal dengan hukuman penjara karena tuntutan kasus korupsi.

Terlepas dari keberhasilan Okky menuangkan cerita yang ditulis dalam bahasa yang ringan dan plot yang sederhana, ada satu hal yang mengganjal. Apa benar seorang pegawai kelas rendah di pengadilan, seorang juru ketik yang sama sekali tidak punya akses dan wewenang untuk mempengaruhi keputusan hakim selain membuat salinan perkara untuk pengacara – seperti Arimbi – bisa menjadi terdakwa utama kasus penyuapan terhadap hakim?

Pertanyaan yang tidak penting, yang juga tidak penting untuk dijawab baik oleh Okky maupun pembaca novel ini. Yang lebih penting, kisah Arimbi bisa menjadi renungan saat kita dihadapi pilihan seperti yang dia alami: melepas kepolosan demi materi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau tetap memelihara kejujuran meski dipandang miring oleh lingkungan yang jelas sudah miring.(E3)
Foto: 3.bp.blogspot.com
Judul buku: 86
Penulis: Okky Madasari
Tempat dan Tahun Terbit: Jakarta, 2011
Penerbit: PT Gramedia
ISBN: 9789792267693
Paginasi: 256 hal, 20 cm

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s