Saya Gila Sepak Bola, Sepak Bola Memang Gila

“Saya gila bola”. Kalimat pembuka dalam buku ini menggambarkan alasan Franklin Foer untuk menulis buku ini. Sekaligus, menggambarkan kegilaan – kegilaan yang terjadi dalam dunia sepak bola, yang tidak melulu berisikan perjuangan atlet-atlet untuk membawa tim mereka menuju kemenangan.

Tapi sepak bola memang gila. Ini adalah salah satu cabang olahraga yang mampu menyedot fanatisme gila-gilaan dari pendukung sebuah kesebelasan. Pertandingan yang digelar untuk cabang olahraga satu ini bisa dihadiri ratusan ribu penonton. Dua hal yang mungkin hanya bisa disaingi oleh American football dan baseball, olahraga khas orang Amerika.

Sepak bola memang gila. Bayangkan betapa globalisasi lebih dulu terjadi dalam sepak bola ketimbang pikiran politikus dunia. Bagaimana tidak, pemain dari berbagai negara, yang menggunakan bahasa yang berbeda, dan menganut ideologi yang saling berbenturan, mampu secara kompak bekerja sama membela tim mereka. Bahkan, “sepak bola sepertinya lebih akur dengan globalisasi ketimbang perekonomian manapun di muka bumi ini” (hal. ix).

Sepak bola memang gila. Saking gilanya, cabang olahraga ini bisa dianggap merepresentasikan paham yang diusung penguasa. Generalissimo Franco, diktator yang berkuasa di Spanyol tahun 1939 hingga 1975, bersedia memberi amnesti pada pemain-pemain Barcelona FC, hanya agar mereka menelan kekalahan telak 1-11 dari Real Madrid, klub yang dia dukung karena sangat “kanan”. “Jangan lupa bahwa sebagian dari kalian bisa bermain gara-gara kemurahan hati rezim yang mau mengampuni kurangnya rasa patriotisme kalian”, kata sang Jenderal. Perlu diketahui, bagi Franco, Barcelona FC adalah organisasi keempat yang harus disapu habis setelah kelompok komunis, anarkis, dan separatis.

Sepak bola memang gila. Di cabang olahraga ini, konflik agama bahkan dikomersilkan. Ini bisa dilihat pada perseteruan antara pendukung Glasgow Rangers yang kebanyakan menganut Protestan dengan pendukung Glasgow Celtics yang turun temurun menganut Katolik.

“Pertikaian antara kedua seteru yang menghuni satu kota ini telah menghasilkan kisah-kisah horor persepakbolaan. Ada yang ditolak bekerja karena mendukung tim lawan. Ada fans yang dibunuh karena mengenakan kaos yang salah di lingkungan yang salah. Sepertinya, tidak ada yang lebih dibenci selain tetangga sendiri. Tapi perseteruan Celtic dengan Rangers lebih dari sekedar kebencian terhadap orang terdekat. Inilah perang yang belum tuntas antara Katolik dengan gerakan Reformasi Protestan” (hal. 31).

Padahal, anggota kedua tim belum tentu merepresentasikan agama yang dianut para pendukung mereka. Suporter Glasgow Rangers pernah diprovokasi untuk menyanyikan lagu anti-Katolik oleh kapten kesebelasan Lorenzo Amoruso. Amoruso sendiri berasal dari Italia dan beragama Katolik! Sejak akhir 90an, tim Rangers rutin mengontrak pemain Katolik yang jumlahnya sama banyak dengan Celtic. Uang bisa membeli apa saja, dan juara lebih penting daripada kemurnian agama (hal. 34).

Sepak bola memang gila. Cabang olahraga ini bisa menggambarkan bagaimana cecunguk-cecunguk merapok aset negara. Hal ini dialami berkali-kali oleh Edson Arantes do Nascimento, atau yang kita kenal dengan nama Pele. Pemain kelahiran Tres Coracoes ini dipakai oleh pemerintah Brasil sebagai simbol lonjakan ekonomi negara mereka.
Karir Pele melonjak setelah tendangannya menembus pertahanan kiper Swedia Anders Svensson, dan menghantarkan Brasil merebut Piala Dunia 1958. Namun prestasi besar menghalangi Pele untuk berangkat berlaga di liga-liga Eropa, seperti yang dilakukan Ronaldo dan Ronaldinho. Rezim Juscelino Kubitschek menyatakan Pele sebagai “kekayaan nasional yang tidak untuk diekspor”. Pele lantas jadi bulan-bulanan para penjilat yang menguras uangnya. “Sekali lagi, setelah semua peringatan dan pengalaman buruk itu, saya tanda tangani sesuatu yang tidak seharusnya saya tanda tangani”, tulis Pele dalam memoar tahun 1977 (hal. 118).

Dan sepak bola memang gila. Kegilaan para suporter, yang sempat disebut Margareth Thatcher sebagai “aib manusia yang beradab” seperti tak cukup sampai menghujat pemain dan wasit bila tim kesayangan mereka kalah. Bagi segudang sosiolog, seperti Susan Faludi, kerusuhan sepak bola memberi kesempatan bagi pria-pria tertekan, yang tercabut dari kerja tradisionalnya dan ditumbangkan dari martabat patriarkinya, untuk mememgang kendali. “Kalau para suporter ini berkubang dalam rasisme dan nasionalisme radikal, itu karena ideologi-ideologi tersebut berfungsi sebagai kiasan bagi kehidupan pribadi mereka. Bangsa dan ras mereka telah dikorbankan oleh dunia, sama buruknya seperti hidup mereka sendiri”.

Sekali lagi sepak bola memang gila. Mungkin kegilaan ini yang menyebabkan seorang Nurdin Khalid kukuh memegang jabatannya sebagai ketua PSSI, meski harus lewat penjara. Gila, mungkin hanya di Indonesia hal ini bisa terjadi. Sepak bola memang gila. Kegilaan ini yang membuat kehidupan seorang atlet tak cukup sekedar berlatih dan bermain dengan baik. Sorotan suporter yang akan mengamuk bila mereka kalah, dan sorotan media terhadap kehidupan mereka yang bisa jadi membuat mereka gila betulan.

Terakhir, sepak bola memang gila. Tapi semoga saja kegilaan komersialisasi, korupsi, globalisasi, dan selebritas yang dihadirkan Franklin Foer dalam buku ini hanya sedikit merepresentasikan kegilaan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan di dunia yang semakin menggila.

Judul buku: Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim tentang Sosial-Politik Globalisasi
Penulis: Franklin Foer, Alfinto Wahhab (penerjemah)
Judul Asli: How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 248
ISBN: 9799998069

Advertisements

Leave a comment

Filed under Journalistic, Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s