Membaca Lolita di Teheran

Reading Lolita in Tehran: A Memoir in BooksReading Lolita in Tehran: A Memoir in Books by Azar Nafisi
My rating: 5 of 5 stars

“Gatsby is being put on trial because it disturbs us – at least some of us. […] This is not the first time a novel – a non-political novel – has been put on trial by a state. […] Remember the famous trials of Madame Bovary? Ulysses, Lady Chatterly’s Lover dan Lolita? In each case the novel won. But let me focus on a point that seems to trouble his honor the judge, as well as the prosecutor: the lure of money and its role in the novel.”

Paragraf tadi menggambarkan persidangan imajiner yang digelar Azar Nafisi untuk kelas sastra yang dia ajar. Dalam persidangan itu, “Great Gatsby” duduk sebagai terdakwa. Tuduhannya tidak main-main: menyebar pikiran cabul, pandangan yang mendewa-dewakan materi, dan – yang paling memberatkan – menanamkan paham Barat pada masyarakat Iran.

Beginilah seharusnya buku diperlakukan. Dia bisa didebat, dicaci maki, dipertentangkan. Tapi, mengapa orang bisa begitu takut terhadap satu karya sastra, sehingga dia harus dilarang – bahkan dimusnahkan?

Hingga saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Tapi mungkin orang-orang yang melarang tadi justru takut pada kekhawatirannya sendiri, takut akan kebenaran yang disodorkan dalam karya tadi. Padahal, “It is only through literature that one can put oneself in someone else’s shoes and understand the other’s different and contradictory sides and refrain from becoming too ruthless…” (hal. 118).

Memoar yang ditulis Nafisi ini tidak melulu mengisahkan karya sastra. Porsi terbesar dari buku ini justru menyodorkan kehidupan yang dialami Nafisi beserta ketujuh muridnya (semuanya perempuan) selama revolusi yang berkecamuk di Iran pada periode 1970an – 1980an, dan pemerintahan revolusioner Islam di Iran di bawah kepemimpinan Khomeini. Terutama, bagaimana sebagian besar perempuan Iran merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah. Mirip-mirip dengan apa yang sedang terjadi di Aceh sekarang.

Sekelumit tentang polemik politik domestik Iran bisa dibaca di sini.

Ada satu hal yang menjadi ciri pemerintahan otoriter: ancaman terhadap kebebasan berpikir. Untuk yang satu ini, Nafisi berpendapat: “I have a recurring fantasy that one ore article has been added to the Bill of Rights: the right of free access to imagination. I have come to believe that genuine democracy cannot exist without the freedom to imagine and the right to use imaginative works without any restriction.” (lits)

View all my reviews

Advertisements

2 Comments

Filed under Memoir

2 responses to “Membaca Lolita di Teheran

  1. baca2 blognya, review bagus2 🙂

  2. Lita Soerjadinata

    thanks, salam kenal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s