Madita dan Lisbet: Kritik Sosial dalam Cerita Anak

Madicken dan LisabetMadicken dan Lisabet by Astrid Lindgren
My rating: 5 of 5 stars

“Matahari bulan Mei, tersenyum kembali!”

Kalimat ini diucapkan Madita dan Lisbet, bersama-sama penduduk di kota tempat kakak beradik ini tinggal pada perayaan Hari Valborg, yang diadakan setiap 30 April, untuk menyambut musim semi. *Saya membayangkan mereka meneriakkannya dengan gaya teriakan Sailor Moon*

Dan pengalaman sehari-hari Madita dan Lisben mulai tanggal 30 April sampai 30 April di tahun berikutnya mengisi cerita buku ini.

Meski sudah berkali-kali membacanya, baru semalam saya ngeh kalau ada beberapa kritikan yang sepertinya berusaha diungkap Astrid Lindgren terhadap masyarakat yang ada di Swedia pada saat itu (buku ini terbit pertama kali tahun 1976). Tapi tetap melalui kata-kata Madita dan Lisbet yang polos, khas anak-anak.

Misalnya tentang Santa Klaus:

Papa, tahukah Papa apa kata Mia kemarin ini? Dia bilang: Santa Klaus cuma datang ke orang-orang kaya, tidak pernah mendatangi kami.” Madita bertambah sedih karena Mia, kawannya yang miskin papa, hanya mendapat kunjungan dari Jawatan Sosial, yang -hanya- membawa makanan, tapi tidak membawa hadiah Natal.

Sikap diskriminatif dari orang-orang kaya kota itu tak luput dari kritikan Astrid Lindgren, yang dia ungkap melalui tokoh Ibu Walikota. Dalam buku ini diceritakan ayah Madita dan Lisbet mendapat undangan untuk datang ke Pesta Dansa Musim Gugur. Jonas, ayah mereka, mengajak seluruh anggota keluarganya, termasuk Alma, pembantu mereka. Sikap ini secara terang-terangan ditentang oleh Bu Walikota: “Jonas yang baik, tidak biasanya kita mengajak pembantu ke Pesta ini.” Kalimat itu dengan enteng dibalas Jonas: “Kalau begitu sudah waktunya berubah, kurasa.”

Sikap proletar yang diterapkan Jonas rupanya menular pada kedua anaknya. Madita tak segan memberi sebagian besar uang yang dia peroleh lewat lotre untuk tetangganya yang tidak mampu membayar sewa rumah, atau tanpa pikir panjang memberikan kalung emasnya pada Mia sebagai hadiah Natal.

Tapi yang namanya anak-anak tetap anak-anak. Madita tetap usil, sok tahu, dan -kadang-kadang – suka pamer. Dia sempat berkelahi dengan Mia, sebelum kemudian bersahabat dengannya. Atau menerima tantangan Mia untuk naik ke atap sekolah. Atau Lisbet yang menangis ketakutan di tengah malam karena berpikir ada hantu di lemari.

Terlepas dari berbagai kritikan yang coba diungkapkan, Astrid Lindgren tetap meramu cerita ini dari sudut pandang anak-anak, dan berhasil.

Catatan: buku yang saya baca adalah edisi terjemahan Gramedia terbitan tahun 1991, dengan judul Madita dan Lisbet. Jadi nama itu yang saya pakai dalam review ini, bukan Madicken dan Lisabet, seperti judul edisi terjemahan tahun 2001 🙂

View all my reviews

Advertisements

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s