Mystery of Edwin Drood: Sebuah Ulasan

The Mystery of Edwin Drood (Modern Library Classics)The Mystery of Edwin Drood by Charles Dickens
My rating: 4 of 5 stars

“I call my book the Mystery, not the History of Edwin Drood.”

Kalimat itu diucapkan Dickens pada saudara iparnya, Georgina Hogart. Mystery of Edwin Drood – pada akhirnya – memang jadi misteri. Ini adalah novel yang tidak sempat diselesaikan Dickens karena keburu meninggal.

Penulisan Mystery of Edwin Drood pun dilingkupi oleh misteri di sekitar diri Charles Dickens sendiri. Sang penulis seperti merasa ajalnya sudah dekat saat menulis novel ini. Kate, putri Dickens, mengatakan bahwa pemikiran Dickens terlihat jauh lebih terang selama menulis novel ini.

Novel ini menceritakan menghilangnya Edwin Drood yang entah pergi tanpa pesan atau meninggal karena dibunuh. Paman Edwin, Jasper, menuduh Neville Landless telah membunuh kemenakannya, karena Jasper menyaksikan pertengkaran antara Neville dan Edwin beberapa malam sebelum Edwin Drood hilang.

Intrik-intrik kemudian bermunculan. Tapi semuanya dituangkan dengan cara khas Dickens: suasana musim dingin di Inggris yang serba muram, atau detil-detil tempat dan karakter yang sangat dalam.

Namun akhir dari novel ini memang serba menggantung – karena memang belum selesai. Saya masih bertanya-tanya apa sebetulnya posisi Tartar, seorang pensiunan angkatan laut yang muncul di tengah cerita, atau siapa Mr Datchery yang tiba-tiba muncul di Cloisterham. Tapi hal menggantung itu tidak mengganggu saya membaca sentilan-sentilan Dickens terhadap situasi yang ada di sekelilingnya pada masa itu.

Dickens memang dikenal atas kritikan-kritikan yang tertuang dalam novelnya, seperti ketidaktegasan penegakkan hukum dalam Oliver Twist, sekolah yang brutal dalam Pickwick Papers dan Bleak House, birokrasi pemerintahan – termasuk nepotisme – dalam Little Dorrit, dan utilitarianisme yang ekstim dalam the Hard Times.

Sikap Dickens yang tertuang dalam setiap karyanya mungkin mendapat pengaruh dari karirnya sebagai reporter Mirror of Parliament (1831-32). Semasa melakoni pekerjaan itu, Dickens menyaksikan langsung perdebatan nasional di Inggris yang pada akhirnya melahirkan the Great Reform Act (1832), yang disebut-sebut sebagai pintu menuju demokrasi moderen.(lits)

View all my reviews

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, literature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s