70 Tahun Lima Sekawan: Nafas Panjang Enid Blyton

Dick dan Julian melangkah ke luar, sambil bersiul-siul. Bu Philpot sudah masuk ke kamarnya. Hanya Anne, George dan Timmy yang masih tinggal di dapur.

“Aku agak menyesal datang kemari,” kata George, sambil membawa piring-piring kotor ke tempat cuci. “Banyak sekali pekerjaan Bu Philpot sekarang. Tapi – dia juga perlu uang…”

“Yah – kita kan bisa membantunya,” kata Anne. “Dan kita juga sudah berniat untuk selalu pergi seharian. Jadi tak usah sering-sering bertemu muka dengan Junior.”

Dick, Julian, George, Anne dan Timmy. Kelima nama itu agaknya akrab dengan orang-orang yang berusia menjelang remaja di era 1980an. Pada masa itu, khalayak pembaca di Indonesia, khususnya anak-anak, ramai membicarakan petualangan mereka melalui serial Lima Sekawan yang ditulis penulis Inggris, Enid Blyton.

Petualangan berbau detektif ini terbit pertama kali pada 24 Februari 1942, saat Enid Blyton merilis judul pertama dari serial ini: Five on a Treasure Island (Lima Sekawan: Di Pulau Harta). Ini berarti, serial yang niatnya hanya dibuat enam judul ini telah berusia 70 tahun.

Sukses di pasaran mendorong Enid Blyton untuk meneruskannya hingga 21 judul, termasuk Lima Sekawan: Memperjuangkan Harta Finniston yang salah satu adegannya dikutip di awal tulisan ini.

Lima Sekawan terus mencetak angka penjualan yang fantastis. Pada akhir 1953, serial ini laku hingga enam juta kopi sejak pertama diterbitkan, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kesuksesan ini juga diikuti dengan serial TV The Famous Five yang ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Serial ini menyodorkan kisah tiga kakak beradik (Julian, Dick dan Anne), satu sepupu (George – singkatan dari Georgina), dan seekor anjing (Timmy) yang bertemu setiap liburan. Kelimanya kemudian tanpa sengaja tersangkut misteri yang selalu berhasil mereka pecahkan.

Misteri yang disodorkan Enid Blyton dalam petualangan kelimanya bukanlah misteri pelik. Persoalan yang muncul “hanyalah” bagaimana menyembunyikan hasil penemuan Profesor Kirrin, ayah George, agar tidak dicuri oleh pihak yang ingin menyalahgunakan penemuan tersebut (Lima Sekawan: Menyamarkan Teman). Atau menyelamatkan harta keluarga (Lima Sekawan: Di Pulau Harta).

Tapi penyelesaian yang dilakukan tetap khas anak-anak dan tidak pernah melampaui kemampuan mereka, atau sesuatu jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Kemahiran yang mereka butuhkan cukup dengan menggunakan pisau lipat, memanjat pohon, atau kejelian menelaah satu peristiwa.

Hal tersebut tentunya berbeda jauh dengan serial yang melejit dalam dua dekade belakangan ini, di mana anak-anak disuguhkan dunia yang sama sekali berbeda dengan kenyataan, seperti dunia penyihir (Harry Potter) dan vampir (Twighlight). Ketiadaan jarak dengan kehidupan anak-anak inilah yang mungkin membuat Lima Sekawan mampu untuk tetap “hidup” hingga tujuh dekade.

Bagi pembaca di luar Inggris, membaca Lima Sekawan secara tidak langsung memberi gambaran mengenai kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat Inggris. Bagaimana mereka menghidangkan teh, atau keranjang piknik yang senantiasa berisi kue jahe dan limun, atau bagaimana anak-anak di Inggris bisa bebas menggunakan ruang publik seperti pantai, hutan, dan bahkan pulau kecil.

Meski mencetak sukses, Lima Sekawan bukannya bebas dari kritik, terutama yang ditujukan pada sang penulis yang lahir pada 11 Agustus 1897 ini. Sebagai penulis, Blyton dituding tidak bisa menulis.

Tulisannya acak-acakan. Belum lagi tudingan rasisme yang kerap muncul dalam karyanya – mendeskriditkan orang-orang gipsi dan berkulit berwarna, yang selalu digambarkan sebagai pencuri dan orang licik.

Nyatanya, tudingan itu tidak menghentikan anak-anak di seluruh dunia untuk membaca serial ini. Dalam beberapa tahun belakangan, serial Lima Sekawan laku hingga dua juta kopi setiap tahunnya. Bukan itu saja, Enid Blyton dipandang sebagai penulis yang paling produktif. Blyton, yang meninggal dunia pada 28 November 1968, telah menulis lebih dari 600 buku anak-anak, dan dikabarkan mampu menulis hingga 10.000 kata per hari.

Dalam perayaan 70 tahun terbitnya serial ini, penerbit Hodder Children’s Book menerbitkan ulang Lima Sekawan dengan ilustrasi baru yang dibuat Quentin Blake. Selama ini, Quentin Blake dikenal sebagai ilustrator untuk buku-buku yang ditulis Roald Dahl. Dalam proyek ini, Blake bekerja sama dengan Helen Oxenbury, Emma Chischester Clark, Oliver Jeffers, dan Chris Riddell. “Blake sangat antusias untuk mengeksplorasi ide-ide yang berkaitan dengan Lima Sekawan bersama lima ilustrator paling favorit di Inggris,” kata Anne McNeill, seperti ditulis guardian.co.uk.

Di Indonesia, Lima Sekawan marak menghiasi dunia perbukuan di era 1980an bersama karya Enid Blyton lain seperti Sapta Siaga (Secret Seven) dan Pasukan Mau Tahu (The Five Find). Pada masa itu, serial-serial karya Enid Blyton bersaing ketat dengan serial petualangan remaja karya penulis lokal seperti serial Noni yang ditulis Bung Smas atau Penjelajah Antariksa karya Djokolelono.

Kenyataan bahwa Lima Sekawan mampu bertahan hingga tujuh dekade kemudian menimbulkan pertanyaan. Mengapa serial yang dihasilkan penulis lokal, yang pada dekade 1980an mampu bersaing, sekarang malah tenggelam dan bahkan mulai dilupakan orang.

Ketiadaan niat dari penerbit untuk “memelihara” penulis serial asal negeri sendiri hingga ketidakmampuan penulis untuk menghasilkan tulisan yang mampu bertahan lama menambah panjang deretan pekerjaan rumah yang harus dilakukan, termasuk memupuk minat membaca masyarakat yang senantiasa dikatakan rendah.(*)

Foto: guardian.co.uk

Dimuat di: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=5457

Advertisements

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s