Pulang: Sebuah Resensi

PulangPulang by Leila S. Chudori
My rating: 4 of 5 stars

“Rumah adalah tempat di mana aku bisa merasa pulang”.

Pulang. Aktivitas ini terkadang menuntut banyak tenaga, usaha, biaya, dan – bahkan – airmata. Tapi buat sebagian orang, pulang harus dilakukan, minimal satu tahun sekali saat hari raya. Mahalnya harga tiket, macet, dan saling sikut demi memperebutkan bangku penumpang di angkutan umum pun rela dilakukan. Semuanya demi pulang.

Pulang bisa dipicu oleh keterikatan dengan akar. Agustinus Wibowo dalam “Garis Batas” (2011) menuliskan bahwa orang rela melakukan perjalanan pulang selama hayat dikandung badan untuk mencari “akar”nya. Ia akan merunut leluhurnya, mencari lokasi nenek moyangnya terlahir, mempertanyakan sejarahnya, lalu menemukan “akar” tempatnya melekatkan diri.

Adalah Dimas Suryo, seorang eksil yang terpaksa bermukim di Paris, Prancis. Dimas Suryo adalah satu butiran gelombang manusia Indonesia yang tidak bisa pulang kala Tragedi 1965 meletus. Bukan hanya tidak bisa pulang. Kehidupan Dimas Suryo tak bisa lepas dari pengamatan intel. Hidupnya bergantung pada belas kasihan LSM dan pemerintah Prancis. Keadaan ini membuat Dimas Suryo gerah, sehingga mendorongnya untuk mendirikan restoran khas Indonesia bersama teman-temannya, sesama eksil.

Pulang bisa berarti membuka lagi kenangan lama, pahit dan manis, gembira dan luka. Tapi pulang bisa juga berarti membuka aib, menguak identitas diri yang berusaha ditutupi. Ini terjadi pada diri Rama. Kemenakan Dimas Suryo ini merasa tertimpa “sial” karena ayahnya, Aji Suryo, terpaksa menerima gelar ET, Eks Tapol, akibat aktivitas politik Dimas Suryo. Gelar ini menyakitkan yang menerimanya, menyempitkan ruang gerak, dan bahkan menghilangkan kesempatan dalam mencari mata pencaharian. Rama berusaha menutupi identitas keluarganya ini, dengan menghapus nama keluarga dari dirinya. Apa daya. Seberapa pun besar dan kokoh sebatang pohon, dia harus tetap bertumpu pada akarnya. Siapa Rama, siapa Aji Suryo, pada akhirnya terkuak.

Pulang mudah untuk dilakukan oleh mereka yang memiliki akar yang jelas. Meski visanya setiap tahun ditolak, Dimas Suryo tahu ke mana dia ingin pulang. Meski berusaha ditutupi, Rama sebenarnya tahu dia ingin berlari dari rumah yang mana, dan tak ingin pulang. Bagaimana dengan mereka yang diwarisi dua akar? Lintang menghadapi dilema ini. Lintang Utara, putri semata wayang Dimas Suryo dan Vivienne Deveraux. Mudah bagi Lintang untuk menyatakan bahwa Paris adalah rumahnya, karena di kota itu dia dilahirkan. Tapi ayahnya, Dimas Suryo, selalu menyatakan keinginannya untuk pulang. Paris hanyalah tempat persinggahannya sebelum benar-benar kembali ke rumahnya yang sebenarnya, Indonesia. I.N.D.O.N.E.S.I.A. Negeri yang hanya bisa dibayangkan Lintang melalui cerita ayahnya dan teman-teman Dimas Suryo di Restoran Tanah Air. Negeri yang pada akhirnya bisa dia datangi, justru di saat negeri itu dibalut – sekali lagi – tragedi.

Novel terbaru Leila S. Chudori ini memaparkan derita korban Tragedi 1965 dari sudut pandang generasi pertama dan kedua. Tak sekedar mengajak kita menengok sejarah kelam yang penyelesaiannya belum juga tuntas hingga saat ini, “Pulang” juga mengajak kita berpikir ulang mengenai paham-paham yang selama ini dicekoki pemerintah Orde Baru, terutama mengenai komunisme dan marxisme. Berpikir ulang menuju pembebasan dari segala hal yang melekat pada diri seseorang. “Kenapa kita harus bergabung dengan salah satu kelompok hanya untuk menunjukkan sebuah keyakinan?” (Hal. 43). Pembebasan yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi meningkatnya militansi kelompok tertentu yang secara konsistensi memaksakan paham mereka terhadap kelompok lain, yang menafikan keberadaan paham yang dianut kelompok minoritas. Pemaksaan yang pada akhirnya menimbulkan diskriminasi dan kekerasan.

View all my reviews

Advertisements

Leave a comment

Filed under Fiksi, literature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s