Category Archives: Anthology

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Tolstoy: Sebuah Review

Seorang Einstein percaya bahwa segala pikiran, ucapan, ataupun perbuatan yang dilakukan manusia akan menggerakan partikel-partikel yang ada di jagad raya menuju ‘kejadian’ yang ‘sesuai’ dengan ketiga tindakan tadi. Sementara, bagi orang yang percaya pada Tuhan punya kesimpulan yang lebih sederhana: segala pikiran, ucapan, ataupun perbuatan yang dilakukan manusia akan menuai dosa atau pahala, sementara ‘kejadian’ yang terjadi dalam hidup manusia lebih dianggap takdir yag telah digariskan oleh Tuhan.

Saya teringat lagi pada kesimpulan di atas setelah saya membaca Two Old Men, atau yang dalam versi terjemahan bahasa Indonesia diberi judul Ziarah. Elisha Bórdof dan Efím Tarásitch Shevélef, dua sahabat yang masing-masing memiliki watak berbeda, memutuskan untuk berziarah ke Yerusalem. Entah bagaimana persisnya Tuhan turut campur, atau menurut versi Einstein: variabel apa yang menyebabkan partikel-partikel di jagad raya ini berbelok dalam perjalanan mereka, sehingga Elisha dan Efím terpaksa berpisah di tengah jalan. Efím meneruskan perjalanan hingga tiba di Yerusalem dengan selamat, sementara perjalanan Elisha menuju tempat ziarah yang ia impikan terpaksa berhenti di tengah jalan, setelah ia memutuskan untuk membantu keluarga miskin yang ia temui agar dapat bertahan hidup.

Haji sosial, demikian istilah kaum Muslim bagi orang yang merelakan harta untuk berangkat haji demi membantu kaum papa. Namun Islam menjanjikan ganjaran yang setara bagi orang yang melakukan haji sosial dengan mereka yang pergi haji sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Lihatlah Elisha. Secara fisik ia memang tidak pernah menginjakan kakinya di Yerusalem. Hartanya sudah tidak cukup lagi untuk membiayai perjalanan menuju ke tempat ziarah yang ia idam-idamkan. Tapi, ziarah sosial yang ia lakukan telah mengirimkan jiwanya untuk menuntaskan ibadah itu. Efím sang sahabat melihatnya berada di urutan terdepan saat ibadah utama di Yerusalem dilakukan. Bukan itu saja, rezeki bagi Elisha tetap tak berkurang. Ia dan keluarganya tetap bisa hidup selayaknya, sama seperti sebelum Elisha berangkat berziarah.

“Rezeki manusia memang sudah dijatahkan sesuai dengan takdir manusia tersebut. Tinggal bagaimana manusia mencari, mensyukuri, dan mengelolanya.” Kalimat yang pernah diucapkan seorang Romo pada saya kembali terngiang di telinga saat membaca How Much Land Does a Man Need? Dalam cerpen yang diterjemahkan secara harfiah menjadi Berapa Luaskah Tanah yang Diperlukan Seseorang diceritakan betapa gigih usaha seorang petani untuk memperoleh tanah, jauh dari kemampuannya untuk mengelola tanah itu. betapa hatinya tak pernah puas atas harta dan tanah yang telah dimilikinya. Ia tidak pernah merasa bahagia. Dirinya terus-terusan gelisah, takut harta miliknya diusik dan diambil orang. Bagaimana kemudian dia bisa terus menambah luas tanah yang menjadi kebanggaannya pun terus memberatkan pikiran dan hidupnya. Puaskah dirinya? Tidak. Ia justru mati dalam keadaan menderita.

Kebahagiaan manusia memang tidak dapat diukur. Lihat saja Ilyas, dalam cerpen berjudul sama dengan nama tokoh itu. ia justru baru bisa merasakan kebahagiaan setelah jatuh miskin dan menjadi seorang hamba sahaya. Kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan saat dirinya masih bergelimang harta. Atau seperti yang dialami oleh Ivan Dmitrich Aksionov, seorang saudagar kaya yang justru mengalami puncak kebahagiaan sesaat menjelang kematian, setelah berpuluh tahun mendekam dalam penjara atas kejahatan yang tidak pernah ia lakukan dalam God Sees the Truth, But Waits (Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu).

Masih ada beberapa cerita pendek yang dimuat dalam buku ini, yaitu Sebutir Gandum dari Tanah Tuhan, Setelah Pesta Dansa, Alyosha, Tujuh Belas Tahun Kemudian, Kebahagiaan Keluarga, Tuhan dan Manusia, serta Matinya Ivan Ilyich. Saat membaca tulisan yang ada di buku ini, saya seperti mengikuti gerakan-gerakan partikel yang dipicu oleh perbuatan masing-masing manusia, atau menyaksikan tangan Tuhan mengatur dan menyusun alur kehidupan yang dijalani manusia. Kelihaian penulis bernama asli Lev Nikolayevich Tolstoy ini dalam meramu tema sederhana yang berangkat dari kehidupan manusia sehari-hari memang sulit ditandingi hingga saat ini. Meski saat membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia saya seperti mendengarkan khotbah di gereja :D.(lits)

Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu: Kumpulan Cerita Tolstoy
Paperback, 399 pages
Published 2005 by Jalasutra

Advertisements

Leave a comment

Filed under Anthology, Short story