Category Archives: Children Book

In the Realm of the Never Fairies: The Secret World of Pixie Hollow – A Review

Have you ever felt a slight, shivering breeze whisper past your ear on a perfectly still day? Have you heard the faint chiming of tiny bells just before you fall asleep? Have you awoken suddenly in the darkest part of the night and seen a small dot of light dancing outside your window?

Magic might be closer than you think. For just beyond the world you see, there is another world where the are shimmers with pixie dust. There nothing is impossible and magic happens every day.

If you truly believe, clap your hands and follow that dancing dot of light. You might find yourself flying up beyond the stars, across a distant ocean, and into the heart of the most magical place of all…

Keep your ears tuned for the jingling sound of tiny bells – that is how fairies sound when they speak. Also fairies smell like cinnamon. If you smell cinnamon rolls baking when there is no kitchen nearby, you may be in the presence of a fairy.

Although fairies are indifferent to adult human – or “Clumsies” as the fairies call them – they love children, for without them they would not exist. It is children’s belief in magic alive. The moment a child stops believing, a fairy will cease to exist. The only ones who can save a fading fairy are other children, who must clap to show they believe.

Just like Clumsies, fairies have their own language. Some words of their language, for example:

Fly with you, means pleased to meet you
Fly safely, means see you later
I’d fly backward if I could, means I’m sorry
Fly again soon, means goodbye

For their language, they also their have own alphabet, that is called Leaf Lettering:

description

But fairies use this alphabet only to write a secret message for other fairies, such as this one:

description

Fairies are always related to beauty. That’s why they keep their hygiene by using these stuffs:

description

And of course, fairies need to eat. They prefer fresh fruit and vegetables whenever possible. And this is one of their menus:

description

Above all, this is the reason why I love fairies:

All fairies are born from laughter. When a baby laughs for the first time, the laugh flies out into the world. It dances and flits about, looking for its home. At last, when it has arrived in the place it belongs, it explodes, turning into a fairy…(lits)

Title: In the Realm of the Never Fairies: The Secret World of Pixie Hollow
Author: Walt Disney Company, Monique Peterson
Published : September 1st 2006 by Disney Press
ISBN: 0786847654
Hardcover, 140 pages

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

70 Tahun Lima Sekawan: Nafas Panjang Enid Blyton

Dick dan Julian melangkah ke luar, sambil bersiul-siul. Bu Philpot sudah masuk ke kamarnya. Hanya Anne, George dan Timmy yang masih tinggal di dapur.

“Aku agak menyesal datang kemari,” kata George, sambil membawa piring-piring kotor ke tempat cuci. “Banyak sekali pekerjaan Bu Philpot sekarang. Tapi – dia juga perlu uang…”

“Yah – kita kan bisa membantunya,” kata Anne. “Dan kita juga sudah berniat untuk selalu pergi seharian. Jadi tak usah sering-sering bertemu muka dengan Junior.”

Dick, Julian, George, Anne dan Timmy. Kelima nama itu agaknya akrab dengan orang-orang yang berusia menjelang remaja di era 1980an. Pada masa itu, khalayak pembaca di Indonesia, khususnya anak-anak, ramai membicarakan petualangan mereka melalui serial Lima Sekawan yang ditulis penulis Inggris, Enid Blyton.

Petualangan berbau detektif ini terbit pertama kali pada 24 Februari 1942, saat Enid Blyton merilis judul pertama dari serial ini: Five on a Treasure Island (Lima Sekawan: Di Pulau Harta). Ini berarti, serial yang niatnya hanya dibuat enam judul ini telah berusia 70 tahun.

Sukses di pasaran mendorong Enid Blyton untuk meneruskannya hingga 21 judul, termasuk Lima Sekawan: Memperjuangkan Harta Finniston yang salah satu adegannya dikutip di awal tulisan ini.

Lima Sekawan terus mencetak angka penjualan yang fantastis. Pada akhir 1953, serial ini laku hingga enam juta kopi sejak pertama diterbitkan, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kesuksesan ini juga diikuti dengan serial TV The Famous Five yang ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Serial ini menyodorkan kisah tiga kakak beradik (Julian, Dick dan Anne), satu sepupu (George – singkatan dari Georgina), dan seekor anjing (Timmy) yang bertemu setiap liburan. Kelimanya kemudian tanpa sengaja tersangkut misteri yang selalu berhasil mereka pecahkan.

Misteri yang disodorkan Enid Blyton dalam petualangan kelimanya bukanlah misteri pelik. Persoalan yang muncul “hanyalah” bagaimana menyembunyikan hasil penemuan Profesor Kirrin, ayah George, agar tidak dicuri oleh pihak yang ingin menyalahgunakan penemuan tersebut (Lima Sekawan: Menyamarkan Teman). Atau menyelamatkan harta keluarga (Lima Sekawan: Di Pulau Harta).

Tapi penyelesaian yang dilakukan tetap khas anak-anak dan tidak pernah melampaui kemampuan mereka, atau sesuatu jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Kemahiran yang mereka butuhkan cukup dengan menggunakan pisau lipat, memanjat pohon, atau kejelian menelaah satu peristiwa.

Hal tersebut tentunya berbeda jauh dengan serial yang melejit dalam dua dekade belakangan ini, di mana anak-anak disuguhkan dunia yang sama sekali berbeda dengan kenyataan, seperti dunia penyihir (Harry Potter) dan vampir (Twighlight). Ketiadaan jarak dengan kehidupan anak-anak inilah yang mungkin membuat Lima Sekawan mampu untuk tetap “hidup” hingga tujuh dekade.

Bagi pembaca di luar Inggris, membaca Lima Sekawan secara tidak langsung memberi gambaran mengenai kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat Inggris. Bagaimana mereka menghidangkan teh, atau keranjang piknik yang senantiasa berisi kue jahe dan limun, atau bagaimana anak-anak di Inggris bisa bebas menggunakan ruang publik seperti pantai, hutan, dan bahkan pulau kecil.

Meski mencetak sukses, Lima Sekawan bukannya bebas dari kritik, terutama yang ditujukan pada sang penulis yang lahir pada 11 Agustus 1897 ini. Sebagai penulis, Blyton dituding tidak bisa menulis.

Tulisannya acak-acakan. Belum lagi tudingan rasisme yang kerap muncul dalam karyanya – mendeskriditkan orang-orang gipsi dan berkulit berwarna, yang selalu digambarkan sebagai pencuri dan orang licik.

Nyatanya, tudingan itu tidak menghentikan anak-anak di seluruh dunia untuk membaca serial ini. Dalam beberapa tahun belakangan, serial Lima Sekawan laku hingga dua juta kopi setiap tahunnya. Bukan itu saja, Enid Blyton dipandang sebagai penulis yang paling produktif. Blyton, yang meninggal dunia pada 28 November 1968, telah menulis lebih dari 600 buku anak-anak, dan dikabarkan mampu menulis hingga 10.000 kata per hari.

Dalam perayaan 70 tahun terbitnya serial ini, penerbit Hodder Children’s Book menerbitkan ulang Lima Sekawan dengan ilustrasi baru yang dibuat Quentin Blake. Selama ini, Quentin Blake dikenal sebagai ilustrator untuk buku-buku yang ditulis Roald Dahl. Dalam proyek ini, Blake bekerja sama dengan Helen Oxenbury, Emma Chischester Clark, Oliver Jeffers, dan Chris Riddell. “Blake sangat antusias untuk mengeksplorasi ide-ide yang berkaitan dengan Lima Sekawan bersama lima ilustrator paling favorit di Inggris,” kata Anne McNeill, seperti ditulis guardian.co.uk.

Di Indonesia, Lima Sekawan marak menghiasi dunia perbukuan di era 1980an bersama karya Enid Blyton lain seperti Sapta Siaga (Secret Seven) dan Pasukan Mau Tahu (The Five Find). Pada masa itu, serial-serial karya Enid Blyton bersaing ketat dengan serial petualangan remaja karya penulis lokal seperti serial Noni yang ditulis Bung Smas atau Penjelajah Antariksa karya Djokolelono.

Kenyataan bahwa Lima Sekawan mampu bertahan hingga tujuh dekade kemudian menimbulkan pertanyaan. Mengapa serial yang dihasilkan penulis lokal, yang pada dekade 1980an mampu bersaing, sekarang malah tenggelam dan bahkan mulai dilupakan orang.

Ketiadaan niat dari penerbit untuk “memelihara” penulis serial asal negeri sendiri hingga ketidakmampuan penulis untuk menghasilkan tulisan yang mampu bertahan lama menambah panjang deretan pekerjaan rumah yang harus dilakukan, termasuk memupuk minat membaca masyarakat yang senantiasa dikatakan rendah.(*)

Foto: guardian.co.uk

Dimuat di: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=5457

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Madita dan Lisbet: Kritik Sosial dalam Cerita Anak

Madicken dan LisabetMadicken dan Lisabet by Astrid Lindgren
My rating: 5 of 5 stars

“Matahari bulan Mei, tersenyum kembali!”

Kalimat ini diucapkan Madita dan Lisbet, bersama-sama penduduk di kota tempat kakak beradik ini tinggal pada perayaan Hari Valborg, yang diadakan setiap 30 April, untuk menyambut musim semi. *Saya membayangkan mereka meneriakkannya dengan gaya teriakan Sailor Moon*

Dan pengalaman sehari-hari Madita dan Lisben mulai tanggal 30 April sampai 30 April di tahun berikutnya mengisi cerita buku ini.

Meski sudah berkali-kali membacanya, baru semalam saya ngeh kalau ada beberapa kritikan yang sepertinya berusaha diungkap Astrid Lindgren terhadap masyarakat yang ada di Swedia pada saat itu (buku ini terbit pertama kali tahun 1976). Tapi tetap melalui kata-kata Madita dan Lisbet yang polos, khas anak-anak.

Misalnya tentang Santa Klaus:

Papa, tahukah Papa apa kata Mia kemarin ini? Dia bilang: Santa Klaus cuma datang ke orang-orang kaya, tidak pernah mendatangi kami.” Madita bertambah sedih karena Mia, kawannya yang miskin papa, hanya mendapat kunjungan dari Jawatan Sosial, yang -hanya- membawa makanan, tapi tidak membawa hadiah Natal.

Sikap diskriminatif dari orang-orang kaya kota itu tak luput dari kritikan Astrid Lindgren, yang dia ungkap melalui tokoh Ibu Walikota. Dalam buku ini diceritakan ayah Madita dan Lisbet mendapat undangan untuk datang ke Pesta Dansa Musim Gugur. Jonas, ayah mereka, mengajak seluruh anggota keluarganya, termasuk Alma, pembantu mereka. Sikap ini secara terang-terangan ditentang oleh Bu Walikota: “Jonas yang baik, tidak biasanya kita mengajak pembantu ke Pesta ini.” Kalimat itu dengan enteng dibalas Jonas: “Kalau begitu sudah waktunya berubah, kurasa.”

Sikap proletar yang diterapkan Jonas rupanya menular pada kedua anaknya. Madita tak segan memberi sebagian besar uang yang dia peroleh lewat lotre untuk tetangganya yang tidak mampu membayar sewa rumah, atau tanpa pikir panjang memberikan kalung emasnya pada Mia sebagai hadiah Natal.

Tapi yang namanya anak-anak tetap anak-anak. Madita tetap usil, sok tahu, dan -kadang-kadang – suka pamer. Dia sempat berkelahi dengan Mia, sebelum kemudian bersahabat dengannya. Atau menerima tantangan Mia untuk naik ke atap sekolah. Atau Lisbet yang menangis ketakutan di tengah malam karena berpikir ada hantu di lemari.

Terlepas dari berbagai kritikan yang coba diungkapkan, Astrid Lindgren tetap meramu cerita ini dari sudut pandang anak-anak, dan berhasil.

Catatan: buku yang saya baca adalah edisi terjemahan Gramedia terbitan tahun 1991, dengan judul Madita dan Lisbet. Jadi nama itu yang saya pakai dalam review ini, bukan Madicken dan Lisabet, seperti judul edisi terjemahan tahun 2001 🙂

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Iggie’s House: Sebuah Review

Winnie betul-betul merasa mendapat kejutan saat melihat penghuni baru rumah Iggie, yang bersebelahan dengan rumahnya, tiba. Iggie adalah sahabat karibnya, yang sayangnya harus pindah mengikuti ayahnya yang mendapat tugas keluar negeri. “Pantas saja kau bilang kejutan, Iggie,” tulis Winnie dalam suratnya. “They are coloured people!”

Itulah kali pertama Winnie melihat dan – pada akhirnya – menjalin persahabatan dengan keluarga berkulit hitam. Tina, Herbie, dan Glenn adalah anak-anak keluarga Garber, keluarga negro pertama yang menjadi sahabat Winnie.

Namun, bukan Winnie saja yang merasa mendapat kejutan. Penghuni jalan di mana rumah Winnie dan keluarga Garber berada pun merasa demikian. Inilah kali pertama ada keluarga negro bermukim di jalan rumah mereka. Sayangnya, tidak semua merasa excited seperti Winnie. Ada penghuni yang begitu antipati dengan keberadaan keluarga negro di wilayah tempat tinggal mereka. Begitu antipatinya, sampai-sampai mereka membuat petisi untuk memaksa keluarga Garber pindah ke wilayah lain, yang banyak orang negronya.

Menjadi minoritas memang tidak menyenangkan. Entah dari warna kulit, asal suku, agama yang dianut, sampai status sosial ekonomi bisa jadi alasan diskriminasi yang dilakukan terhadap orang lain. “Saya tidak terbiasa melihat negro bermukim di wilayah ini,” alasan si pembuat petisi. Hanya karena tidak terbiasa. Padahal, jika kita tidak membiasakan diri bergaul dengan orang yang “berbeda” dengan kita, bagaimana kita bisa jadi terbiasa? Sungguh menyakitkan rasanya, dianggap tidak layak menjadi teman hanya karena kita “berbeda”.

Iggie’s House adalah buku kedua dari Judy Blume yang menceritakan konflik mengenai perbedaan yang dialami seorang anak perempuan di awal usia remaja yang telah saya baca. Bila Iggie’s House menceritakan konflik yang timbul akibat perbedaan ras, Aren’t You There, God? It’s Me, Margareth! menceritakan konflik yang timbul akibat perbedaan agama.

Buku-buku itu memang terkategori sebagai teenlit. Tapi menurut saya, orang dewasa pun perlu membacanya untuk merenungkan arti “perbedaan” itu. Adakalanya orang dewasa perlu mempelajari pola pikir anak-anak, yang jarang sekali menempatkan “perbedaan” sebagai satu masalah krusial dalam memperlakukan orang-orang yang ada di lingkungan mereka. (lits)

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

The Miraculous Journey of Edward Tulane: a Review

Abilene took him as her little brother,
but Edward Tulane never listened to a word she said.

Lawrence and Nellie took him as their daughter,
but Edward Tulane complained about lack of elegance and artistry.

Bull and Lucy took him as their companion,
Edward Tulane started feeling grateful.

Just when he was in the arms of Sarah Ruth,
Edward Tulane wanted to do more for her.

Why most people just realize how much they have been loved by others, but at the time when the sorrow exists?

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Tiuri, Sang Kesatria Sejati

Oleh: Lita Soerjadinata

Alkisah hiduplah Tiuri, calon kesatria Kerajaan Baginda Dagonaut. Malam itu Tiuri musti melewati cobaan sebelum dilantik menjadi kesatria. Ia, bersama calon kesatria lain, menghabiskan malam dengan berjaga di sebuah kapel kecil di luar tembok kota. Sambil berpuasa, tidak makan tidak minum, mereka harus berlutut dan merenungkan amanat besar yang menanti mereka. Mereka pantang tidur, berbicara, dan mendengarkan dunia luar hingga pukul tujuh pagi saat mereka dibawa menghadap raja. Saat bertirakat, Tiuri mendengar orang berbisik memohon pertolongan. Tiuri  yakin calon kesatria yang lain pun mendengar permintaan tolong itu. Entah  mengapa, hanya ia yang tergerak. Tiuri kemudian membuka pintu kapel (yang jelas melanggar aturan bertirakat) dan keluar mengikuti orang yang meminta tolong ke tempat tersembunyi. Permintaan tolong dari orang misterius tersebut terkesan mudah: mengantarkan sepucuk surat.

Pertolongan yang harus dilakukan Tiuri sederhana saja. Tiuri hanya perlu mencari Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, dan menyerahkan surat yang dititipkan orang misterius itu padanya. Dengan teori tugas tersebut hanya memerlukan waktu beberapa jam. Tiuri dapat kembali ke kapel sebelum pagi hari, dan dapat mengikuti upacara pelantikan kesatria baru keesokan paginya.

Nyatanya, tidak semudah itu. Tiuri mendapati Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih dalam keadaan terluka dan sekarat. Sesaat sebelum ia mati, sang kesatria meminta Tiuri untuk menggantikannya, menyerahkan surat yang ada pada Tiuri pada Raja Unauwen. Tiuri tidak dapat kembali ke kapel tempat ia bertirakat. Bahkan ia diburu oleh dua pihak. Pihak yang telah melukai dan membunuh Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, serta pihak berwajib yang menuduh Tiuri telah membunuh sang kesatria.

Kemudian, dimulailah perjalanan panjang Tiuri, menuju Kerajaan Baginda Unauwen. Bila negeri Raja Dagonaut terletak di timur Pegunungan Raya, maka negeri Raja Unauwen berada di barat Pegunungan Raya. Untuk sampai ke negeri Raja Unauwen, Tiuri harus pergi melewati hutan, menyusuri Begawan (sungai besar) Biru hingga ke mata air, menemui seorang petapa untuk dapat melewati pegunungan, lalu  menyeberangi Begawan Pelangi dan Begawan Putih, hingga tiba di negeri Raja Unauwen. Akhir cerita tentu dapat ditebak. Tiuri berhasil melewati berbagai rintangan, dan membacakan surat yang isinya begitu rahasia di hadapan Raja Unauwen. Surat dibacakan karena dalam perjalanan Tiuri terpaksa menghapal isi surat rahasia itu untuk kemudian dibakar saat Tiuri terjepit dan hampir saja tertangkap oleh musuh.

Inti dari cerita buku ini adalah sebuah konflik. Raja Unauwen memiliki sepasang putra kembar. Sang kakak serta merta dinobatkan sebagai putera mahkota, sementara sang adik tidak terima. Sang adik kemudian menaklukan wilayah Eviellan dan mendirikan kerajaan di sana, serta mengobarkan perang terhadap negeri Raja Unauwen. Penguasa Negeri Eviellan kemudian melakukan tipu muslihat dengan mengirimkan kabar perdamaian dengan Baginda Raja Unauwen. Apabila telah berhasil merebut kepercayaan mereka, Penguasa Negeri Eviellan akan segera merebut kekuasaan Negeri Unauwen. Surat yang dibawa Tiuri, berisikan kabar mengenai tipu muslihat itu. Makanya, Tiuri terus diburu oleh pengikut Penguasa Negeri Eviellan. Tiuri harus mati sebelum bisa menghadap Baginda Raja Unauwen.

Ada begitu banyak tokoh dalam cerita klasik yang dinobatkan sebagai cerita anak terbaik di Belanda periode 1955-2004 ini. Selain Tiuri, ada beberapa kesatria yang sulit dihapal namanya. Mereka, yang tadinya menuduh Tiuri telah membunuh Kesatria Hitam Laskar Perisai Putih, melindungi Tiuri dari serangan jahat Pusu Pengendara Merah – pengikut Penguasa Negeri Eviellan. Adapula Menaures sang petapa, yang ternyata adalah adik Baginda Raja Unauwen. Lantas ada Piak, remaja yang membantu dan melayani Menaures. Piak kemudian ikut dengan Tiuri, dari menyeberangi pegunungan hingga tiba di negeri Baginda Raja Unauwen. Di akhir cerita, Piak kemudian menjadi pengikut setia Tiuri. – Entah mengapa, dalam cerita khayalan asal Eropa tokoh utama laki-laki selalu disertai seorang pengikut setia. Sebut saja Frodo dalam trilogi Lord of the Rings, yang memiliki pengikut setia bernama Sam. Atau Harry Potter, yang memiliki Ron Weasley – . Tentu saja ada tokoh jahat. Namanya Slugor. Ia ditugaskan oleh Penguasa Negeri Eviellan untuk membuntuti dan membunuh Tiuri.

Tiuri, putra seorang kesatria pengabdi Raja Dagonaut yang juga bernama Tiuri, tentu saja resah. Ia gagal menjadi kesatria justru sesaat sebelum ia dilantik. Namun, Tiuri telah menjadi kesatria bahkan sebelum dilantik menjadi kesatria. Ia telah dengan berani mengambil pilihan, yang ternyata begitu berarti bagi banyak orang. Atas pertimbangan tersebut, Baginda Raja Dagonaut melantik Tiuri, sehari setelah Tiuri pulang ke Negeri Dagonaut.

Ada begitu banyak pesan moral dalam cerita ini. Tiuri, yang lebih memilih untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan ketimbang memperoleh pangkat dan gelar kehormatan. Menaures sang Petapa, memilih untuk tinggal di pegunungan, hidup bersahaja jauh dari segala puja puji dan kemewahan dalam istana Baginda Raja Unauwen. Piak, pengusung persahabatan sejati yang begitu tulus.

Saratnya pesan moral yang termuat dalam buku ini, bisa jadi membuat “Surat untuk Raja” mendapat Prijs voor het Beste Kinderboek voor het Jaar 1963 (Penghargaan Buku Anak-anak Terbaik Tahun 1963) dan penghargaan Griffel der Griffels 1955-2004 (Kalam di antara Kalam 1955-2004, buku anak-anak terbaik sepanjang periode 1955-2004). Sang penulis, Tonke Dragt dianugerahkan Staatsprijs voor Jeugdliteratuur (Hadiah Negara untuk Bidang Kesusastraan Remaja) di tahun 1976.

Bila dikaitkan dengan keadaan Indonesia saat ini, sepertinya akan banyak yang tersindir. Orang-orang berlomba memperoleh predikat ataupun gelar tertentu, demi prestige di masyarakat. Padahal, ia belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk menyandangnya. Hanya ada segelintir orang yang memilih menjadi Menaures – menjadi pendeta ketimbang penguasa. Karena kaum ulama pun, seperti berlomba memajang diri untuk bisa mereguk kekuasaan. Jarang sekali ada yang rela untuk dijadikan nomor dua, maunya berkuasa – seperti putra kedua Baginda Raja Unauwen.

Saya pun jadi berandai-andai. Seandainya Tiuri yang diserahkan Supersemar, apakah serta merta ia menunjuk dirinya sebagai penguasa, ataukah akan sama dengan cerita dalam buku ini: menyerahkan surat itu kepada “raja” yang sebenarnya?

Mungkin cerita setebal 518 halaman ini akan lebih nyaman dibaca dalam bahasa aslinya, atau versi dalam bahasa Inggris. Penterjemah sepertinya berusaha keras dalam menemukan istilah yang tepat untuk menggambarkan definisi yang ada dalam cerita asli, dan itu malah membuat pembaca perlu mengerutkan dahi untuk memahaminya – bahkan pembaca dewasa sekalipun, padahal ini buku anak-anak. Ketimbang menterjemahkan, akan lebih baik bila cerita ini disadur dan menggunakan bahasa anak-anak. Sayang sekali cerita seindah ini, dengan alur cerita yang begitu kuat, jadi sulit dinikmati hanya karena sang penterjemah kurang bisa berimprovisasi dengan bahasa Indonesia.(lits)

Leave a comment

Filed under Children Book