Category Archives: History

What I have learned from “Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian”

Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & PencapaianSejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian by Cora Vreede-de Stuers
My rating: 3 of 5 stars

Reinventing Motherhood on Mother’s Day

Mama thank you for who I am
Thank you for everything I’m not
Forgive me for the words unsaid
And for the times I’ve forgot

Taken from a song by pop/opera quartet Il Divo, the above words are quoted by many of my friends when sending greetings to their mothers today. For one day, mothers become the center of attention.

They receive flowers, greeting cards, and other gifts from their sons and daughters, grateful for what their mother’s have done for them.

This despite the fact that Anna Jarvis, the person who actually fought to commemorate Mother’s Day, tried to prevent the day being dominated by gift giving, as she feared that the day would become too commercialized. Inspired by her own mother – also named Anna Jarvis – who 150 years ago organized a day to raise awareness of poor health conditions in her community, young Anna Jarvis’ hard work in lobbying the United States’ government finally paid off when Woodrow Wilson signed a bill recognizing Mother’s Day as a national holiday in 1914.

Since that year, the second Sunday of May has become the most popular day of the year to dine out, and telephone lines record their highest traffic, as sons and daughters everywhere take advantage of this day to honor and to express appreciation of their mothers.

In Indonesia, there are two days to honor women. Hari Kartini (April 21) which is known as Women’s Emancipation Day, and today, Dec. 22 as Mother’s Day. I cannot see any difference between the two days as the reason behind their creation is the same: Raden Ajeng Kartini and Dewi Sartika, (and I cannot ignore Cut Nyak Dien) as women and mothers, cared about community development, with an emphasis on women.

During their era, women found it difficult to develop themselves. A woman was usually destined to marry and stay at home, bearing and raising children. It wasn’t deemed necessary to be able to read, write, or get a formal education. Kartini and Sartika struggled for those rights.

Focusing on what the elder Anna Jarvis did 150 years ago, I can conclude here that the responsibility of a mother is not merely within her family but should be broadened to the community. Jarvis, is a worthy role model because she proved by her action that a mother can have a positive impact on a community.

The ideas of Jarvis (and Kartini and Sartika) were correct. Just look at the role of mothers today. Not only do they raise their children, but many forge themselves careers as well. Teachers, politicians, police officers, indeed, a whole range of professions economic reasons and good education encourage them to do that. But I don’t think they (working mothers) forget their main “profession”, a mother. And many of them confess that.

“Good children will lead to good communities,” a friend said. That statement made me wonder, why are there still some women choosing to put their career before motherhood. Are they afraid, for example, that breast-feeding will result in them becoming less attractive by causing their breasts to drop? It sounds ridiculous to me. It’s the best way to keep slim, isn’t it?

History has noted that our domestic system – raising a family, building a home (not a house), and cuisine – was created and cultivated by women, or in this context, by mothers. While men were out hunting for food, women had the task of preparing food and looking after their children.

History has also noted that, unlike men, women tend to become famous because of what they do for their community. Just look at examples like Mother Teresa, R.A. Kartini, Dewi Sartika, or even Anna Jarvis herself. They became heroines because of what they did for their community. They fought for health, education, wealth, and security for humankind; a deed that is the basis of motherhood, caring for others.

So history shows us that mothers have an important role as their motherhood can affect the community and even the nation. I’m not a mother yet. But on this Mother’s day, I suggest that we start to think beyond just sending cards and flowers to show how much we love our mother; think instead of how to develop the ideals of motherhood in ourselves.

View all my reviews

Leave a comment

Filed under History

Pesan Berani dari Nirbaya

Oleh: Kurniawan Tri Yunanto

Banyak pihak mengatakan media massa kita saat ini kebablasan. Banyak pula penguasa, pejabat, ataupun pengusaha merasa namanya dicemarkan akibat pemberitaan media massa yang “kebabalasan”. Akibatnya tidak sedikit wartawan menghadapi berbagai risiko akibat tulisannya, dari dilaporkan polisi, dibawa ke pengadilan, hingga pembunuhan. Udin, wartawan Berita Nasional, yang dibunuh akibat pemberitaannya adalah salah satu contoh kasus media massa di zaman Orde Baru.

Jauh sebelum itu di negeri ini pernah hidup Indonesia Raya. Surat kabar pimpinan Mochtar Lubis ini cukup punya nama. Publik suka pada sikap koran ini yang memilih bahasa lugas, sederhana, mudah dimengerti, namun tidak meninggalkan fungsi utama media. Sebagai pilar keempat demokrasi, koran ini cukup kritis menyikapi kebijakan penguasa yang tidak pro kepentingan publik.

Pilihan keberanian sikap dalam pemberitaan itu harus dibayar mahal. Indonesia Raya dibredel oleh penguasa. Mochtar Lubis pun harus menjalani pengasingan di penjara, baik pada era Presiden Soekarno maupun Soeharto. “Apa yang bikin orang-orang berkuasa tak senang, atau takut pada tulisan-tulisan saya? Saya sungguh heran. Saya tak berjuang dalam organisasi massa, saya tidak membina sesuatu massa. Saya hanya mencurahkan isi hati nurani dan pikiran-pikiran saya untuk kemajuan bangsa, perbaikan keadaan, mengoreksi apa saya rasa perlu dikoreksi, tapi orang-orang berkuasa selalu merasa gelisah menghadapi buah pikiran saya,”tulis Mochtar Lubis.

Masuk penjara pada masa otoriter memang merupakan harga yang harus dibayar Mochtar Lubis atas kekritisan sikap dan tulisannya. Namun, tembok penjara hanya membatasi fisik. Tidak ada seorang pun, termasuk rezim otoriter apa pun, yang mampu membatasi kreativitas dan kekritisannya.

Sikap Mochtar Lubis sebagai wartawan tersebut selayaknya menjadi anutan wartawan saat ini. Sikap Indonesia Raya seharusnya juga menjadi contoh media massa yang katanya kini hidup di zaman demokratisasi ini.

Mochtar Lubis senantiasa mengingatkan media massa harus berani, baik dalam mengkritik penguasa maupun menyuarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan publik.

“Apakah salah menunjukkan kelemahan-kelemahan yang terlihat, yang mungkin membawa masyarakat menjauh dari cita-cita dasar Orde Baru, dari cita-cita kemanusiaan dalam Pancasila, cita-cita keadilan dan kemakmuran yang merata, cita-cita penegakan hukum dan lindungan hukum yang sama bagi setiap warga negara? Apakah ini salah? Apakah ini subversif? Apakah subversif meminta agar korupsi diberantas dan dihentikan? Apakah subversif meminta agar the rule of law sungguh-sungguh dilaksanakan bagi setiap orang?”

Menurut dia, berkomunikasi memang sulit. Dan, komunikasi itu akan tetap sulit sepanjang wahyu cakraningrat itu masih melekat pada diri penguasa negeri ini. Sepanjang budaya feodal itu masih bersarang, semasa itu pula penguasa merasa selalu benar, karena dia berkuasa atas pilihan dewata, maka si penguasa mestinya selalu benar.

Apakah bahasa yang dipakai wartawan kurang jernih, sehingga orang tak mengerti atau salah tangkap? Atau yang ditulis terlalu terus terang, sehingga yang merasa salah lalu merasa terkena dan marah, lalu menutup hati dan pikiran mereka terhadap apa yang dikemukakan?

Mochtar Lubis mencoba menjawab itu dengan menulis, “Betapapun terbinanya komunikasi terbuka dan mudah antara penguasa dan masyarakat, lingkaran setan ini harus dipatahkan. Penguasa-penguasa perlu mendengar isi hati dan berbagai ragam pendapat di tengah masyarakat yang harus diucapkan dengan bebas tanpa takut. Hanya dengan cara ini, pemerintah tak ubahnya sebagai seorang dokter dapat mengukur denyut jantung masyarakat, dan mengetahui apa-apa yang perlu diperbaiki untuk keselamatan rakyat banyak.”

Namun, kalau yang diberitakan media merupakan fakta dan benar adanya, mengapa yang berkuasa tidak membuka hati dan pikirannya? Apakah publik harus terus membenarkan keberadaan wahyu cakraningrat tersebut? Kritikan Mochtar yang tidak bisa dianggap remeh oleh media adalah ketidakberanian media massa dalam mengungkap kebobrokan penguasa. Seakan kita terlelap dengan pernyataan Harmoko (menteri penerangan era Orde Baru), yang mengatakan kebebasan pers dijamin. Benarkah?

Ketika Keberanian Diasingkan

Hidup dalam penjara memang tidak enak. Segala sesuatunya serba terbatas. Pembatasan fisik terkadang berpengaruh pada pembelengguan pikiran dan kekritisan. Namun, senjarah mencatat kebesaran jiwa Mochtar Lubis tidak pernah terpenjarakan.

Penahanan Mochtar Lubis datang tiba-tiba, seperti sergapan burung elang terhadap anak ayam yang sedang asyik makan padi. Dalam menjalani masa penahanan, pria kelahiran Padang ini tetap bersikap positif. Dengan sikap itulah dia merasa seperti pindah kantor saja. Ia tetap produktif, tetap menulis, melukis, bahkan tetap bisa menyalurkan kegemaran berolah raga.

Meski buku ini berisi catatan harian yang sederhana dan mungkin terkesan remeh. Di balik itu semua Mochtar Lubis berusaha mengkritik pihak-pihak yang bertanggung jawab atas sistem penjara di Indonesia. Salah satu kritiknya soal konsumsi makanan di penjara yang langsung berimbas pada kesehatan para terpidana. Jumlah kalori dan protein pada jatah makanan tahanan tidak pernah mencukupi kebutuhan manusia normal. “Makanan yang saya dapat berbeda dari menu untuk tahanan Gestapu/PKI. Makanan mereka lebih buruk dan tidak memadai lagi. Makanan saya sudah pasti tidak memenuhi syarat minimum kalori untuk makanan bergizi baik.”

Mochtar juga mengkritik sistem hukum kala itu yang masih relevan dengan masa transisi sekarang ini. Saat dalam pengasingan, dia bertemu dengan banyak tahanan Gestapu yang sudah bertahun-tahun dipenjara tanpa tuduhan jelas dan tanpa pengadilan sama sekali.

“Saya tidak keberatan dan berpesan kepada mereka agar menyampaikan kepada Jaksa Agung Ali Said agar penahanan saya jangan berlarut-larut. Tapi kalau memang pemerintah punya bukti saya telah melakukan pelanggaran hukum, agar saya segera dibawa ke pengadilan. Kalau tidak ada, agar saya dibebaskan kembali cepat.”

Pada masa penjajahan Jepang, Mochtar pernah terlibat dalam mendirikan kantor berita Antara. Tidak lama kemudian dia mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya. Harian itu akhirnya dilarang terbit karena isi pemberitaannya. Pada rezim Soekarno, Mochtar dijebloskan ke penjara selama hampir 9 tahun dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara dituangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).

Dan buku setebal 150 halaman ini juga merupakan catatan hariannya ketika menjalani masa tahanan oleh rezim Orde Baru di Penjara Nirbaya. Mochtar menulisnya di tahun 1975. Dia membuat naskah ini dalam bentuk naskah ketik. Banyak pesan yang tertuang dalam buku terbitan Yayasan Obor ini, salah satunya adalah media massa harus berani dan tetap kritis. (E4)

Judul : Nirbaya, Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru

Penulis : Mochtar Lubis

Editor : Hanif Suranto & Ignatius Haryanto

Penerbit : LSPP & Yayasan Obor Indonesia

Terbit : I April 2008

ISBN : 978-979-461-683-3

Tebal : xi + 142 hlm

©2008 VHRmedia.com

Leave a comment

Filed under History, Journalistic

Hikayat Inlander Melawan Kapitalisme

Oleh: Lita Soerjadinata

Kapitalis itu berasal dari kata kapital atau modal. Kapitalis adalah orang-orang yang memiliki modal. Mereka memiliki prinsip, dengan modal sekecil mungkin, mereka mencoba mencari keuntungan sebesar-besarnya. Karena prinsip yang mereka anut itulah, pada praktiknya mereka sering memeras tenaga para buruh untuk menghasilkan provit melimpah tanpa imbalan yang memadai. Hal itulah yang terjadi pada pengusaha-pengusaha Eropa. Mereka membuat pabrik-pabrik, mempekerjakan para pribumi dengan gaji yang sangat rendah. Mereka menjadi sangat kaya, akan tetapi para buruh itu senantiasa miskin. Padahal, tanpa mereka, tidak mungkin pabrik itu bisa menghasilkan keuntungan, bukan?”

Depresi hebat yang menghantam perekonomian dunia pada tahun 1930-an benar-benar menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Bahkan, Indonesia, yang saat itu masih menjadi jajahan Belanda terkena imbas. Malaise benar-benar menjadi momok mengerikan! Turunnya bursa saham di Amerika Serikat pada 29 Otober 1929, yang lebih dikenal dengan peristiwa Black Tuesday, menandai resesi ekonomi tersebut. Dunia industri terpukul. Tak sedikit pabrik gulung tikar. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, menyebabkan hampir sejuta orang di dunia menjadi pengangguran. Pertanian merana akibat merosotnya harga-harga hasil panen 40% hingga 60%.

Malaise kemudian dijadikan permakluman oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memaksa para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik milik orang Belanda di tanah jajahan mereka – Hindia Belanda – untuk bekerja tanpa jaminan apa-apa, dengan upah yang begitu minim. Politik etis yang dijalankan Van de Venter, atas desakan kaum liberal di Eropa, hanya dijalankan setengah hati. Gaji buruh hanya 45 sen sehari, berbanding tajam dengan para komisaris pemilik pabrik yang notabene kaum penjajah. Seorang pribumi pun, kendati memiliki saham yang cukup besar atas sebuah pabrik, hanya ditempatkan sebagai asisten administratur.

Kenyataan pahit tersebut harus dihadapi Raden Mas Rangga Puruhita. Delapan tahun ia habiskan untuk menempuh studi di Universitas Leiden, Belanda, hingga memperoleh gelar doktorandus di bidang ekonomi dengan predikat lulusan terbaik. Prestasi yang cukup mencengangkan saat itu, terlebih diperoleh oleh seorang inlander, warga kelas tiga yang derajatnya hanya sedikit di atas binatang, betapapun tingginya gelar kebangsawanan yang dimiliki.

Dengan latar belakang budaya keraton Jawa yang kental, buku De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme ini mengisahkan penderitaan kaum inlander pada masa penjajahan Belanda. Mengambil seting tahun 1930-an, dengan pabrik gula De Winst serta perkebunan tebu yang mendukungnya sebagai pusat permasalahan, novel ini menguraikan masa awal kebangkitan kaum muda Hindia Belanda untuk melawan penjajahan, serta dimulainya pemikiran untuk menentang kapitalisme, yang saat itu terwakilkan oleh pemerintah kolonialisme Belanda. Pemikiran-pemikiran akan kesadaran hak atas kepemilikan tanah, pendidikan, dan kehidupan yang jauh lebih baik di atas tanah air sendiri, banyak mencuat di sela-sela polemik pertentangan antara keteguhan dalam memegang tradisi dan modernisasi.

Berbagai karakter digambarkan dalam novel ini. Raden Rangga yang lebih terkesan safety player, Jatmiko dan Rara Sekar yang anarkis, Everdine Kareen Spinoza yang liberal, serta Eyang Haji dan Raden Suryanegara yang mewakili tokoh tua. Dan, untuk meramaikan isi cerita, konflik percintaan Raden Rangga – Kareen Spinoza – Rara Sekar – Jatmiko – Jan Thijsse pun dihadirkan. Namun bukan percintaan itu yang menjadi pokok cerita. Kesadaran untuk menggalangkan kekuatan ekonomi berbasis kerakyatan, dan hak untuk menentukan nasib di atas tanah sendiri, adalah isu utama yang dikemukakan Afifah Afra, sang penulis.

Pengemasan buku ini terbilang rapi, dengan pilihan desain sampul yang apik, juga dekorasi yang menghias tiap-tiap halamannya. Sayang, kesalahan ketik dan pengejaan yang acap kali muncul terasa mengganggu saat membaca buku ini. Penulisan déjà vu yang salah – di buku ini ditulis de javu – (déjà vu adalah istilah dalam bahasa Prancis yang menggambarkan satu situasi atau keadaan yang seolah-olah pernah dialami sebelumnya; déjà = sudah/telah; vu = turunan dari kata voir = melihat) serta Shakespeare yang secara konsisten ditulis Shakespiere berulang kali muncul. Atau mungkin, ada penulis Hamlet selain Shakespeare yang dikenal Afifah Afra? Entahlah. (E4)

Judul Buku: De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme

Penulis: Afifah Afra

Penerbit: Afra Publishing

Tahun Terbit: 2008

ISBN: 978-979- 1397-26-1

Paginasi: 336 p.; 20,5 cm

©2008 VHRmedia.com

Leave a comment

Filed under Fiksi, History

Dumbledore, Jean, dan Pink Triangle

Oleh: Rosmi Julitasari S

Dumbledore seorang gay! Pernyataan JK Rowling di Carnagie Hall Jumat malam 19 Oktober 2007 itu menjadi headline media massa Amerika Serikat akhir pekan lalu. Bahkan Washington Post membahasnya dalam tiga tulisan. Pernyataan tentang “jati diri” Albus Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts pada serial Harry Potter, itu semakin membuat kalangan Kristen militan Amerika bernafsu mengeluarkan serial Harry Potter dari kategori bacaan anak-anak, setelah isu anti-Tuhan yang mereka hembuskan sejak seri pertama, Harry Potter and The Sorceress Stone.

Homoseksual atau hubungan sejenis selalu dianggap salah dan penuh dosa. Para “pelaku” selalu ternafikan, bahkan mengalami penyiksaan. Meski saat ini sebagian kecil masyarakat bisa menerima dengan terbuka, nyatanya sebagian besar masyarakat masih menganggap isu ini tabu yang perlu dihilangkan.

Pelarangan praktik homoseksual praktis dimulai bersamaan dengan penyebaran Kristen pada awal abad pertama. Homoseksualitas dianggap sebagai tindakan tidak bermoral dan perusakan terhadap hukum Tuhan. Padahal, pada masa Yunani dan Romawi Kuno homoseksualitas mendapat tempat dalam masyarakat. Bahkan Socrates, Alexander Agung, Lord Byron, Julius Cesar, Michelangelo, ataupun Donatello tercatat pernah memiliki hubungan seks dan asmara dengan sesama jenis kelamin. Satu-satunya budaya kuno yang tercatat melarang praktik homoseksual adalah budaya Hebrew yang secara terbuka dilarang dalam Hukum Musa (Law of Moses).

Atas nama agama dan dogma, kaum homoseks seperti terlegitimasi untuk disiksa, terutama oleh pemimpin kaum fasis. Hitler beserta Nazi bercokol di tempat teratas dalam hal ini, dibandingkan dengan pemimpin fasis lain. US Memorial Holocaust mencatat, sedikitnya 100.000 orang homoseks ditangkap dan disiksa di kamp-kamp konsentrasi selama Hitler berkuasa. Dari angka itu 10.000 hingga 15.000 orang tewas karena penyiksaan atau eksperimen keji tentara Nazi.

Pembantaian terhadap kaum homoseks dan perang Hitler melawan pelacuran, yang merupakan penghancuran sistematis terhadap seksologi sekaligus merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat besar, ini diangkat FX Rudy Gunawan dalam buku Hitler vs Triangle: Perang Nazi Melawan Sifilis, Homoseks, dan Penghancuran Seksologi.

Buku setebal 150 halaman ini diawali dengan deskripsi film A Love to Hide yang menuturkan kisah cinta dan nasib seorang gay pada masa Hitler berkuasa. Jean yang homoseks mengalami penderitaan lahir batin karena “kelainan” itu, terutama saat ia ditahan di kamp konsentrasi tentara Nazi dan dikelompokkan bersama tahanan homoseks lain. Selama ditahan Jean dan rekan-rekannya diberi cap segitiga merah jambu (pink triangle) sebagai tanda mereka homo. “Tahanan berlabel segitiga merah jambu mengalami nasib yang lebih buruk dan lebih nista dari seekor anjing”. Bila salah seorang tahanan terjatuh saat menjalani kerja paksa, pada detik itu juga kepalanya ditembak oleh tentara pengawas. Ada juga tahanan yang ditelanjangi dan dibakar hidup-hidup di depan Jean. Jean sedikit “beruntung”. Ia tidak dibunuh karena ia orang Prancis, bukan Jerman dan bukan Yahudi.

Pemaparan buku ini berlanjut pada profil Hitler yang haus darah, yang secara eksplisit sudah menegaskan “niat keji” untuk menghancurkan konsep seksualitas manusia sebagai ekspresi personal dalam rangka pemenuhan eksistensi manusia seutuhnya dari sisi sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan spriritual. Doktrin-doktrin Hitler yang antifeminisme dan mengusung “kemurnian” ras Arya disinggung secara singkat dalam buku berukuran saku ini.

Ada banyak kisah mengejutkan tentang kekejaman Hitler dalam buku ini, terutama kekejaman terhadap kaum homoseks. Kisah-kisah tersebut hampir tidak pernah kita temui dalam tulisan-tulisan mengenai Hitler, tertutupi kisah kekejaman Holocaust yang semakin membetot perhatian dunia. Sayangnya penuturan kisah menyedihkan tersebut seperti luput dari tangan editor bahasa. Ada banyak istilah yang salah diartikan atau masih dalam bentuk bahasa aslinya. Namun setitik nila ini sama sekali tidak akan mengurangi ketertarikan untuk membaca buku ini, mengingat begitu banyak realita menyedihkan yang terpaparkan.

Jean kembali ke negaranya sesaat setelah kekuasaan Hitler runtuh. Namun ia meninggal hanya beberapa hari setelah berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata itu Jean berkata, “Apakah kau memilih bermata biru saat dilahirkan? Apakah kau memilih berambut pirang saat dilahirkan? Aku pun tidak memilih untuk mencintai sesama lelaki. Seperti itulah cinta. Kau tidak pernah tahu betapa berat menanggung dan merahasiakan cintamu karena masyarakat menistakan cintamu….” .

©2007 VHRmedia.com

Leave a comment

Filed under History

Revolusioner Kiri dari Lahan Subur Keislaman

Oleh: Rosmi Julitasari S

Kami sering ditanya: apa Anda seorang muslim – ya atau tidak? Apa Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kami menjawabnya? Ya, jawab saya, saat saya berdiri di hadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim. Namun ketika saya berdiri di hadapan manusia, saya bukan seorang muslim. Karena Tuhan berkata bahwa ada banyak iblis berkeliaran di antara manusia!

Kalimat tersebut diucapkan Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional 12 November 1922. Pidatonya pada kongres ke-4 tersebut masih menyoroti isu-isu yang telah dirancang Lenin, dan diadopsi pada Kongres Komunis ke-2, yang menekankan perlunya “memperjuangkan Pan-Islamisme”.

Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Namanya lebih dikenal sebagai tokoh gerakan kiri Indonesia (meski tenggelam oleh nama DN Aidit) ketimbang tokoh pergerakan nasional Indonesia. Hal ini disebabkan perannya dalam mendirikan Partai Komunis Indonesia, yang di masa kepemimpinan Soeharto menjadi “barang haram”.

Meski gelar pahlawan nasional yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963 tidak pernah dihapus oleh pemerintah Orde Baru, namanya dihapus dari buku pelajaran sejarah di sekolah. Bagi orang muda yang awam sejarah, nama Tan Malaka bisa jadi sama “jahatnya” dengan Aidit yang melakukan kudeta, karena sama-sama menjadi pemimpin Partai Komunis Indonesia. Kesan ini diperkuat Encyclopedia Britanica yang mendefinisikan Tan Malaka sebagai “pemimpin Komunis Indonesia yang bersaing dengan Soekarno untuk mengontrol gerakan nasionalis Indonesia”.

Perlakuan tidak adil pada Tan Malaka oleh pemerintah Orde Baru tidak berhenti begitu saja. Rupanya mereka berusaha menghapus nama Tan Malaka dalam sejarah Indonesia. Bukunya yang terkenal Dari Penjara ke Penjara, otobiografi yang ia tulis mengenai pengalamannya selama dipenjara oleh pemerintah Soekarno dalam kurun waktu 1947-1948, hingga tesis mengenai Tan Malaka yang ditulis peneliti asal Belanda Harry Poeze berjudul “Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949″ dibredel oleh Kejaksaan Agung, meski telah mencatat penjualan hingga 2.700 eksemplar.

Ketidakadilan itu pula yang menyebabkan pemberontakan kaum kiri di Sumatera Barat terasa senyap dalam sejarah. Satu-satunya pemberontakan yang dilakukan rakyat Sumatera Barat yang dikenang bangsa ini adalah Perang Paderi, yang dimotori Tuanku Imam Bonjol. Padahal, ada beberapa pemberontakan kaum kiri di ranah itu. Pemberontakan pertama terjadi pada 1927, yang dikenal dengan Pemberontakan Silungkang.

Gerakan kiri di Minang saat ini sering ditampik karena sebagian besar masyarakatnya masih memegang teguh prinsip Islam. Padahal, pengaruh revisionis Islam di Asia Barat dan pergerakan di Jawa membuktikan munculnya gerakan kiri radikal di Minangkabau yang berpangkal di sekolah menengah agama di Padang Panjang, Padang, dan Bukittinggi. H Agus Salim bahkan berargumen bahwa gerakan kiri tersebut bukanlah gerakan komunis, melainkan gerakan kaum radikal Islam yang bersatu dan memberi sokongan kepada kaum komunis yang pengaruhnya tidak penting di masa itu.

Usaha pelurusan sejarah ini yang mungkin mendorong Zulhasril Nasir menulis buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minang. Secara kronologis, Nasir berhasil merangkai latar belakang budaya Minangkabau dan gerakan kiri yang dilakukan Tan Malaka, mulai dari budaya merantau pemuda Minangkabau hingga aristokrasi palsu yang praktiknya masih dilakukan hingga saat ini oleh orang Minangkabau.

Judul: Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau

Penulis: Zulhasril Nasir

Penerbit: Ombak, 2007

xxii, 223 hal

ISBN: 978-979-3472-74-x

©2007 VHRmedia.com

5 Comments

Filed under History

Holocaust, Antara “Kebenaran” dan Kemanusiaan

Oleh: Yerry Nikholas Borang

Tragedi kemanusian terjadi dari masa ke masa. Namun, hal itu tidak selalu menjadi tempat berkaca dan belajar. Padahal, kodrat dasar manusia adalah makhluk yang harus terus belajar. Membuat kesalahan berkali-kali tentu bukan tindakan cerdas dan “manusiawi”.

Munculnya kontroversi soal pembantaian sistematis oleh Nazi Jerman terhadap bangsa Yahudi pada masa Perang Dunia II (holocaust) tampaknya mendorong masyarakat di beberapa bagian dunia kembali menelisik peristiwa kelam tersebut. Fenomena serupa, justru menguat di Iran, negara yang para pemimpinnya menganggap holocaust sebagai propaganda kaum Yahudi.

Boleh jadi itulah alasan Penerbit Medpress menerbitkan buku Holocaust: Fakta atau Fiksi?. Selain buku itu, dari kantor yang sama dengan Medpress di Perum Notirto Elok II Jalan Irian Jaya, Yogyakarta, terbit buku Benarkah Nazi Membantai Yahudi?. Buku terakhir diterbitkan dengan bendera Penerbit Narasi. Kedua buku terjemahan ini karya Stephane Downing. Sayang sekali penerbit tidak menyebutkan asal-usul pengarang buku ini serta latar belakang dan hubungan penulis dengan tragedi holocaust. Patut pula disayangkan, buku ini tak mencantumkan judul asli. Bahkan, penerbit buku Benarkah Nazi membantai Yahudi? tidak mencantumkan nama penerjemah.

Kedua buku ini menampilkan secara mencolok foto Hitler, Kanselir Jerman yang naik ke tampuk kekuasaan tahun 1933 setelah Partai Nazi merebut mayoritas kursi parlemen saat pemilu, lengkap dengan lambang swastika. Mengingat para korban holocaust, masyarakat Indonesia tampaknya tidak terlalu peduli terhadap penggunaan lambang-lambang tersebut. Mudah-mudahan hal itu bukan soal ketertarikan.

Kedua buku yang secara panjang lebar menggambarkan holocaust ini cukup informatif. Misalnya, pencantuman sejumlah data yang tidak mudah dibantah para penolak holocaust. Terutama fakta di Eropa sejak abad pertengahan terjadi pembantaian dan perlakuan diskriminatif terhadap Yahudi. Pogrom berarti pembantaian, yang berasal dari Rusia, mulai terjadi secara besar-besaran terhadap kaum Yahudi sejak awal abad XX di Rusia dan Eropa Timur. Sebagian orang Yahudi yang tinggal di Jerman ataupun wilayah lain Eropa merupakan “nyawa saringan” dari pogrom di Eropa Timur.

Buku Holocaust: Fakta atau Fiksi? terjemahan Dwi Ekasari Ariyani terbitan tahun 2007 ini menarik karena mencantumkan kronologi holocaust dari tahun 1933 hingga 1945. Sejak berdiri Nazi telah menempatkan Yahudi dan bangsa minoritas lain, seperti suku bangsa Gipsi di Eropa, sebagai target untuk dimusnahkan. Meski demikian, buku ini tidak mencatumkan daftar pustaka agar pembaca dapat memeriksa lebih jauh data-data dan sumber penulisan.

Sebagai hasil terjemahan, buku ini sungguh menyiksa pembaca. Sepertinya penerjemah tidak telaten dan terasa terburu-buru merampungkan tugasnya. Akibatnya terjadi sekian banyak kesalahan penerjemahan. Misalnya saja, di halaman 146 paragrap kedua alinea kedua penerjemah menulis “para kriminal Tatar”. Namun, merunut kata asli bahasa Inggris (crimean Tatar), seharusnya kata itu diterjemahkan sebagai suku bangsa Tatar dari wilayah Crimean. Jelas terjemahan tersebut jauh menyimpang. Sayangnya kesalahan serupa bertebaran hampir di setiap halaman. Demikian juga pada buku Benarkah Nazi Membantai Yahudi?. Kesalahan itu terjadi mungkin karena penerjemahan yang terburu-buru atau ketidakcermatan.

Walaupun terjadi hal-hal yang sangat mengganggu pembacaan, secara umum buku ini patut dibaca sebagai materi awal untuk menguak “kebenaran” holocaust, peristiwa kelam yang dinyatakan negara-negara Barat sebagai kejadian yang tercatat sangat terperinci.

Judul: Benarkah Nazi Membantai Yahudi?
Penulis: Stephane Downing
Penerjemah: ?
168 Halaman
ISBN 979-168-040-x
Penerbit: Narasi, Yogyakarta
Cetakan Pertama, 2007
Judul: Holocaust Fakta atau Fiksi?
Penulis: Stephane Downing
Penerjemah: Dwi Ekasari Ariyani
172 Halaman
ISBN 979-222-189-1
Penerbit: Medpress, Yogyakarta
Cetakan Pertama, 2007

©2007 VHRmedia.com

Leave a comment

Filed under History

Secercah Kabar dari Neraka

Oleh: Rosmi Julitasari S

Tak ada gunanya kau mencoba mengajariku. Aku telah memimpin pasukan Jerman selama lima tahun, dan selama itu aku tahu segala hal tentang perang, jauh lebih banyak dibandingkan jenderal mana pun.” (Hitler pada Guderian, Desember 1944).


21 April 1945. Sehari setelah ulang tahunnya, Adolf Hitler mengakhiri perang, dan menghadapi kenyataan: kalah perang. Selama lima setengah tahun tak ada yang dilakukannya selain memimpin perang. Saat itu Hitler memegang posisi sebagai Fuhrer of the Third Reich, Panglima Besar Angkatan Bersenjata Jerman. Perang, seperti dikemukakan Hitler 12 tahun sebelumnya, adalah bisnis harian, yang pasti akan dilakukan dalam mengurus sebuah negara.
Pada musim panas 1941 Hitler menyerang Rusia dan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, dua negara adidaya yang tidak ingin kekuatannya diusik. Penyerbuan itu dianggap banyak kalangan sebagai perang dunia yang sebenarnya. Menyerang Rusia dianggap keputusan terbodoh yang tidak termaafkan, dan menyatakan perang terhadap Amerika sama dengan bunuh diri.

Mengapa Hitler menyerbu Rusia? Padahal, dia dan Stalin menandatangani pakta yang menyepakati pembentukan pasukan Axis bersama Italia dan Jepang untuk melawan pasukan Amerika Serikat dan Inggris? Franz Scheneider dan Charles Gullans memaparkan, jawabannya terletak pada permusuhan alami antara kaum fasis di Jerman dan komunis di Rusia. Selain berambisi membasmi bangsa Yahudi, Hitler juga ingin membasmi ras-ras yang ia anggap rendah yang banyak berdiam di belahan timur Eropa. Hal ini yang menyebabkan ia memerintahkan pasukannya untuk tidak peduli atas jatuhnya korban warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Penyerbuan pasukan Hitler ke Rusia dikenal dengan nama Operasi Barbarossa. Operasi ini bertujuan menempatkan pasukan Jerman di seluruh penjuru Rusia. Hitler merencanakan membuat parade militer di Lapangan Merah sebelum Natal 1941.

Perang memang selalu menyebabkan penderitaan. Berbeda dari buku-buku yang lain, seperti Hitler as Military Commander karya John Strawson (1971) atau Hitler’s Strategy yang ditulis FH Hinsley (1951), Franz Scheneider dan Charles Gullans berusaha mengungkapkan penderitaan para prajurit perang dalam buku Neraka di Stalingrad.

Memang ada sedikit keriaan dalam kehidupan prajurit di medan perang. Hal-hal unik sekecil apa pun bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka. Namun yang melulu terasa adalah kesuraman dan penderitaan. Kelaparan, kedinginan, rasa rindu pada rumah dan sanak keluarga selalu mendera hari-hari melelahkan setiap prajurit. Para prajurit akhirnya merasa dikhianati dan ditipu rezim yang mengirim mereka ke medan perang.

Surat-surat yang dimuat dalam buku ini adalah sedikit saja dari yang terbawa dalam tujuh karung yang berhasil diterbangkan keluar Stalingrad. Namun karung-karung tersebut ditahan oleh Komando Tinggi Jerman. Nama yang dituju beserta alamatnya dan nama pengirim dihilangkan, untuk kemudian dijadikan bahan analisis dalam kajian tentang moral serdadu. Hasilnya sangat merusak bagi rezim Nazi, sehingga surat-surat tersebut disembunyikan dan dikunci dalam arsip angkatan bersenjata (hal. 52).

Membaca surat-surat yang dimuat dalam buku ini tergambar betapa menderita para serdadu. Tak peduli betapa benci masyarakat dunia pada pasukan Nazi, empati yang tinggi bisa diberikan pada mereka. Sayang sekali penerjemahan yang lemah membuat otak pembaca lelah mencerna kata dan kalimat buku ini. Sulit memperoleh bayangan penderitaan para serdadu seperti bisa kita nikmati saat membaca D-Day karya Stephen Ambrose (1994) yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Judul Buku: Neraka di Stalingrad

Penulis: Franz Scheneider & Charles Gullans

Penyunting: Floriberta Aning S

154 halaman

ISBN: 979-168-037-X

Cetakan Pertama ,2007

Penerbit: Narasi, Yogyakarta

©2007 VHRmedia.com

Leave a comment

Filed under History