Category Archives: Memoir

30 Hari Jadi Murid Anakku: Sebuah Resensi

30 Hari Jadi Murid Anakku30 Hari Jadi Murid Anakku by Mel (no last name)
My rating: 4 of 5 stars

Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Kalimat yang merupakan petikan dari lagu ‘Kasih Ibu’ di atas tentu tak asing buat kita. Lagu yang mengingatkan kita pada sosok ibu, sosok yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita tanpa pamrih.

Tanpa pamrih. Benarkah? Bagaimana dengan kalimat ini:
”Ibu sudah mengandung kamu selama sembilan bukan, susah payah melahirkan kamu, dan merawat kamu hingga sebesar ini, tapi sikap kamu seperti itu pada Ibu?”

Sang ibu sepertinya lupa: bahwa seorang anak lahir bukan atas keinginannya. Ia lahir atas kehendak kedua orang tuanya. Jadi, sudah sepatutnya orang tua merawat dan membesarkannya. Jangan sampai si anak tadi menyesal telah dilahirkan, karena terus-menerus dituntut untuk membayar hutang budi yang tak pernah ia minta. Terlebih mengutuknya sebagai seorang durhaka, hanya karena sang anak memilih pandangan hidup yang tidak sejalan dengan orang tuanya.

Jika kasih sayang orang tua tanpa pamrih, harusnya kalimat di atas tidak terlontar. Meski tak bermaksud menagih jasa, harusnya orang tua membiarkan sang anak berkembang sendiri, menemukan rasa syukurnya sendiri, dan menganggapnya cukup pintar dan tahu diri untuk hal tersebut tanpa perlu diberi ungkapan seperti di atas. Proses belajar tetap berjalan seumur hidup, kan? (hal. 144-145)

Proses belajar yang seumur hidup itu rupanya tidak hanya berlaku pada anak, tapi juga orang tua. Proses pembelajaran itulah yang dituangkan Mel, penulis buku ini. Mel berhasil menjungkirbalikkan pandangan superior orang tua atas anak-anak mereka. Bahwa orang tua selalu benar, dan merekalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Di buku ini, penulis tidak mengajari teori tentang bagaimana membesarkan anak. Ia hanya membeberkan pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui bersama kedua kesatrianya, yang telah memberinya pelajaran yang begitu berharga untuk terus berbagi kehidupan bersama mereka. Pelajaran yang bisa dipetik karena ia menempatkan diri sebagai seorang manusia pembelajar, dengan anak-anaknya sendiri sebagai sang guru.

Pengalaman yang penulis bagikan di sini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya biasa saja. Tak lebih dari kegemaran si Kakak mengoleksi serangga, atau si Adik yang hobi menatap hujan. Mungkin banyak ide serupa yang ada di pikiran kita, atau bahkan telah ditulis oleh orang lain. Tapi Mel berhasil menuliskannya dengan hati. Ia tak repot dengan teori. Dengan berbesar hati penulis mengakui kekhilafannya tatkala kehilangan kesabaran menghadapi kenakalan si Adik dan mendapat teguran dari si Kakak (hal. 46), atau bagaimana ia kewalahan dalam berkompromi dengan si Kakak (hal. 52). Tapi, segala remeh temeh itu seringkali luput dari pemahaman orang tua. Mereka lebih sering menempatkan diri mereka pada anak-anak mereka. Padahal, ”Engkau bisa seperti mereka, tapi jangan coba jadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu (Kahlil Gibran).

Yang jelas, penulis tidak mengajak kita serta merta untuk melakukan perlawanan pada orang tua atas egoism kita yang juga punya posisi sebagai anak dari orang tua kita. Pembelajaran yang penulis lalui justru mengingatkannya untuk membalas budi kepada orang tua kita (hal. 53).

Mel, jika kelak aku mendapatkan buku itu, ajari aku untuk menulisinya ya 🙂

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Memoir, Uncategorized

Perjalanan ke Atap Dunia: Sebuah Resensi

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengomentari buku ini. Faktor kedekatan dengan proses penulisan buku ini sempat membuat saya enggan untuk melakukannya. Bagaimana tidak, di sekitar pertengahan April 2011 DM mengontak saya untuk mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan menuju Tibet. Surel ini pun kemudian menjadi korespondensi rutin yang sebagian isinya, tanpa pernah saya sangka, tertuang dalam buku ini.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan subyektifitas. Saya jadi merasa nyaman saat membacanya, mengikuti alur ceritanya. Saya merasa ikut dalam perjalanan DM; terburu-buru mengejar bis menuju bandara, kesepian saat bermalam di bandara di Bangkok, atau pun gemas setelah tahu bahwa di kereta menuju Lhasa disediakan keran air panas untuk menyeduh mie. Saya pun ikut terharu membaca adegan saat DM menjejakkan kakinya di Tibet. Sebuah impian yang lama terpendam dan akhirnya tercapai selalu mengundang haru.

Namun faktor kedekatan juga menimbulkan harapan akan hadirnya sebuah karya yang sempurna, dan itu membuat saya gatal untuk mengomentari beberapa hal dalam buku ini. Pertama, beberapa pengulangan kalimat yang membuat saya merasa bosan. Kedua, kesalahan-kesalahan kecil tapi terasa sangat mengganggu. Misalnya, kening saya langsung berkerut begitu membuka bab pertama, karena all ditulis al. Kemudian kalimat yang memuat “Gunung Himalaya” (hal.44). Duh, Himalaya itu nama pegunungan kan? Kesalahan lain adalah beberapa kali Italia ditulis menjadi Itali, dan Jeanne ditulis menjadi Jean. Padahal, di Prancis (nama yang saya sebutkan ini adalah untuk tokoh perempuan asal Prancis), Jean adalah untuk laki-laki dan Jeanne untuk perempuan.

Di luar kelebihan dan kekurangan itu, saya ingin berterima kasih pada DM. Terima kasih atas diskusi-diskusi yang menarik selama proses penulisan buku ini berlangsung, terima kasih atas kesempatan sebagai pembaca pertama buku ini, termasuk pembaca pertama untuk kata pengantarnya. Terima kasih atas kesempatan untuk memilihkan gambar untuk cover dan judul buku ini. Terima kasih atas janji yang ditepati: mengalungkan mafela khas Tibet, seperti yang tertulis di akhir buku ini. Dan terakhir, terima kasih karena telah menjadikan saya sebagai bagian dari impian DM, dan menjadikan saya sebagai bagian dari hidupnya. (lits)

3 Comments

Filed under Memoir, Travelling, Uncategorized

Titik Nol: Sebuah Resensi

Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

Jadi, inilah klimaks dari catatan perjalanan yang disusun Agustinus Wibowo. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, yang menyuguhkan gegap gempita sebuah perjalanan, Titik Nol lebih banyak berisi racauan Agustinus sebagai seorang pejalan yang telah lama pergi dari rumah.

Racauan Agustinus ini adalah khas seorang pejalan yang mengalami titik nol. Betapa perjalanan dirinya untuk melebur ke dalam diri masyarakat yang baru dia temui, untuk kemudian dia lepas lagi di tempat yang baru.

Tapi justru setelah mengalami titik nol, seseorang bisa merasa terlahir kembali. Segala beban dari masa lalu, yang terbawa dari masa lalu, bisa dilepas. Langkah menuju hari baru pun terasa lebih ringan. Seperti halnya deret bilangan yang membutuhkan angka nol: satuan membutuhkan angka nol untuk menjadi puluhan, puluhan membutuhkan angka nol baru untuk menjadi ratusan, dan seterusnya.

Mungkin itu sebabnya agama menyarankan umatnya untuk melakukan ziarah. Karena selama ziarah, seseorang dipaksa untuk melepas segala atribut yang melekat pada dirinya, atribut yang mengusung ego dan kenyamanan yang melenakan. Semuanya hilang, larut ke titik nol, membuat diri tak lebih besar dari setitik debu yang ada di gurun kehidupan. Makna yang sayangnya sering terlupakan oleh mereka yang pulang dari ziarah. Ziarah menjadi satu kebanggaan, satu atribut baru yang dianggap menambah derajat diri mereka dibanding manusia lain. Padahal, “ziarah bukan pembuktian diri, bukanlah penaklukan tantangan, bukan penyingkapan misteri. Tak ada kebanggaan pasca ziarah” (hal 52).

Terlepas dari segala pujian untuk buku ini, ada dua ganjalan kecil yang saya temukan: “Mereka pun belum pernah melihat sisi lain dari danau yang sama, karena itu tanah sama sekali terlarang” (hal. 34). Itu tanah atau tanah itu? Serta “Sang petualang mengisahkan, semenjak meninggalkan padepokan sang pertapa, betapa sedih dianya mendengar tragedi pembantaian di zaman pemerintahan Indira Gandhi, … (hal 261). Betapa sedih dianya atau sedihnya dia?  (lits)

View all my reviews

2 Comments

Filed under Memoir, Travelling

Di Balik Burqa

Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang AfghanistanSelimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Kalimat tadi dilontarkan beberapa perempuan Afghanistan saat disodorkan foto-foto perempuan Malaysia yang sibuk bekerja di pabrik dan sawah. Kaum perempuan di Pastun dari Kandahar, satu wilayah di Afghanistan, sudah terbiasa hidup nyaman tersembunyi di sudut rumah dan di balik burqa. Hidup nyaman di bawah ketiak suami. Tak perlu lagi bekerja atau melepas kenyamanan burqa. Rasa aman yang ditawarkan selubung burqa muncul dalam bentuk persembunyian. Dunia luar penuh bahaya. Tak ada tempat yang lebih baik daripada rumah dan burqa. Selubung ini memberi perlindungan, rasa aman, terhadap jiwa yang sebenarnya dirundung ketakutan. (hal. 155)

Dunia luar penuh bahaya…. Kalimat yang ditulis dalam buku ini betul-betul berbeda dengan satu berita yang pernah saya tulis: “Afghanistan, Negara Paling Tidak Kondusif untuk Perempuan”. Berita yang diangkat dari laporan Trustlaw, sebuah divisi dari Thomson Reuters Foundation yang diumumkan sekitar pertengahan tahun lalu ini menempatkan Afghanistan sebagai negara yang paling berbahaya untuk ditinggali perempuan. Tradisi nikah paksa, sunat perempuan, dan hukum rajam yang sering dilakukan terhadap perempuan adalah alasannya.

Bab “Di Balik Burqa” dalam buku ini adalah bab yang paling menarik untuk saya. Selama ini, saya disuapi oleh kekejaman pria-pria Afghanistan terhadap kaum perempuan mereka. Perempuan yang hidungnya dipotong karena kabur dari rumah, padahal dia melarikan diri dari kekerasan yang dilakukan suaminya; perempuan di usia awal belasan tahun yang dipaksa menikah; hukum rajam terhadap perempuan korban perkosaan; “justifikasi” terhadap perilaku seks antara laki-laki dengan laki-laki (karena butuh mahar selangit untuk menikahi perempuan, sementara seks bebas dilarang), adalah berita-berita yang biasa saya baca mengenai Afghanistan.

Padahal…”dunia ini begitu nisbi. Konsep nilai yang menjadi standar hidup kita pun nisbi. Mana yang benar, mana yang salah, semua nisbi, tergantung dari siapa yang bicara, pemerintah mana yang membuat hukum, atau adat mana yang berlaku.” (hal. 382).

Perempuan dalam burqa bebas melihat dunia, walaupun semuanya dilihat melalui kotak-kotak jaring seperti mata faset lalat buah. Dia mengintip dunia, tapi dunia tak bisa mengintipnya. Dia tak berwajah, tak berwujud, jati dirinya terbungkus rapat. Dia anonim, dia menjadi manusia tembus pandang.

Bagi sebagian orang, dia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain, dia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali patriarkatnya menjadi perempuan anonim di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.

Kesalahpahaman terhadap burqa – dan pandangan mengenai kesetaraan gender – di Afghanistan yang sering dipaksakan oleh Barat ini membuat geram Nancy Hatch Dupree, penulis An Historical Guide to Afghanistan. “Kesetaraan gender itu sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional Afghanistan… tak perlu lagi para ahli-ahli ini mendatangkan konsep asing yang malah bertubrukan dengan nilai-nilai yang mereka anut,” kata Nancy Dupree. (hal.77)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Journalistic, Memoir

Membaca Lolita di Teheran

Reading Lolita in Tehran: A Memoir in BooksReading Lolita in Tehran: A Memoir in Books by Azar Nafisi
My rating: 5 of 5 stars

“Gatsby is being put on trial because it disturbs us – at least some of us. […] This is not the first time a novel – a non-political novel – has been put on trial by a state. […] Remember the famous trials of Madame Bovary? Ulysses, Lady Chatterly’s Lover dan Lolita? In each case the novel won. But let me focus on a point that seems to trouble his honor the judge, as well as the prosecutor: the lure of money and its role in the novel.”

Paragraf tadi menggambarkan persidangan imajiner yang digelar Azar Nafisi untuk kelas sastra yang dia ajar. Dalam persidangan itu, “Great Gatsby” duduk sebagai terdakwa. Tuduhannya tidak main-main: menyebar pikiran cabul, pandangan yang mendewa-dewakan materi, dan – yang paling memberatkan – menanamkan paham Barat pada masyarakat Iran.

Beginilah seharusnya buku diperlakukan. Dia bisa didebat, dicaci maki, dipertentangkan. Tapi, mengapa orang bisa begitu takut terhadap satu karya sastra, sehingga dia harus dilarang – bahkan dimusnahkan?

Hingga saat ini saya masih belum menemukan jawabannya. Tapi mungkin orang-orang yang melarang tadi justru takut pada kekhawatirannya sendiri, takut akan kebenaran yang disodorkan dalam karya tadi. Padahal, “It is only through literature that one can put oneself in someone else’s shoes and understand the other’s different and contradictory sides and refrain from becoming too ruthless…” (hal. 118).

Memoar yang ditulis Nafisi ini tidak melulu mengisahkan karya sastra. Porsi terbesar dari buku ini justru menyodorkan kehidupan yang dialami Nafisi beserta ketujuh muridnya (semuanya perempuan) selama revolusi yang berkecamuk di Iran pada periode 1970an – 1980an, dan pemerintahan revolusioner Islam di Iran di bawah kepemimpinan Khomeini. Terutama, bagaimana sebagian besar perempuan Iran merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah. Mirip-mirip dengan apa yang sedang terjadi di Aceh sekarang.

Sekelumit tentang polemik politik domestik Iran bisa dibaca di sini.

Ada satu hal yang menjadi ciri pemerintahan otoriter: ancaman terhadap kebebasan berpikir. Untuk yang satu ini, Nafisi berpendapat: “I have a recurring fantasy that one ore article has been added to the Bill of Rights: the right of free access to imagination. I have come to believe that genuine democracy cannot exist without the freedom to imagine and the right to use imaginative works without any restriction.” (lits)

View all my reviews

2 Comments

Filed under Memoir