Category Archives: Travelling

Perjalanan ke Atap Dunia: Sebuah Resensi

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengomentari buku ini. Faktor kedekatan dengan proses penulisan buku ini sempat membuat saya enggan untuk melakukannya. Bagaimana tidak, di sekitar pertengahan April 2011 DM mengontak saya untuk mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan menuju Tibet. Surel ini pun kemudian menjadi korespondensi rutin yang sebagian isinya, tanpa pernah saya sangka, tertuang dalam buku ini.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan subyektifitas. Saya jadi merasa nyaman saat membacanya, mengikuti alur ceritanya. Saya merasa ikut dalam perjalanan DM; terburu-buru mengejar bis menuju bandara, kesepian saat bermalam di bandara di Bangkok, atau pun gemas setelah tahu bahwa di kereta menuju Lhasa disediakan keran air panas untuk menyeduh mie. Saya pun ikut terharu membaca adegan saat DM menjejakkan kakinya di Tibet. Sebuah impian yang lama terpendam dan akhirnya tercapai selalu mengundang haru.

Namun faktor kedekatan juga menimbulkan harapan akan hadirnya sebuah karya yang sempurna, dan itu membuat saya gatal untuk mengomentari beberapa hal dalam buku ini. Pertama, beberapa pengulangan kalimat yang membuat saya merasa bosan. Kedua, kesalahan-kesalahan kecil tapi terasa sangat mengganggu. Misalnya, kening saya langsung berkerut begitu membuka bab pertama, karena all ditulis al. Kemudian kalimat yang memuat “Gunung Himalaya” (hal.44). Duh, Himalaya itu nama pegunungan kan? Kesalahan lain adalah beberapa kali Italia ditulis menjadi Itali, dan Jeanne ditulis menjadi Jean. Padahal, di Prancis (nama yang saya sebutkan ini adalah untuk tokoh perempuan asal Prancis), Jean adalah untuk laki-laki dan Jeanne untuk perempuan.

Di luar kelebihan dan kekurangan itu, saya ingin berterima kasih pada DM. Terima kasih atas diskusi-diskusi yang menarik selama proses penulisan buku ini berlangsung, terima kasih atas kesempatan sebagai pembaca pertama buku ini, termasuk pembaca pertama untuk kata pengantarnya. Terima kasih atas kesempatan untuk memilihkan gambar untuk cover dan judul buku ini. Terima kasih atas janji yang ditepati: mengalungkan mafela khas Tibet, seperti yang tertulis di akhir buku ini. Dan terakhir, terima kasih karena telah menjadikan saya sebagai bagian dari impian DM, dan menjadikan saya sebagai bagian dari hidupnya. (lits)

Advertisements

3 Comments

Filed under Memoir, Travelling, Uncategorized

Titik Nol: Sebuah Resensi

Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

Jadi, inilah klimaks dari catatan perjalanan yang disusun Agustinus Wibowo. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, yang menyuguhkan gegap gempita sebuah perjalanan, Titik Nol lebih banyak berisi racauan Agustinus sebagai seorang pejalan yang telah lama pergi dari rumah.

Racauan Agustinus ini adalah khas seorang pejalan yang mengalami titik nol. Betapa perjalanan dirinya untuk melebur ke dalam diri masyarakat yang baru dia temui, untuk kemudian dia lepas lagi di tempat yang baru.

Tapi justru setelah mengalami titik nol, seseorang bisa merasa terlahir kembali. Segala beban dari masa lalu, yang terbawa dari masa lalu, bisa dilepas. Langkah menuju hari baru pun terasa lebih ringan. Seperti halnya deret bilangan yang membutuhkan angka nol: satuan membutuhkan angka nol untuk menjadi puluhan, puluhan membutuhkan angka nol baru untuk menjadi ratusan, dan seterusnya.

Mungkin itu sebabnya agama menyarankan umatnya untuk melakukan ziarah. Karena selama ziarah, seseorang dipaksa untuk melepas segala atribut yang melekat pada dirinya, atribut yang mengusung ego dan kenyamanan yang melenakan. Semuanya hilang, larut ke titik nol, membuat diri tak lebih besar dari setitik debu yang ada di gurun kehidupan. Makna yang sayangnya sering terlupakan oleh mereka yang pulang dari ziarah. Ziarah menjadi satu kebanggaan, satu atribut baru yang dianggap menambah derajat diri mereka dibanding manusia lain. Padahal, “ziarah bukan pembuktian diri, bukanlah penaklukan tantangan, bukan penyingkapan misteri. Tak ada kebanggaan pasca ziarah” (hal 52).

Terlepas dari segala pujian untuk buku ini, ada dua ganjalan kecil yang saya temukan: “Mereka pun belum pernah melihat sisi lain dari danau yang sama, karena itu tanah sama sekali terlarang” (hal. 34). Itu tanah atau tanah itu? Serta “Sang petualang mengisahkan, semenjak meninggalkan padepokan sang pertapa, betapa sedih dianya mendengar tragedi pembantaian di zaman pemerintahan Indira Gandhi, … (hal 261). Betapa sedih dianya atau sedihnya dia?  (lits)

View all my reviews

2 Comments

Filed under Memoir, Travelling