Category Archives: Uncategorized

Diskusi: Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa

Leave a comment

September 20, 2016 · 7:10 pm

30 Hari Jadi Murid Anakku: Sebuah Resensi

30 Hari Jadi Murid Anakku30 Hari Jadi Murid Anakku by Mel (no last name)
My rating: 4 of 5 stars

Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya
Menyinari dunia

Kalimat yang merupakan petikan dari lagu ‘Kasih Ibu’ di atas tentu tak asing buat kita. Lagu yang mengingatkan kita pada sosok ibu, sosok yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita tanpa pamrih.

Tanpa pamrih. Benarkah? Bagaimana dengan kalimat ini:
”Ibu sudah mengandung kamu selama sembilan bukan, susah payah melahirkan kamu, dan merawat kamu hingga sebesar ini, tapi sikap kamu seperti itu pada Ibu?”

Sang ibu sepertinya lupa: bahwa seorang anak lahir bukan atas keinginannya. Ia lahir atas kehendak kedua orang tuanya. Jadi, sudah sepatutnya orang tua merawat dan membesarkannya. Jangan sampai si anak tadi menyesal telah dilahirkan, karena terus-menerus dituntut untuk membayar hutang budi yang tak pernah ia minta. Terlebih mengutuknya sebagai seorang durhaka, hanya karena sang anak memilih pandangan hidup yang tidak sejalan dengan orang tuanya.

Jika kasih sayang orang tua tanpa pamrih, harusnya kalimat di atas tidak terlontar. Meski tak bermaksud menagih jasa, harusnya orang tua membiarkan sang anak berkembang sendiri, menemukan rasa syukurnya sendiri, dan menganggapnya cukup pintar dan tahu diri untuk hal tersebut tanpa perlu diberi ungkapan seperti di atas. Proses belajar tetap berjalan seumur hidup, kan? (hal. 144-145)

Proses belajar yang seumur hidup itu rupanya tidak hanya berlaku pada anak, tapi juga orang tua. Proses pembelajaran itulah yang dituangkan Mel, penulis buku ini. Mel berhasil menjungkirbalikkan pandangan superior orang tua atas anak-anak mereka. Bahwa orang tua selalu benar, dan merekalah yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka.

Di buku ini, penulis tidak mengajari teori tentang bagaimana membesarkan anak. Ia hanya membeberkan pengalaman-pengalaman yang telah ia lalui bersama kedua kesatrianya, yang telah memberinya pelajaran yang begitu berharga untuk terus berbagi kehidupan bersama mereka. Pelajaran yang bisa dipetik karena ia menempatkan diri sebagai seorang manusia pembelajar, dengan anak-anaknya sendiri sebagai sang guru.

Pengalaman yang penulis bagikan di sini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Semuanya biasa saja. Tak lebih dari kegemaran si Kakak mengoleksi serangga, atau si Adik yang hobi menatap hujan. Mungkin banyak ide serupa yang ada di pikiran kita, atau bahkan telah ditulis oleh orang lain. Tapi Mel berhasil menuliskannya dengan hati. Ia tak repot dengan teori. Dengan berbesar hati penulis mengakui kekhilafannya tatkala kehilangan kesabaran menghadapi kenakalan si Adik dan mendapat teguran dari si Kakak (hal. 46), atau bagaimana ia kewalahan dalam berkompromi dengan si Kakak (hal. 52). Tapi, segala remeh temeh itu seringkali luput dari pemahaman orang tua. Mereka lebih sering menempatkan diri mereka pada anak-anak mereka. Padahal, ”Engkau bisa seperti mereka, tapi jangan coba jadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu (Kahlil Gibran).

Yang jelas, penulis tidak mengajak kita serta merta untuk melakukan perlawanan pada orang tua atas egoism kita yang juga punya posisi sebagai anak dari orang tua kita. Pembelajaran yang penulis lalui justru mengingatkannya untuk membalas budi kepada orang tua kita (hal. 53).

Mel, jika kelak aku mendapatkan buku itu, ajari aku untuk menulisinya ya 🙂

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Memoir, Uncategorized

Perjalanan ke Atap Dunia: Sebuah Resensi

Perjalanan ke Atap DuniaPerjalanan ke Atap Dunia by Daniel Mahendra
My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengomentari buku ini. Faktor kedekatan dengan proses penulisan buku ini sempat membuat saya enggan untuk melakukannya. Bagaimana tidak, di sekitar pertengahan April 2011 DM mengontak saya untuk mengabarkan kalau dia sedang dalam perjalanan menuju Tibet. Surel ini pun kemudian menjadi korespondensi rutin yang sebagian isinya, tanpa pernah saya sangka, tertuang dalam buku ini.

Kedekatan itu tentu saja menimbulkan subyektifitas. Saya jadi merasa nyaman saat membacanya, mengikuti alur ceritanya. Saya merasa ikut dalam perjalanan DM; terburu-buru mengejar bis menuju bandara, kesepian saat bermalam di bandara di Bangkok, atau pun gemas setelah tahu bahwa di kereta menuju Lhasa disediakan keran air panas untuk menyeduh mie. Saya pun ikut terharu membaca adegan saat DM menjejakkan kakinya di Tibet. Sebuah impian yang lama terpendam dan akhirnya tercapai selalu mengundang haru.

Namun faktor kedekatan juga menimbulkan harapan akan hadirnya sebuah karya yang sempurna, dan itu membuat saya gatal untuk mengomentari beberapa hal dalam buku ini. Pertama, beberapa pengulangan kalimat yang membuat saya merasa bosan. Kedua, kesalahan-kesalahan kecil tapi terasa sangat mengganggu. Misalnya, kening saya langsung berkerut begitu membuka bab pertama, karena all ditulis al. Kemudian kalimat yang memuat “Gunung Himalaya” (hal.44). Duh, Himalaya itu nama pegunungan kan? Kesalahan lain adalah beberapa kali Italia ditulis menjadi Itali, dan Jeanne ditulis menjadi Jean. Padahal, di Prancis (nama yang saya sebutkan ini adalah untuk tokoh perempuan asal Prancis), Jean adalah untuk laki-laki dan Jeanne untuk perempuan.

Di luar kelebihan dan kekurangan itu, saya ingin berterima kasih pada DM. Terima kasih atas diskusi-diskusi yang menarik selama proses penulisan buku ini berlangsung, terima kasih atas kesempatan sebagai pembaca pertama buku ini, termasuk pembaca pertama untuk kata pengantarnya. Terima kasih atas kesempatan untuk memilihkan gambar untuk cover dan judul buku ini. Terima kasih atas janji yang ditepati: mengalungkan mafela khas Tibet, seperti yang tertulis di akhir buku ini. Dan terakhir, terima kasih karena telah menjadikan saya sebagai bagian dari impian DM, dan menjadikan saya sebagai bagian dari hidupnya. (lits)

3 Comments

Filed under Memoir, Travelling, Uncategorized

Other Colors: a review

Other ColorsOther Colors by Orhan Pamuk
My rating: 4 of 5 stars

Why should I concern about banned books?

I was very surprised by the question because it came from a writer (wanna be?) whom I met at a gathering a year ago. When I asked if it happened to him, he could not say anything.

I recalled the occurrence when I read these sentences: “many writers we respect and value have chosen to take up forbidden topics purely because the very fact of prohibition was an injury to their pride” and “when another writer in another house is not free, no writer is free” (page 182). I think the sentence was kind of Pamuk’s reaction after he was trialed for “publicly denigrated Turkish identity”, and how he sees about freedom of expression. “I believe freedom of expression to be so important – because it allows us to discover the hidden truths of the societies in which we live”, he wrote in this book.

Banned books and freedom of expression were only two of many things I can learn from this books. Some other are including writing novels: “To write a novel is to be open to desires, winds, and inspirations, and also to dark recesses of our minds and their moments of mist and stillness,” (page 7) and “A writer’s progress will depend on to a large degree on having read good books. But to read well is not to pass one’s eyes and one’s mind slowly and carefully over a text: it is to immerse oneself utterly in its soul. This is why we fall in love with only a few books in a lifetime.” (lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lika-liku Bahasa Indonesia di Mata Tokoh Masyarakat

Jagat Bahasa Nasional: Pandangan Tokoh tentang Bahasa IndonesiaJagat Bahasa Nasional: Pandangan Tokoh tentang Bahasa Indonesia by P. Hasudungan Sirait
My rating: 2 of 5 stars

“Profesor doktor itu, doktor, S3, es teler…”. Kalimat itu dilontarkan seorang juru bicara sebuah partai politik saat diwawancara di sebuah stasiun televisi. Kalimat yang saya pikir tidak pantas diucapkan seorang birokrat yang tidak hanya duduk sebagai petinggi partai, tapi juga wakil rakyat.

Bukan sekali ini orang tersebut melontarkan kalimat yang tidak pantas dilontarkan di hadapan publik. Beberapa waktu lalu dia bahkan sempat mendapat kritik keras karena mengeluarkan kosa kata yang mewakili penghuni kebun binatang di sebuah sidang di parlemen.

Orang yang saya ceritakan di sini menggambarkan miskinnya kemampuan berbahasa Indonesia di kalangan pejabat, yang notabene cerminan kita, rakyat negeri ini. Keluhan ini dilontarkan oleh hampir seluruh tokoh yang ditulis dalam buku ini.

Jagat Bahasa Nasional berisi pandangan 21 tokoh tentang bahasa Indonesia. Ada empat pokok persoalan yang dilontarkan dalam buku ini kepada mereka, yakni pandangan mereka tentang bahasa Indonesia, sistem pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah, pembentukan bahasa oleh media dan birokrat, dan posisi bahasa Indonesia pada level internasional.

Jangan berharap ke 21 tokoh ini menuliskan sendiri pandangan mereka tentang persoalan yang dilontarkan itu. Para tokoh ini diwawancarai oleh beberapa wartawan terkemuka, seperti Salomo Simanungkalit, Satrio Arismunandar, Ignatius Haryanto, dan Willy Pramudya, yang kemudian menuangkannya ke dalam esai.

Nama-nama yang diwawancara berasal dari kalangan yang beragam, lintas profesi dan lintas generasi. Sebut saja Goenawan Muhammad, Pramoedya Ananta Toer, Aa Gym, dan Pradjoto. Yang terakhir disebut adalah pengamat hukum perbankan yang di tahun 2003 mendapat predikat tokoh masyarakat berbahasa Indonesia lisan terbaik oleh Kongres Bahasa Indonesia VIII bersama Susilo Bambang Yudhoyono, Nurcholis Madjid, dan Eep Syaifulloh Patah.

Beberapa tokoh yang diwawancara memang saya akui bisa menjabarkan pandangan mereka tentang bahasa Indonesia dengan sangat baik. Mereka bisa membeberkan permasalahan yang terjadi pada bahasa Indonesia sekaligus menyodorkan solusi yang saya rasa masuk akal. Meski ada beberapa tokoh yang saya pikir tidak perlu diwawancara di sini. Jusuf Kalla adalah salah satunya, karena secara gamblang dia mengatakan tidak pernah membaca karya sastra selain tugas dari sekolah.

Sayangnya, buku yang memaparkan pandangan tokoh masyarakat tentang bahasa nasional ini dipenuhi dengan kesalahan ketik dan kalimat. Kata bisa acap kali tertulis bias, atau kalimat tak efektif seperti “mantan gubernur pertama” (kalau gubernur pertama pasti sudah mantan), atau kata “dikarenakan” (karena bukan kata kerja, jadi tidak boleh diberi imbuhan), bisa saya temukan hampir di setiap halaman. (lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Saya Gila Sepak Bola, Sepak Bola Memang Gila

“Saya gila bola”. Kalimat pembuka dalam buku ini menggambarkan alasan Franklin Foer untuk menulis buku ini. Sekaligus, menggambarkan kegilaan – kegilaan yang terjadi dalam dunia sepak bola, yang tidak melulu berisikan perjuangan atlet-atlet untuk membawa tim mereka menuju kemenangan.

Tapi sepak bola memang gila. Ini adalah salah satu cabang olahraga yang mampu menyedot fanatisme gila-gilaan dari pendukung sebuah kesebelasan. Pertandingan yang digelar untuk cabang olahraga satu ini bisa dihadiri ratusan ribu penonton. Dua hal yang mungkin hanya bisa disaingi oleh American football dan baseball, olahraga khas orang Amerika.

Sepak bola memang gila. Bayangkan betapa globalisasi lebih dulu terjadi dalam sepak bola ketimbang pikiran politikus dunia. Bagaimana tidak, pemain dari berbagai negara, yang menggunakan bahasa yang berbeda, dan menganut ideologi yang saling berbenturan, mampu secara kompak bekerja sama membela tim mereka. Bahkan, “sepak bola sepertinya lebih akur dengan globalisasi ketimbang perekonomian manapun di muka bumi ini” (hal. ix).

Sepak bola memang gila. Saking gilanya, cabang olahraga ini bisa dianggap merepresentasikan paham yang diusung penguasa. Generalissimo Franco, diktator yang berkuasa di Spanyol tahun 1939 hingga 1975, bersedia memberi amnesti pada pemain-pemain Barcelona FC, hanya agar mereka menelan kekalahan telak 1-11 dari Real Madrid, klub yang dia dukung karena sangat “kanan”. “Jangan lupa bahwa sebagian dari kalian bisa bermain gara-gara kemurahan hati rezim yang mau mengampuni kurangnya rasa patriotisme kalian”, kata sang Jenderal. Perlu diketahui, bagi Franco, Barcelona FC adalah organisasi keempat yang harus disapu habis setelah kelompok komunis, anarkis, dan separatis.

Sepak bola memang gila. Di cabang olahraga ini, konflik agama bahkan dikomersilkan. Ini bisa dilihat pada perseteruan antara pendukung Glasgow Rangers yang kebanyakan menganut Protestan dengan pendukung Glasgow Celtics yang turun temurun menganut Katolik.

“Pertikaian antara kedua seteru yang menghuni satu kota ini telah menghasilkan kisah-kisah horor persepakbolaan. Ada yang ditolak bekerja karena mendukung tim lawan. Ada fans yang dibunuh karena mengenakan kaos yang salah di lingkungan yang salah. Sepertinya, tidak ada yang lebih dibenci selain tetangga sendiri. Tapi perseteruan Celtic dengan Rangers lebih dari sekedar kebencian terhadap orang terdekat. Inilah perang yang belum tuntas antara Katolik dengan gerakan Reformasi Protestan” (hal. 31).

Padahal, anggota kedua tim belum tentu merepresentasikan agama yang dianut para pendukung mereka. Suporter Glasgow Rangers pernah diprovokasi untuk menyanyikan lagu anti-Katolik oleh kapten kesebelasan Lorenzo Amoruso. Amoruso sendiri berasal dari Italia dan beragama Katolik! Sejak akhir 90an, tim Rangers rutin mengontrak pemain Katolik yang jumlahnya sama banyak dengan Celtic. Uang bisa membeli apa saja, dan juara lebih penting daripada kemurnian agama (hal. 34).

Sepak bola memang gila. Cabang olahraga ini bisa menggambarkan bagaimana cecunguk-cecunguk merapok aset negara. Hal ini dialami berkali-kali oleh Edson Arantes do Nascimento, atau yang kita kenal dengan nama Pele. Pemain kelahiran Tres Coracoes ini dipakai oleh pemerintah Brasil sebagai simbol lonjakan ekonomi negara mereka.
Karir Pele melonjak setelah tendangannya menembus pertahanan kiper Swedia Anders Svensson, dan menghantarkan Brasil merebut Piala Dunia 1958. Namun prestasi besar menghalangi Pele untuk berangkat berlaga di liga-liga Eropa, seperti yang dilakukan Ronaldo dan Ronaldinho. Rezim Juscelino Kubitschek menyatakan Pele sebagai “kekayaan nasional yang tidak untuk diekspor”. Pele lantas jadi bulan-bulanan para penjilat yang menguras uangnya. “Sekali lagi, setelah semua peringatan dan pengalaman buruk itu, saya tanda tangani sesuatu yang tidak seharusnya saya tanda tangani”, tulis Pele dalam memoar tahun 1977 (hal. 118).

Dan sepak bola memang gila. Kegilaan para suporter, yang sempat disebut Margareth Thatcher sebagai “aib manusia yang beradab” seperti tak cukup sampai menghujat pemain dan wasit bila tim kesayangan mereka kalah. Bagi segudang sosiolog, seperti Susan Faludi, kerusuhan sepak bola memberi kesempatan bagi pria-pria tertekan, yang tercabut dari kerja tradisionalnya dan ditumbangkan dari martabat patriarkinya, untuk mememgang kendali. “Kalau para suporter ini berkubang dalam rasisme dan nasionalisme radikal, itu karena ideologi-ideologi tersebut berfungsi sebagai kiasan bagi kehidupan pribadi mereka. Bangsa dan ras mereka telah dikorbankan oleh dunia, sama buruknya seperti hidup mereka sendiri”.

Sekali lagi sepak bola memang gila. Mungkin kegilaan ini yang menyebabkan seorang Nurdin Khalid kukuh memegang jabatannya sebagai ketua PSSI, meski harus lewat penjara. Gila, mungkin hanya di Indonesia hal ini bisa terjadi. Sepak bola memang gila. Kegilaan ini yang membuat kehidupan seorang atlet tak cukup sekedar berlatih dan bermain dengan baik. Sorotan suporter yang akan mengamuk bila mereka kalah, dan sorotan media terhadap kehidupan mereka yang bisa jadi membuat mereka gila betulan.

Terakhir, sepak bola memang gila. Tapi semoga saja kegilaan komersialisasi, korupsi, globalisasi, dan selebritas yang dihadirkan Franklin Foer dalam buku ini hanya sedikit merepresentasikan kegilaan yang terjadi dalam seluruh aspek kehidupan di dunia yang semakin menggila.

Judul buku: Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim tentang Sosial-Politik Globalisasi
Penulis: Franklin Foer, Alfinto Wahhab (penerjemah)
Judul Asli: How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 248
ISBN: 9799998069

Leave a comment

Filed under Journalistic, Uncategorized

Room: a review

RoomRoom by Emma Donoghue
My rating: 5 of 5 stars

I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken, to meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

LIFE IS AN ADVENTURE

The poem is an infant formula’s advertisement. It might be the only ad that I have waited when I was watching the TV. You can watch it here.

Every day and everything might be an adventure for kids: flashlight, dews, ants’ marching, rain, or even new words. But can you imagine if you have to take the adventure in an eleven-feet-by-eleven-feet room in the first five years of your life?

It happened to Jack. Room is the only world he knows. It is the place where he lives in with her Ma. He builds friendships with Rug, Bed, Table, Sink, Bath, and everything in the Room. I think kids know best how to enjoy the life.

Later on, Jack finds out that the life hides more adventures outside the Room. He found out the world outside the Room is weird, because he thought that everything outside the Room is not real. He must learn something new each day in the Outside, so some times he thought about going back to the Room and live with Ma forever in there. For me, this explains why some people choose to build walls around them. They are afraid of losing the comfort of their present world, and reluctant to find the new world.(lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Fiksi, Uncategorized