Other Colors: a review

Other ColorsOther Colors by Orhan Pamuk
My rating: 4 of 5 stars

Why should I concern about banned books?

I was very surprised by the question because it came from a writer (wanna be?) whom I met at a gathering a year ago. When I asked if it happened to him, he could not say anything.

I recalled the occurrence when I read these sentences: “many writers we respect and value have chosen to take up forbidden topics purely because the very fact of prohibition was an injury to their pride” and “when another writer in another house is not free, no writer is free” (page 182). I think the sentence was kind of Pamuk’s reaction after he was trialed for “publicly denigrated Turkish identity”, and how he sees about freedom of expression. “I believe freedom of expression to be so important – because it allows us to discover the hidden truths of the societies in which we live”, he wrote in this book.

Banned books and freedom of expression were only two of many things I can learn from this books. Some other are including writing novels: “To write a novel is to be open to desires, winds, and inspirations, and also to dark recesses of our minds and their moments of mist and stillness,” (page 7) and “A writer’s progress will depend on to a large degree on having read good books. But to read well is not to pass one’s eyes and one’s mind slowly and carefully over a text: it is to immerse oneself utterly in its soul. This is why we fall in love with only a few books in a lifetime.” (lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pulang: Sebuah Resensi

PulangPulang by Leila S. Chudori
My rating: 4 of 5 stars

“Rumah adalah tempat di mana aku bisa merasa pulang”.

Pulang. Aktivitas ini terkadang menuntut banyak tenaga, usaha, biaya, dan – bahkan – airmata. Tapi buat sebagian orang, pulang harus dilakukan, minimal satu tahun sekali saat hari raya. Mahalnya harga tiket, macet, dan saling sikut demi memperebutkan bangku penumpang di angkutan umum pun rela dilakukan. Semuanya demi pulang.

Pulang bisa dipicu oleh keterikatan dengan akar. Agustinus Wibowo dalam “Garis Batas” (2011) menuliskan bahwa orang rela melakukan perjalanan pulang selama hayat dikandung badan untuk mencari “akar”nya. Ia akan merunut leluhurnya, mencari lokasi nenek moyangnya terlahir, mempertanyakan sejarahnya, lalu menemukan “akar” tempatnya melekatkan diri.

Adalah Dimas Suryo, seorang eksil yang terpaksa bermukim di Paris, Prancis. Dimas Suryo adalah satu butiran gelombang manusia Indonesia yang tidak bisa pulang kala Tragedi 1965 meletus. Bukan hanya tidak bisa pulang. Kehidupan Dimas Suryo tak bisa lepas dari pengamatan intel. Hidupnya bergantung pada belas kasihan LSM dan pemerintah Prancis. Keadaan ini membuat Dimas Suryo gerah, sehingga mendorongnya untuk mendirikan restoran khas Indonesia bersama teman-temannya, sesama eksil.

Pulang bisa berarti membuka lagi kenangan lama, pahit dan manis, gembira dan luka. Tapi pulang bisa juga berarti membuka aib, menguak identitas diri yang berusaha ditutupi. Ini terjadi pada diri Rama. Kemenakan Dimas Suryo ini merasa tertimpa “sial” karena ayahnya, Aji Suryo, terpaksa menerima gelar ET, Eks Tapol, akibat aktivitas politik Dimas Suryo. Gelar ini menyakitkan yang menerimanya, menyempitkan ruang gerak, dan bahkan menghilangkan kesempatan dalam mencari mata pencaharian. Rama berusaha menutupi identitas keluarganya ini, dengan menghapus nama keluarga dari dirinya. Apa daya. Seberapa pun besar dan kokoh sebatang pohon, dia harus tetap bertumpu pada akarnya. Siapa Rama, siapa Aji Suryo, pada akhirnya terkuak.

Pulang mudah untuk dilakukan oleh mereka yang memiliki akar yang jelas. Meski visanya setiap tahun ditolak, Dimas Suryo tahu ke mana dia ingin pulang. Meski berusaha ditutupi, Rama sebenarnya tahu dia ingin berlari dari rumah yang mana, dan tak ingin pulang. Bagaimana dengan mereka yang diwarisi dua akar? Lintang menghadapi dilema ini. Lintang Utara, putri semata wayang Dimas Suryo dan Vivienne Deveraux. Mudah bagi Lintang untuk menyatakan bahwa Paris adalah rumahnya, karena di kota itu dia dilahirkan. Tapi ayahnya, Dimas Suryo, selalu menyatakan keinginannya untuk pulang. Paris hanyalah tempat persinggahannya sebelum benar-benar kembali ke rumahnya yang sebenarnya, Indonesia. I.N.D.O.N.E.S.I.A. Negeri yang hanya bisa dibayangkan Lintang melalui cerita ayahnya dan teman-teman Dimas Suryo di Restoran Tanah Air. Negeri yang pada akhirnya bisa dia datangi, justru di saat negeri itu dibalut – sekali lagi – tragedi.

Novel terbaru Leila S. Chudori ini memaparkan derita korban Tragedi 1965 dari sudut pandang generasi pertama dan kedua. Tak sekedar mengajak kita menengok sejarah kelam yang penyelesaiannya belum juga tuntas hingga saat ini, “Pulang” juga mengajak kita berpikir ulang mengenai paham-paham yang selama ini dicekoki pemerintah Orde Baru, terutama mengenai komunisme dan marxisme. Berpikir ulang menuju pembebasan dari segala hal yang melekat pada diri seseorang. “Kenapa kita harus bergabung dengan salah satu kelompok hanya untuk menunjukkan sebuah keyakinan?” (Hal. 43). Pembebasan yang diharapkan bisa menjadi solusi bagi meningkatnya militansi kelompok tertentu yang secara konsistensi memaksakan paham mereka terhadap kelompok lain, yang menafikan keberadaan paham yang dianut kelompok minoritas. Pemaksaan yang pada akhirnya menimbulkan diskriminasi dan kekerasan.

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Fiksi, literature

Trash: antara pemulung dan koruptor

Trash - Anak-Anak PemulungTrash – Anak-Anak Pemulung by Andy Mulligan
My rating: 4 of 5 stars

Pernahkah terbayangkan, seperti apa hidup di tempat pembuangan sampah akhir? Seorang teman yang dulu sempat membuka sekolah untuk anak-anak yang tinggal di Bantar Gebang, tempat pembuangan sampah akhir untuk wilayah Jakarta, pernah bercerita, betapa anak-anak itu bisa dengan tepat membedakan truk-truk yang datang dari pasar induk, misalnya, dengan truk-truk yang datang dari wilayah elit di Jakarta seperti Pondok Indah dan Menteng.

Bila truk yang datang mengangkut sampah dari wilayah-wilayah elit itu, anak-anak pemulung yang tinggal di Bantar Gebang akan segera berlarian menghampiri truk itu. Bukan karena mengangkut banyak benda yang bisa mereka jual kembali dengan harga tinggi, tapi truk tersebut banyak membawa makanan sisa yang enak-enak, untuk mereka makan….

Saya teringat dengan cerita tadi saat membaca buku ini. Raphael Fernandez, Garbo, dan Jun – atau Tikus – tinggal di Behala, sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Filipina. Awalnya, saya berpikir buku ini menceritakan semacam roman yang berisi kisah hidup ketiga anak tersebut, yang berujung bahagia. Bertemu lagi dengan orang tua mereka, misalnya.

Namun ceritanya justru jauh dari yang saya bayangkan. Raphael, Garbo, dan Tikus terlibat dalam sebuah petualangan yang berbahaya setelah Raphael menemukan sebuah tas berisi uang, surat, dan peta. Orang-orang yang tinggal di Behala kemudian harus berurusan dengan polisi yang mencari tas tersebut. Raphael bahkan sempat diseret ke kantor polisi dan dipukuli.

Isi tas itu ternyata bukan sekedar uang yang dihabiskan oleh Raphael untuk berfoya-foya. Tapi ada kunci yang bisa menguak kasus korupsi terbesar yang pernah terjadi di negara itu, dan melibatkan wakil presidennya. Pemilik tas tersebut pun ternyata korban pembunuhan, yang belakangan diketahui tewas saat diperiksa oleh polisi.

Bagaimana akhir dari cerita ini, baca sendirilah. Yang jelas saya betul-betul menikmati cerita di setiap halamannya. Menegangkan! (lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Fiksi

Tablet and Pen: Landscaping Literature of the Modern Middle East

Tablet & Pen: Literary Landscapes from the Modern Middle EastTablet & Pen: Literary Landscapes from the Modern Middle East by Reza Aslan
My rating: 4 of 5 stars

I feel like riding a magic rug when I read this book. It did not only take me to fly over the Arabian and Persian desert, India and its neighbouring countries, or Turkey. It also brought me to prominent authors of the land of the twentieth century. First, it brought you to meet Kahlil Gibran. But this famous poet did not present his poems. He described about The Future of the Arabic Language. Some of his words are:

The Western Spirit is at once our friend and our enemy. It is a friend if we can vanguish it and an enemy if it can vanquis us, a friend if we can open our hearts to it and an enemy if we offer it our hearts, a friend if we borrow from it that suits us and an enemy if we place ourselves in situations that suit it.(p. 8)

This book also describes about Persian Literature, and how politics influenced its movement. First of all, this section mentions that Persian Literature is perhaps the oldest and the most accomplished premodern literature of the Middle East.

Next, Pakistan and Independence of Urdu Literature comes up. One of short stories that are categorised here is telling about an activist of independence movement who must deal with the reality. He left the underground movement and lived an “ordinary life”. Something that I often hear about in this country.

All of authors whose works are chosen by editor of this book have something in common: they experienced repressive government. But not all of the works tell about sorrow. Some of them are even funny, like this one:

Announcer: what’s your name, brother?
Young man: Abd al-Mun’im al-Halabi
Announcer: are you married?
Young man: no, I’m a bachelor
Announcer: what’s your job?
Young man: I’m unemployed
Announcer: why aren’t you working? Are you rich or don’t you like working?
Young man: No, I’m not rich, and I don’t dislike work. I’ve been looking for work for years.
Announcer: what’s the one wish you would like to see granted?
Young man: to die now.
Announcer: dear listeners, our brother Abd al-Mun’im al-Halabi is obviously a zealous patriot. As you notice, in longing for death he actually wants to punish himself for not participating in the construction of our developing and ever-advancing society. (Lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under literature

Di Balik Burqa

Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang AfghanistanSelimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Kalimat tadi dilontarkan beberapa perempuan Afghanistan saat disodorkan foto-foto perempuan Malaysia yang sibuk bekerja di pabrik dan sawah. Kaum perempuan di Pastun dari Kandahar, satu wilayah di Afghanistan, sudah terbiasa hidup nyaman tersembunyi di sudut rumah dan di balik burqa. Hidup nyaman di bawah ketiak suami. Tak perlu lagi bekerja atau melepas kenyamanan burqa. Rasa aman yang ditawarkan selubung burqa muncul dalam bentuk persembunyian. Dunia luar penuh bahaya. Tak ada tempat yang lebih baik daripada rumah dan burqa. Selubung ini memberi perlindungan, rasa aman, terhadap jiwa yang sebenarnya dirundung ketakutan. (hal. 155)

Dunia luar penuh bahaya…. Kalimat yang ditulis dalam buku ini betul-betul berbeda dengan satu berita yang pernah saya tulis: “Afghanistan, Negara Paling Tidak Kondusif untuk Perempuan”. Berita yang diangkat dari laporan Trustlaw, sebuah divisi dari Thomson Reuters Foundation yang diumumkan sekitar pertengahan tahun lalu ini menempatkan Afghanistan sebagai negara yang paling berbahaya untuk ditinggali perempuan. Tradisi nikah paksa, sunat perempuan, dan hukum rajam yang sering dilakukan terhadap perempuan adalah alasannya.

Bab “Di Balik Burqa” dalam buku ini adalah bab yang paling menarik untuk saya. Selama ini, saya disuapi oleh kekejaman pria-pria Afghanistan terhadap kaum perempuan mereka. Perempuan yang hidungnya dipotong karena kabur dari rumah, padahal dia melarikan diri dari kekerasan yang dilakukan suaminya; perempuan di usia awal belasan tahun yang dipaksa menikah; hukum rajam terhadap perempuan korban perkosaan; “justifikasi” terhadap perilaku seks antara laki-laki dengan laki-laki (karena butuh mahar selangit untuk menikahi perempuan, sementara seks bebas dilarang), adalah berita-berita yang biasa saya baca mengenai Afghanistan.

Padahal…”dunia ini begitu nisbi. Konsep nilai yang menjadi standar hidup kita pun nisbi. Mana yang benar, mana yang salah, semua nisbi, tergantung dari siapa yang bicara, pemerintah mana yang membuat hukum, atau adat mana yang berlaku.” (hal. 382).

Perempuan dalam burqa bebas melihat dunia, walaupun semuanya dilihat melalui kotak-kotak jaring seperti mata faset lalat buah. Dia mengintip dunia, tapi dunia tak bisa mengintipnya. Dia tak berwajah, tak berwujud, jati dirinya terbungkus rapat. Dia anonim, dia menjadi manusia tembus pandang.

Bagi sebagian orang, dia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain, dia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali patriarkatnya menjadi perempuan anonim di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.

Kesalahpahaman terhadap burqa – dan pandangan mengenai kesetaraan gender – di Afghanistan yang sering dipaksakan oleh Barat ini membuat geram Nancy Hatch Dupree, penulis An Historical Guide to Afghanistan. “Kesetaraan gender itu sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional Afghanistan… tak perlu lagi para ahli-ahli ini mendatangkan konsep asing yang malah bertubrukan dengan nilai-nilai yang mereka anut,” kata Nancy Dupree. (hal.77)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Journalistic, Memoir

70 Tahun Lima Sekawan: Nafas Panjang Enid Blyton

Dick dan Julian melangkah ke luar, sambil bersiul-siul. Bu Philpot sudah masuk ke kamarnya. Hanya Anne, George dan Timmy yang masih tinggal di dapur.

“Aku agak menyesal datang kemari,” kata George, sambil membawa piring-piring kotor ke tempat cuci. “Banyak sekali pekerjaan Bu Philpot sekarang. Tapi – dia juga perlu uang…”

“Yah – kita kan bisa membantunya,” kata Anne. “Dan kita juga sudah berniat untuk selalu pergi seharian. Jadi tak usah sering-sering bertemu muka dengan Junior.”

Dick, Julian, George, Anne dan Timmy. Kelima nama itu agaknya akrab dengan orang-orang yang berusia menjelang remaja di era 1980an. Pada masa itu, khalayak pembaca di Indonesia, khususnya anak-anak, ramai membicarakan petualangan mereka melalui serial Lima Sekawan yang ditulis penulis Inggris, Enid Blyton.

Petualangan berbau detektif ini terbit pertama kali pada 24 Februari 1942, saat Enid Blyton merilis judul pertama dari serial ini: Five on a Treasure Island (Lima Sekawan: Di Pulau Harta). Ini berarti, serial yang niatnya hanya dibuat enam judul ini telah berusia 70 tahun.

Sukses di pasaran mendorong Enid Blyton untuk meneruskannya hingga 21 judul, termasuk Lima Sekawan: Memperjuangkan Harta Finniston yang salah satu adegannya dikutip di awal tulisan ini.

Lima Sekawan terus mencetak angka penjualan yang fantastis. Pada akhir 1953, serial ini laku hingga enam juta kopi sejak pertama diterbitkan, dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kesuksesan ini juga diikuti dengan serial TV The Famous Five yang ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Serial ini menyodorkan kisah tiga kakak beradik (Julian, Dick dan Anne), satu sepupu (George – singkatan dari Georgina), dan seekor anjing (Timmy) yang bertemu setiap liburan. Kelimanya kemudian tanpa sengaja tersangkut misteri yang selalu berhasil mereka pecahkan.

Misteri yang disodorkan Enid Blyton dalam petualangan kelimanya bukanlah misteri pelik. Persoalan yang muncul “hanyalah” bagaimana menyembunyikan hasil penemuan Profesor Kirrin, ayah George, agar tidak dicuri oleh pihak yang ingin menyalahgunakan penemuan tersebut (Lima Sekawan: Menyamarkan Teman). Atau menyelamatkan harta keluarga (Lima Sekawan: Di Pulau Harta).

Tapi penyelesaian yang dilakukan tetap khas anak-anak dan tidak pernah melampaui kemampuan mereka, atau sesuatu jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Kemahiran yang mereka butuhkan cukup dengan menggunakan pisau lipat, memanjat pohon, atau kejelian menelaah satu peristiwa.

Hal tersebut tentunya berbeda jauh dengan serial yang melejit dalam dua dekade belakangan ini, di mana anak-anak disuguhkan dunia yang sama sekali berbeda dengan kenyataan, seperti dunia penyihir (Harry Potter) dan vampir (Twighlight). Ketiadaan jarak dengan kehidupan anak-anak inilah yang mungkin membuat Lima Sekawan mampu untuk tetap “hidup” hingga tujuh dekade.

Bagi pembaca di luar Inggris, membaca Lima Sekawan secara tidak langsung memberi gambaran mengenai kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat Inggris. Bagaimana mereka menghidangkan teh, atau keranjang piknik yang senantiasa berisi kue jahe dan limun, atau bagaimana anak-anak di Inggris bisa bebas menggunakan ruang publik seperti pantai, hutan, dan bahkan pulau kecil.

Meski mencetak sukses, Lima Sekawan bukannya bebas dari kritik, terutama yang ditujukan pada sang penulis yang lahir pada 11 Agustus 1897 ini. Sebagai penulis, Blyton dituding tidak bisa menulis.

Tulisannya acak-acakan. Belum lagi tudingan rasisme yang kerap muncul dalam karyanya – mendeskriditkan orang-orang gipsi dan berkulit berwarna, yang selalu digambarkan sebagai pencuri dan orang licik.

Nyatanya, tudingan itu tidak menghentikan anak-anak di seluruh dunia untuk membaca serial ini. Dalam beberapa tahun belakangan, serial Lima Sekawan laku hingga dua juta kopi setiap tahunnya. Bukan itu saja, Enid Blyton dipandang sebagai penulis yang paling produktif. Blyton, yang meninggal dunia pada 28 November 1968, telah menulis lebih dari 600 buku anak-anak, dan dikabarkan mampu menulis hingga 10.000 kata per hari.

Dalam perayaan 70 tahun terbitnya serial ini, penerbit Hodder Children’s Book menerbitkan ulang Lima Sekawan dengan ilustrasi baru yang dibuat Quentin Blake. Selama ini, Quentin Blake dikenal sebagai ilustrator untuk buku-buku yang ditulis Roald Dahl. Dalam proyek ini, Blake bekerja sama dengan Helen Oxenbury, Emma Chischester Clark, Oliver Jeffers, dan Chris Riddell. “Blake sangat antusias untuk mengeksplorasi ide-ide yang berkaitan dengan Lima Sekawan bersama lima ilustrator paling favorit di Inggris,” kata Anne McNeill, seperti ditulis guardian.co.uk.

Di Indonesia, Lima Sekawan marak menghiasi dunia perbukuan di era 1980an bersama karya Enid Blyton lain seperti Sapta Siaga (Secret Seven) dan Pasukan Mau Tahu (The Five Find). Pada masa itu, serial-serial karya Enid Blyton bersaing ketat dengan serial petualangan remaja karya penulis lokal seperti serial Noni yang ditulis Bung Smas atau Penjelajah Antariksa karya Djokolelono.

Kenyataan bahwa Lima Sekawan mampu bertahan hingga tujuh dekade kemudian menimbulkan pertanyaan. Mengapa serial yang dihasilkan penulis lokal, yang pada dekade 1980an mampu bersaing, sekarang malah tenggelam dan bahkan mulai dilupakan orang.

Ketiadaan niat dari penerbit untuk “memelihara” penulis serial asal negeri sendiri hingga ketidakmampuan penulis untuk menghasilkan tulisan yang mampu bertahan lama menambah panjang deretan pekerjaan rumah yang harus dilakukan, termasuk memupuk minat membaca masyarakat yang senantiasa dikatakan rendah.(*)

Foto: guardian.co.uk

Dimuat di: http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=5457

Leave a comment

Filed under Children Book, Fiksi

Mystery of Edwin Drood: Sebuah Ulasan

The Mystery of Edwin Drood (Modern Library Classics)The Mystery of Edwin Drood by Charles Dickens
My rating: 4 of 5 stars

“I call my book the Mystery, not the History of Edwin Drood.”

Kalimat itu diucapkan Dickens pada saudara iparnya, Georgina Hogart. Mystery of Edwin Drood – pada akhirnya – memang jadi misteri. Ini adalah novel yang tidak sempat diselesaikan Dickens karena keburu meninggal.

Penulisan Mystery of Edwin Drood pun dilingkupi oleh misteri di sekitar diri Charles Dickens sendiri. Sang penulis seperti merasa ajalnya sudah dekat saat menulis novel ini. Kate, putri Dickens, mengatakan bahwa pemikiran Dickens terlihat jauh lebih terang selama menulis novel ini.

Novel ini menceritakan menghilangnya Edwin Drood yang entah pergi tanpa pesan atau meninggal karena dibunuh. Paman Edwin, Jasper, menuduh Neville Landless telah membunuh kemenakannya, karena Jasper menyaksikan pertengkaran antara Neville dan Edwin beberapa malam sebelum Edwin Drood hilang.

Intrik-intrik kemudian bermunculan. Tapi semuanya dituangkan dengan cara khas Dickens: suasana musim dingin di Inggris yang serba muram, atau detil-detil tempat dan karakter yang sangat dalam.

Namun akhir dari novel ini memang serba menggantung – karena memang belum selesai. Saya masih bertanya-tanya apa sebetulnya posisi Tartar, seorang pensiunan angkatan laut yang muncul di tengah cerita, atau siapa Mr Datchery yang tiba-tiba muncul di Cloisterham. Tapi hal menggantung itu tidak mengganggu saya membaca sentilan-sentilan Dickens terhadap situasi yang ada di sekelilingnya pada masa itu.

Dickens memang dikenal atas kritikan-kritikan yang tertuang dalam novelnya, seperti ketidaktegasan penegakkan hukum dalam Oliver Twist, sekolah yang brutal dalam Pickwick Papers dan Bleak House, birokrasi pemerintahan – termasuk nepotisme – dalam Little Dorrit, dan utilitarianisme yang ekstim dalam the Hard Times.

Sikap Dickens yang tertuang dalam setiap karyanya mungkin mendapat pengaruh dari karirnya sebagai reporter Mirror of Parliament (1831-32). Semasa melakoni pekerjaan itu, Dickens menyaksikan langsung perdebatan nasional di Inggris yang pada akhirnya melahirkan the Great Reform Act (1832), yang disebut-sebut sebagai pintu menuju demokrasi moderen.(lits)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Fiksi, literature