Tag Archives: Agustinus Wibowo

Titik Nol: Sebuah Resensi

Titik Nol: Makna Sebuah PerjalananTitik Nol: Makna Sebuah Perjalanan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

Jadi, inilah klimaks dari catatan perjalanan yang disusun Agustinus Wibowo. Berbeda dengan dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, yang menyuguhkan gegap gempita sebuah perjalanan, Titik Nol lebih banyak berisi racauan Agustinus sebagai seorang pejalan yang telah lama pergi dari rumah.

Racauan Agustinus ini adalah khas seorang pejalan yang mengalami titik nol. Betapa perjalanan dirinya untuk melebur ke dalam diri masyarakat yang baru dia temui, untuk kemudian dia lepas lagi di tempat yang baru.

Tapi justru setelah mengalami titik nol, seseorang bisa merasa terlahir kembali. Segala beban dari masa lalu, yang terbawa dari masa lalu, bisa dilepas. Langkah menuju hari baru pun terasa lebih ringan. Seperti halnya deret bilangan yang membutuhkan angka nol: satuan membutuhkan angka nol untuk menjadi puluhan, puluhan membutuhkan angka nol baru untuk menjadi ratusan, dan seterusnya.

Mungkin itu sebabnya agama menyarankan umatnya untuk melakukan ziarah. Karena selama ziarah, seseorang dipaksa untuk melepas segala atribut yang melekat pada dirinya, atribut yang mengusung ego dan kenyamanan yang melenakan. Semuanya hilang, larut ke titik nol, membuat diri tak lebih besar dari setitik debu yang ada di gurun kehidupan. Makna yang sayangnya sering terlupakan oleh mereka yang pulang dari ziarah. Ziarah menjadi satu kebanggaan, satu atribut baru yang dianggap menambah derajat diri mereka dibanding manusia lain. Padahal, “ziarah bukan pembuktian diri, bukanlah penaklukan tantangan, bukan penyingkapan misteri. Tak ada kebanggaan pasca ziarah” (hal 52).

Terlepas dari segala pujian untuk buku ini, ada dua ganjalan kecil yang saya temukan: “Mereka pun belum pernah melihat sisi lain dari danau yang sama, karena itu tanah sama sekali terlarang” (hal. 34). Itu tanah atau tanah itu? Serta “Sang petualang mengisahkan, semenjak meninggalkan padepokan sang pertapa, betapa sedih dianya mendengar tragedi pembantaian di zaman pemerintahan Indira Gandhi, … (hal 261). Betapa sedih dianya atau sedihnya dia?  (lits)

View all my reviews

2 Comments

Filed under Memoir, Travelling

Di Balik Burqa

Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang AfghanistanSelimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan by Agustinus Wibowo
My rating: 4 of 5 stars

“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Kalimat tadi dilontarkan beberapa perempuan Afghanistan saat disodorkan foto-foto perempuan Malaysia yang sibuk bekerja di pabrik dan sawah. Kaum perempuan di Pastun dari Kandahar, satu wilayah di Afghanistan, sudah terbiasa hidup nyaman tersembunyi di sudut rumah dan di balik burqa. Hidup nyaman di bawah ketiak suami. Tak perlu lagi bekerja atau melepas kenyamanan burqa. Rasa aman yang ditawarkan selubung burqa muncul dalam bentuk persembunyian. Dunia luar penuh bahaya. Tak ada tempat yang lebih baik daripada rumah dan burqa. Selubung ini memberi perlindungan, rasa aman, terhadap jiwa yang sebenarnya dirundung ketakutan. (hal. 155)

Dunia luar penuh bahaya…. Kalimat yang ditulis dalam buku ini betul-betul berbeda dengan satu berita yang pernah saya tulis: “Afghanistan, Negara Paling Tidak Kondusif untuk Perempuan”. Berita yang diangkat dari laporan Trustlaw, sebuah divisi dari Thomson Reuters Foundation yang diumumkan sekitar pertengahan tahun lalu ini menempatkan Afghanistan sebagai negara yang paling berbahaya untuk ditinggali perempuan. Tradisi nikah paksa, sunat perempuan, dan hukum rajam yang sering dilakukan terhadap perempuan adalah alasannya.

Bab “Di Balik Burqa” dalam buku ini adalah bab yang paling menarik untuk saya. Selama ini, saya disuapi oleh kekejaman pria-pria Afghanistan terhadap kaum perempuan mereka. Perempuan yang hidungnya dipotong karena kabur dari rumah, padahal dia melarikan diri dari kekerasan yang dilakukan suaminya; perempuan di usia awal belasan tahun yang dipaksa menikah; hukum rajam terhadap perempuan korban perkosaan; “justifikasi” terhadap perilaku seks antara laki-laki dengan laki-laki (karena butuh mahar selangit untuk menikahi perempuan, sementara seks bebas dilarang), adalah berita-berita yang biasa saya baca mengenai Afghanistan.

Padahal…”dunia ini begitu nisbi. Konsep nilai yang menjadi standar hidup kita pun nisbi. Mana yang benar, mana yang salah, semua nisbi, tergantung dari siapa yang bicara, pemerintah mana yang membuat hukum, atau adat mana yang berlaku.” (hal. 382).

Perempuan dalam burqa bebas melihat dunia, walaupun semuanya dilihat melalui kotak-kotak jaring seperti mata faset lalat buah. Dia mengintip dunia, tapi dunia tak bisa mengintipnya. Dia tak berwajah, tak berwujud, jati dirinya terbungkus rapat. Dia anonim, dia menjadi manusia tembus pandang.

Bagi sebagian orang, dia tampak sebagai kurungan. Bagi yang lain, dia adalah perlindungan. Di negeri yang kental sekali patriarkatnya menjadi perempuan anonim di jalan yang dipadati kaum lelaki beringas sangat banyak faedahnya.

Kesalahpahaman terhadap burqa – dan pandangan mengenai kesetaraan gender – di Afghanistan yang sering dipaksakan oleh Barat ini membuat geram Nancy Hatch Dupree, penulis An Historical Guide to Afghanistan. “Kesetaraan gender itu sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional Afghanistan… tak perlu lagi para ahli-ahli ini mendatangkan konsep asing yang malah bertubrukan dengan nilai-nilai yang mereka anut,” kata Nancy Dupree. (hal.77)

View all my reviews

Leave a comment

Filed under Journalistic, Memoir